Warga Agam Lewati Material Banjir Bandang Demi Silaturahmi Lebaran
Meski jalanan dipenuhi sisa material Banjir Bandang Agam, warga Nagari Maninjau tetap gigih menjalin silaturahmi Lebaran. Simak perjuangan mereka di tengah tantangan pascabencana.
Agam, Sumatera Barat – Semangat silaturahmi Hari Raya Idul Fitri tidak luntur di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, meskipun warga harus berjuang melewati sisa-sisa material banjir bandang. Bencana hidrometeorologi yang melanda akhir November 2025 lalu menyisakan tumpukan batu dan reruntuhan, namun tak menyurutkan niat masyarakat untuk saling berkunjung.
Sejumlah warga di Nagari Maninjau terlihat berupaya keras menjalin tali silaturahmi dengan berjalan kaki melintasi ruas jalan yang kini dipenuhi tumpukan batu dan material sisa banjir bandang. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin mengunjungi sanak saudara di momen Lebaran.
Perjalanan yang seharusnya mudah kini berubah menjadi perjuangan fisik, namun tradisi Lebaran tetap dipertahankan. Mereka menunjukkan ketahanan dan kebersamaan dalam menghadapi dampak bencana yang masih terasa hingga kini.
Perjuangan Warga Menembus Reruntuhan
Warnida, salah seorang warga Agam, menceritakan pengalamannya saat mencoba bersilaturahmi dengan kerabat suaminya. Ia bersama keluarganya memilih jalur alternatif berupa jalan kecil yang dipenuhi tumpukan bebatuan di sisi kiri dan kanannya, berharap dapat lebih cepat sampai tujuan. Namun, di tengah perjalanan, mereka terpaksa berbalik arah karena genangan air yang cukup dalam dan memanjang, membuat akses menjadi mustahil.
Dalam kondisi sulit tersebut, anaknya harus menggendong bayi, menambah beratnya perjalanan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke jalur utama meski waktu tempuh menjadi lebih lama dari perkiraan. Jembatan kecil di sekitar lokasi rumah Warnida juga telah terputus, semakin mempersulit akses menuju rumah saudara.
“Rencana mau ke rumah keluarga. Bagaimana pun dalam keadaan seperti ini, kami tetap melihat sanak saudara, meski suasana sedikit kurang semangat karena keadaan kayak gini. Semoga bisa seperti yang dulu dulu lagi,” ungkap Warnida, menunjukkan semangat tak pantang menyerah.
Ruas jalan yang dilalui Warnida dan keluarganya berada tidak jauh dari aliran sungai yang dipenuhi material batuan besar. Area ini merupakan salah satu titik terparah yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025, menyisakan kerusakan infrastruktur yang signifikan.
Tradisi Lebaran di Tengah Tantangan Banjir Bandang Agam
Meski dihadapkan pada kesulitan akses akibat material Banjir Bandang Agam, tradisi Lebaran tetap hidup di Nagari Maninjau. Tak jauh dari sungai yang dipenuhi reruntuhan, terlihat dua perempuan muda dengan sabar menggendong anak balita mereka. Mereka melintasi jembatan kayu sederhana dan menyusuri tepian sungai, bertekad mencapai rumah kerabat untuk bersilaturahmi.
Pemandangan lain yang menghangatkan hati adalah sejumlah anak usia sekolah dasar yang tampak antusias mengumpulkan uang pecahan baru. Mereka memasukkan uang tersebut ke dalam tas dan saku, melanjutkan tradisi “manambang” yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat saat Lebaran. Anak-anak ini berkeliling dari rumah ke rumah untuk memperoleh Tabungan Hari Raya (THR) dalam bentuk uang kertas baru, menunjukkan bahwa kegembiraan Lebaran tetap dirayakan.
Tradisi ini menjadi simbol ketahanan dan harapan di tengah situasi pemulihan pascabencana. Masyarakat Nagari Maninjau menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan kebahagiaan Idul Fitri tidak dapat dipadamkan oleh dampak Banjir Bandang Agam.
Dampak dan Kerugian Akibat Banjir Bandang Agam
Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 lalu telah menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat Nagari Maninjau, Kabupaten Agam. Dampak Banjir Bandang Agam tidak hanya terbatas pada kerusakan infrastruktur jalan, tetapi juga menghantam sektor permukiman warga.
Berdasarkan data dari Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak 2 unit rumah di Nagari Maninjau dilaporkan hanyut dan hilang. Selain itu, 115 unit rumah lainnya terdampak kerusakan, baik ringan maupun berat. Taksiran kerugian total akibat bencana ini mencapai angka yang signifikan, yaitu Rp44,8 miliar.
Angka kerugian ini mencerminkan skala kerusakan yang luas dan tantangan besar yang dihadapi pemerintah daerah serta masyarakat dalam upaya pemulihan. Upaya rekonstruksi dan rehabilitasi masih terus berjalan, seiring dengan semangat warga yang tetap gigih menjalani kehidupan dan tradisi mereka.
Sumber: AntaraNews