Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Deg-degan jelang ujian

Deg-degan jelang ujian Simulasi UN berbasis komputer. ©2016 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Di halaman SMK Swadaya Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, seorang siswi kelas XII menjerit dan menangis histeris hingga nyaris pingsan saat mengikuti doa bersama yang kerap dilakukan menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional (UN). Siswi tersebut terpaksa digendong masuk ke dalam ruang UKS oleh rekan sesama pelajar dan guru untuk mendapat perawatan.

Puluhan siswa dan siswi lain juga tak kuasa menahan air mata saat Wakil Kepala Sekolah Humam Sabroni melantunkan doa-doa serta motivasi, tiga hari menjelang UN. Mulai Senin (4/4) hingga Rabu (6/4), siswa kelas XII SMA dan sederajat akan menempuh ujian nasional.

Doa bersama sering dilakukan di sejumlah sekolah jelang pelaksanaan ujian nasional. Bukan hanya bertujuan untuk memohon penyertaan Tuhan, doa juga dilantunkan agar siswa dan siswi yang akan menempuh ujian akhir menjadi lebih tenang.

Sebagian besar siswa SMA/MA deg-degan menghadapi ujian akhir yang akan menuntun mereka ke jenjang perguruan tinggi.

"Deg-degan pasti, soalnya ini kan menentukan nasib juga. Kalau gagal kan malu sama semua orang," kata Rolibi (18), siswa SMK 4 Garut saat saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (2/4).

Dia mengaku lebih tenang setelah mengikuti doa bersama yang selalu dilakukan siswa kelas XI di sekolahnya setiap menjelang ujian nasional.

ujian nasional 2015

Ujian Nasional 2015 ©2015 merdeka.com/arie basuki

Tak hanya Rolibi yang diliputi kecemasan jelang ujian nasional, siswi MA Al-Imaroh Bekasi, Ica (18) juga merasakan hal sama. Ada sedikit kekhawatiran mengingat ujian ini akan menentukan langkahnya dalam menempuh pendidikan tinggi. Terkadang dia tidak bisa tidur karena terus terbayang suasana saat ujian nasional.

"Sekarang kan nilai ujian nasional akan menentukan kita buat ke perguruan tinggi dan pasti mau hasil yang bagus," ungkap Ica.

Tidak hanya siswa-siswi yang deg-degan dan sibuk jelang pelaksanaan ujian nasional. Orang tua siswa juga ikut repot. Karina Sinthiya (18), siswi SMA Negeri 3 Garut menceritakan perubahan sikap orang tuanya. Biasanya, orang tuanya tak pernah melarang Karina berlama-lama di depan layar monitor dan telepon genggam.

"Tapi sekarang kalau sudah malam disuruh jauhin handphone sama laptop. Disuruh belajar," kata Karina.

Nunung, ibu rumah tangga asal Ciamis, mengaku ikut khawatir saat anaknya bersiap menghadapi ujian nasional. Berulang kali dia mengingatkan anaknya untuk belajar lebih keras dari biasanya. Harapannya, anaknya bisa lulus dengan hasil memuaskan dan membanggakan orang tua.

"Ini anak yang pertama jadi ikut deg-degan juga. Tapi anaknya malah santai. Saya juga kadang capek ngasih tahunya," ungkap Nunung.

Harapan akan kelulusan anaknya selalu terselip di antara lantunan doa yang diucapkan Nunung. Bahkan, Nunung semakin rajin mengikuti berbagai pengajian untuk mendoakan anaknya.

"Setiap salat subuh didoain. Saya sama suami juga ngaji yasin doaian anak biar lulus ujiannya. Enggak ada ritual khusus paling minta dibacain alfatihah sama ustaz," katanya.

ujian nasional 2015

Ujian Nasional 2015 ©2015 merdeka.com/arie basuki

Psikolog Kasandra Purtanto menuturkan, kekhawatiran berlebihan dalam diri peserta UN merupakan hal wajar. Namun, kebanyakan dialami oleh siswa-siswi yang tak siap menghadapi ujian.

"Profil anak yang tidak siap belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional memiliki sikap yang beda. Namun bukan berarti yang tidak menganggap serius ujian dia tidak siap menghadapi UN," kata Kasandra.

Selama siswa mempersiapkan diri dengan baik, seharusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Namun, diakuinya ada saja siswa yang tipikal mudah cemas sehingga mengalami paranoid atau ketakutan jelang ujian nasional.

Ketakutan yang dialami para siswa tidak terlepas dari anggapan bahwa ujian nasional sangat menentukan kelangsungan pendidikan yang akan ditempuh selanjutnya. Selama ini nilai ujian nasional selalu dianggap sebagai indikator kecerdasan siswa. Kesalahan tafsir ini memunculkan kekhawatiran berlebihan.

"Terlepas dari orientasi nilai yang didapat saat ujian, banyak siswa yang memiliki kemampuan lebih meski nilai IQ biasa saja," ujar dia.

Kondisi otak seseorang bergantung pada beberapa hal. Salah satunya faktor genetik yakni orangtua. Jika seorang anak dilahirkan dari orangtua yang menikah saat usia matang, memiliki kecerdasan baik, maka anaknya akan memiliki sifat sama. Sebaliknya, jika orangtua memiliki keterbatasan intelektual, pendidikan dan terjerat dalam kemiskinan, itu bisa menjadi faktor yang mengurangi kapasitas mental anak.

"Kemungkinan faktor ayah dan ibu yang pintar, kesehatan mental yang baik, hal itu bisa memengaruhi kemampuan otak anak. Nutrisi juga bisa memengaruhi," jelas dia. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP