Tambal sulam sistem ujian nasional
Sistem diharapkan nantinya siswa tidak lagi memakai soal pilihan ganda melainkan esai.
Pelaksanaan ujian nasional dari masa ke masa terus mengalami perubahan. Diharapkan tiap perubahan mampu meminimalisir segala kekurangan pada sistem sebelumnya. Namun, tetap pelbagai kelemahan selalu menghantui tiap sistem baru ujian nasional.
Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam, mengatakan bukan hanya Indonesia mengalami sejumlah masalah dalam pelaksanaan ujian. Selain terbatas secara teknis, permasalahan bentuk pertanyaan ujian juga menjadi pekerjaan berat bagi para penyelenggara ujian.
"Yang jadi permasalahan itu bentuk-bentuk soal karena sifatnya masif. Untuk soal ternyata terpaksa multiple choice, soal jenis ini tidak bisa mengukur kemampuan secara keseluruhan," kata Nizam.
Hadirnya soal ujian memakai pilihan ganda, membuat para siswa dipaksa untuk menghapal suatu materi pelajar. Seharusnya, pertanyaan dibuat esai. Sehingga bisa dilihat sejauh mana pemahaman siswa terhadap sebuah materi. Untuk itu, secara perlahan pemerintah akan mengubah sistem itu lewat ujian berbasis komputer.
"Karena itu, saat ini kita tengah bermigrasi dari kertas ke komputer. Ini salah satu tujuannya ke sana. Nanti kalau semua sudah berbasis pada komputer bisa menggunakan soal yang beragam tidak lagi multiple choice," lanjut dia.
Terlepas tambal sulam kekurangan, fokus pemerintah kini tengah berusaha mempertahankan adanya ujian nasional. Meski beberapa waktu lalu sempat dikabarkan akan dihapus, dia mengklaim pelaksanaan ujian justru terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
"Ya kalau sekarang tidak ada ujian nasional misalnya, saya dari Jawa Timur bawa nilai 90 ke Jakarta tapi artinya apa? Tidak ada standarisasinya karena tiap daerah memiliki standarnya masing-masing," ujarnya.
Untuk itu, dengan adanya ujian nasional setiap sekolah memiliki standar pencapaian setara. Terlepas dari kondisi sekolah maupun pengajar, kata dia, tolak ukur pencapaian harus ada untuk bisa diperbandingkan.
"Tujuannya dari masa ke masa sebenarnya tetap sama, mengukur capaian anak-anak kita. Dengan seperti itu, kita bisa membandingkan dan membuat perlakuan yang sama," ujar dia.
Di sisi lain, ujian nasional ini juga menjadi momentum persatuan Tanah Air. Sebab, dari Sabang sampai Merauke bersatu bersama-sama mengerjakan ujian nasional.
Baca juga:
Deg-degan jelang ujian
Sejarah panjang ujian nasional, dari kertas ke layar monitor
Mati-matian demi lulus ujian
Nostalgia saat ujian SMA, teman pelit dan dijaga guru galak
Patungan sampai begadang demi berburu kunci jawaban ujian