UKI: Kolaborasi Sektor Kesehatan Kunci Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Universitas Kristen Indonesia (UKI) menyoroti pentingnya **kolaborasi sektor kesehatan** dan ekonomi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Temukan bagaimana sinergi ini mendorong kesejahteraan masyarakat.
Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang menyoroti pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan ekonomi sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Akademisi Fakultas Vokasi UKI, Jisman Lubis, menegaskan hubungan timbal balik yang kuat antara kedua bidang ini. Kondisi kesehatan masyarakat yang prima secara langsung meningkatkan produktivitas nasional.
Jisman Lubis, seorang akademisi dari UKI, menyatakan bahwa kolaborasi transdisipliner dan lintas sektoral sangat krusial. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi kesenjangan sosial serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Kolaborasi ini mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu akademik dengan pengetahuan praktisi.
Kuliah umum yang diselenggarakan oleh Badan Pekerja Senat Mahasiswa (BPSM) Fakultas Vokasi UKI pada Kamis (5/3) membahas topik ini. Kegiatan tersebut bertajuk "Transdisciplinary and Transcollaborative Synergies Between Health and Economics" yang digelar di Ruang Seminar UKI Jakarta. Diskusi ini menekankan peran vital **kolaborasi sektor kesehatan** dalam menghadapi tantangan era modern.
Pentingnya Sinergi Kesehatan dan Ekonomi untuk Produktivitas Nasional
Jisman Lubis menjelaskan bahwa kesehatan masyarakat yang baik merupakan fondasi utama bagi peningkatan produktivitas. Produktivitas yang tinggi pada akhirnya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, investasi dalam sektor kesehatan adalah investasi untuk masa depan ekonomi.
Menurutnya, kolaborasi transdisipliner dan lintas sektoral sangat penting untuk mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan. Pendekatan preventif juga disebut sebagai strategi ekonomi paling efisien. Literasi kesehatan dan literasi ekonomi harus berjalan secara berdampingan untuk mencapai tujuan ini.
Data menunjukkan bahwa cakupan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai lebih dari 90 persen populasi Indonesia. Sementara itu, belanja kesehatan nasional tercatat sekitar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka 76, mencerminkan kemajuan kualitas hidup masyarakat.
Peran Mahasiswa dan Akses Layanan Kesehatan Primer
Melalui **kolaborasi sektor kesehatan** antara akademisi, pemangku kepentingan, dan pembuat kebijakan, akses terhadap layanan kesehatan primer dapat semakin diperluas. Jisman menilai bahwa sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan layanan kesehatan dan menurunkan risiko kemiskinan akibat biaya kesehatan. Hal ini menunjukkan dampak langsung kolaborasi terhadap kesejahteraan sosial.
Jisman juga menekankan peran krusial mahasiswa sebagai calon profesional masa depan. Mahasiswa diharapkan mampu memfasilitasi kolaborasi lintas sektor serta menerapkan keterampilan praktis lintas disiplin dalam kehidupan nyata. Mereka tidak hanya peserta didik, tetapi juga agen perubahan yang berkontribusi pada tantangan sosial.
Mahasiswa diharapkan dapat langsung turun ke masyarakat untuk mengimplementasikan ilmu praktis (applied science). Ini akan membantu masyarakat menghadapi permasalahan di era yang penuh ketidakpastian. Tantangan saat ini ditandai oleh kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).
Pendekatan Transdisipliner dalam Menghadapi Kompleksitas Global
Dekan Fakultas Vokasi UKI, Maksimus, turut menekankan pentingnya pendekatan transdisiplin dalam menghadapi berbagai persoalan kompleks. Pendekatan ini relevan baik di tingkat lokal, regional, maupun global. Integrasi berbagai disiplin ilmu diperlukan untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap suatu masalah.
Pendekatan transdisiplin memiliki konsep integrasi untuk meningkatkan pemahaman masalah. Pemanfaatan teknologi juga menjadi kunci untuk mempermudah kehidupan manusia di tengah kompleksitas. Maksimus menyoroti bahwa teknologi dapat menjadi jembatan antar disiplin ilmu.
Pendekatan ini tidak hanya melibatkan berbagai disiplin ilmu, tetapi juga beragam aktor, termasuk akademisi, praktisi, serta pembuat kebijakan. Tujuannya adalah menghasilkan pengetahuan yang kritis, informatif, dan aplikatif. Dialog antar disiplin ilmu sangat diperlukan untuk meningkatkan saling pengertian dan menemukan solusi inovatif.
Sumber: AntaraNews