Demokrat ingin proyek perpustakaan mewah DPR tak dipaksakan
"Kita kembali kepada perorangan, bagaimana sikap dan sifat seluruhnya," kata Agus Hermanto.
Pro kontra rencana pembangunan perpustakaan DPR masih terjadi di parlemen. Rencana membangun perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara ini dinilai sangat berlebihan.
Wakil Ketua DPR Agus Hermanto mengatakan, harus ada kesepahaman bersama mengenai rencana ini mengingat anggaran yang direncanakan bukan dalam jumlah sedikit yakni Rp 570 miliar. Jika dipaksakan, kata Politikus Demokrat ini, rencana ini pasti akan mendapat penolakan terus-menerus.
"Begitu pun juga dipaksa masih banyak hal yang belum selaras. Ini hanya satu pandangan, akan melupakan suatu hal yang baik jika kita mempunyai perusahaan terbesar se-Asia Tenggara," kata Agus di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/4).
Di sisi lain, Agus mempertimbangkan perlunya memasukan konsep perpustakan digital ketimbang perpustakan konvensional. Mengingat usulan yang ada belum disetujui oleh seluruh fraksi di DPR.
"Sekarang adalah era digital kenapa nggak ke digital? Apakah ini diwujudkan atau tidak jangankan di masyarakat diverifikasi DPR pun juga belum?" tukas dia.
Rencana membangun perpustakaan ini memang dinilai sangat berlebihan. Sebab, tidak semua anggota DPR menghubungi perpustakaan yang lama.
"Kita kembali kepada perorangan, bagaimana sikap dan sifat seluruhnya," pungkas dia.
Baca juga:
Daripada perpustakaan, ketua BURT DPR lebih pilih gedung DPR baru
Fadli desak Akom minta maaf karena bilang anggota DPR sesat pikiran
Sidang paripurna dibuka, Gerindra interupsi tolak perpustakaan DPR
Proyek siluman perpustakaan DPR RI se-Asia Tenggara Rp 570 miliar
Ketua DPR lebih setuju bikin perpus ketimbang naikkan dana parpol
Suasana perpustakaan DPR, anggota jarang datang padahal buku banyak
Dimyati ingin perpustakaan DPR seperti milik Parlemen Amerika