Tak takut perang di Yaman, Abdul pulang karena kuliah terhenti
Meski kondisi perang, aktivitas warga Yaman, kata Abdul, biasa saja.
Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang dipulangkan dari Yaman, Abdulrahman mengaku tidak takut dengan kondisi negara Yaman saat ini. Meski hujan roket dan bom, warga di sana tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Di sana sebenarnya kalau menurut kebiasan kita di sini iya gawat. Tapi kalau tradisi di sana biasa saja. Orang di sana beraktivitas seperti biasa, siang sampai malam enggak ada yang berbeda," kata Abdulrahman kepada wartawan di Bandara Soekarno Hatta di Terminal 2, Cengkareng, Minggu (5/4).
Dia menceritakan pada malam hari suara bom dan peluru yang menghujani beberapa kota di Yaman adalah hal yang lumrah. Terlebih daerah Sanaa, Aden serta Hudaidah merupakan tempat di mana pemberontak dan pemerintah saling melancarkan aksi serang.
"Tempat konflik yang paling parah di dua tempat di Sanaa sama di Aden. Di Hudaidah masih belum perang darat masih menggunakan pesawat. Tapi kalau di Aden sama di Sanaa sudah hancur tempatnya," ujarnya.
WNI asal Madura ini mengatakan dirinya tinggal di antara ketiga daerah yang sedang terjadi perang yakni Hudaidah. Abdulrahman menganggap situasi di tempat itu tidak begitu mencekam.
Dia beralasan kepulangan dirinya ke Indonesia bukanlah karena perang melainkan sistem negara Yaman yang saat ini sedang tidak baik. Sehingga proses belajar dan mengajar di daerah itu dihentikan.
"Pemerintahan Yaman sudah terbagi menjadi dua dari pemerintahan yang sah dan juga yang pemberontak. Jadi semua sistem negara sudah terpecah dan sistem pembelajaran sudah dihentikan. Jadi meskipun engga begitu gawat mending pulang dari pada di sana gitu," jelasnya.
Lebih jauh, Abdulrahman mengaku di dekat kampusnya pernah terjadi ledakan yang diakibatkan dari roket. Tak tanggung-tanggung 15 roket menghujani daerah tersebut.
Meski bahaya terkena roket 50 berbanding 50, Abdulrahman tidak merasa takut. Dia mengaku tetap merasa nyaman dalam situasi seperti itu.
"Ada sekitar 15 roket, salah satunya dekat kampus kita. Kalau saya pribadi melihat kondisi di sana nyaman-nyaman saja jadi Insya Allah nyaman engga ada bahaya apa-apa. Iya mungkin hidup di negara seperti itu yang lagi perang mngkin bahaya itu fifty-fifty ya mas. Antara kena bom antara enggak, tapi saya pribadi saya sangat tenang," pungkasnya.
Baca juga:
Kisah WNI tinggal di kampus hindari gempuran bom di Yaman
Pesawat TNI evakuasi 110 WNI dari Jizan menuju Muskat
Ratusan WNI akhirnya berhasil dievakuasi dari konflik Yaman
Pemerintah Indonesia serukan Yaman agar beri kesempatan evakuasi WNI
Kisah WNI di Yaman selamat dari serangan hujan bom dan roket
Alasan keamanan, 500 mahasiswa Indonesia di Yaman belum dievakuasi