Tahukah Anda? Polres Lumajang Pulangkan Empat Pelajar Pemicu Kerusuhan Aksi Demo
Polres Lumajang baru saja memulangkan empat pelajar yang diduga menjadi pemicu kerusuhan aksi demo di depan Mapolres. Simak detail mengapa Pelajar Pemicu Kerusuhan Lumajang ini dilepaskan dan peran mereka dalam insiden tersebut.
Kepolisian Resor (Polres) Lumajang, Jawa Timur, telah memulangkan empat pelajar yang sempat diamankan pasca-kerusuhan aksi demonstrasi. Keempatnya diduga menjadi pemicu kericuhan dalam unjuk rasa yang digelar oleh Aliansi Masyarakat Tertindas bersama komunitas ojek online (ojol). Kejadian ini berlangsung di depan Markas Polres Lumajang pada Sabtu (30/8) malam.
Kasi Humas Polres Lumajang, Ipda Untoro, mengonfirmasi bahwa keempat anak tersebut masih di bawah umur. Mereka telah dimintai keterangan oleh petugas kepolisian sebelum akhirnya diserahkan kembali kepada orang tua masing-masing pada Minggu. Proses pemulangan ini dilakukan setelah identifikasi status mereka sebagai pelajar.
Aksi demonstrasi tersebut awalnya bertujuan damai, namun berakhir dengan insiden pelemparan. Para Pelajar Pemicu Kerusuhan Lumajang ini diduga kuat berada di balik tindakan provokatif tersebut. Pihak kepolisian berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, terutama dengan melibatkan anak-anak.
Kronologi Aksi Damai yang Berakhir Ricuh
Aksi solidaritas ratusan massa Aliansi Masyarakat Tertindas dan komunitas ojol di Lumajang awalnya berjalan tertib. Massa menyalakan lilin dan berorasi secara bergantian, bahkan menggelar salat gaib serta doa bersama untuk Affan Kurniawan (21), seorang driver ojol yang meninggal dunia saat aksi ricuh di Jakarta pada 28 Agustus 2025. Suasana khidmat menyelimuti jalannya acara.
Namun, setelah doa bersama usai, situasi di lokasi demonstrasi berubah drastis. Sebagian massa tiba-tiba menyalakan suar dan melempar botol air mineral ke arah aparat kepolisian yang berjaga. Tindakan provokatif ini memicu respons cepat dari polisi, yang kemudian mendorong massa untuk membubarkan diri secara tertib guna menghindari eskalasi.
Ipda Untoro menjelaskan bahwa aksi pelemparan botol air tersebut diduga dipicu oleh tindakan keempat pelajar yang diamankan. Peran mereka dalam memprovokasi massa menjadi fokus penyelidikan awal. Meskipun demikian, setelah status mereka sebagai Pelajar Pemicu Kerusuhan Lumajang dipastikan, keputusan untuk menyerahkan mereka kembali kepada orang tua diambil.
Peran Keluarga dan Imbauan Kepolisian
Pihak kepolisian menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi anak-anak. Ipda Untoro menyatakan bahwa pengawasan orang tua sangat krusial agar anak-anak tidak mudah terprovokasi dan ikut serta dalam kegiatan yang berpotensi menimbulkan kericuhan. Hal ini menjadi kunci untuk menjaga ketertiban umum.
Polres Lumajang secara khusus mengimbau kepada para orang tua untuk lebih ketat dalam mengawasi anak-anak mereka. Tujuannya adalah agar generasi muda tidak terlibat dalam aksi-aksi yang tidak benar atau merugikan. Fokus utama bagi pelajar seharusnya adalah belajar di sekolah dan mengembangkan diri secara positif.
Kepolisian berharap bahwa ke depan, setiap aksi penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara damai tanpa adanya tindakan provokatif. Keterlibatan anak di bawah umur dalam kerusuhan menjadi perhatian serius yang harus dicegah. Kesadaran kolektif dari masyarakat dan keluarga sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif.
Klarifikasi dari Koordinator Aksi
Koordinator lapangan (korlap) aksi solidaritas, Nibras, turut memberikan klarifikasi terkait insiden kericuhan tersebut. Nibras memastikan bahwa kericuhan yang terjadi bukan berasal dari peserta aksi damai mereka. Hal ini dikarenakan peserta telah sepakat untuk menggelar aksi tanpa tindakan anarkis sejak awal.
Nibras menjelaskan bahwa jumlah peserta aksi mereka hanya sekitar 60 orang, dan semuanya mengenakan pita putih sebagai identitas. Ia menambahkan bahwa pihak yang melempar botol minuman dan memicu kerusuhan berdiri di belakang massa. Mereka bersembunyi di balik tulisan Alun-alun Lumajang, mengindikasikan bahwa itu bukan bagian dari kelompok mereka.
Pernyataan Nibras ini menguatkan dugaan adanya oknum penyusup yang sengaja memprovokasi. Hal ini sejalan dengan temuan kepolisian terkait Pelajar Pemicu Kerusuhan Lumajang. Koordinasi antara pihak penyelenggara aksi dan kepolisian diharapkan dapat mencegah insiden serupa di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews