Tahukah Anda? Al Quran Jaga Lingkungan Sejak Dulu, Ini Kata Mantan Menteri Agama
Mantan Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar mengungkapkan bahwa Al Quran jaga lingkungan sejak lama, mengingatkan manusia untuk merawat bumi sebagai bagian dari ibadah. Simak penjelasannya!
Mantan Menteri Agama periode 2001–2004, Said Agil Husin Al Munawar, baru-baru ini menegaskan bahwa **Al Quran jaga lingkungan** sejak lama, mengingatkan manusia untuk merawat bumi dan tidak merusak keseimbangannya. Pernyataan ini disampaikan dalam Seminar Syiar Quran dan Hadis di Kendari pada Sabtu, 18 Oktober, yang berfokus pada kerukunan dan pelestarian alam.
Menurut Said Agil, penciptaan manusia bukan hanya untuk ibadah ritual semata, melainkan juga untuk memakmurkan bumi sebagai khalifah atau wakil Allah. Konsep ini menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari keimanan. Hal ini bukan sekadar urusan sosial atau ekonomi biasa.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai keagamaan memberikan dasar teologis yang kuat bagi umat Islam untuk menjaga alam. Alam semesta adalah amanah Ilahi yang harus dipelihara dengan penuh tanggung jawab. Kesadaran ini membentuk perilaku bijak terhadap sumber daya alam.
Manusia sebagai Khalifah: Amanah Al Quran Jaga Lingkungan
Said Agil Husin Al Munawar menjelaskan bahwa Al Quran telah menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi. Dalam Surah Al-Baqarah, manusia diamanahi untuk mengelola bumi dengan penuh tanggung jawab dan menjaga keseimbangannya. Ini adalah mandat ilahi yang mendasari setiap tindakan manusia di muka bumi.
Peringatan keras juga disampaikan dalam Al Quran agar manusia tidak berbuat kerusakan setelah Allah memperbaikinya. Said Agil mengutip firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 56, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap.” Ayat ini menjadi landasan penting bagi umat Islam dalam menjaga kelestarian alam. Ini menunjukkan bahwa **Al Quran jaga lingkungan** adalah perintah yang jelas.
Dalam pandangannya, menjaga harmoni sosial dan lingkungan merupakan bentuk ibadah yang mencerminkan kesalehan pribadi dan sosial secara bersamaan. Keseimbangan antara manusia dan alam adalah cerminan dari ketaatan kepada ajaran agama. Oleh karena itu, setiap upaya pelestarian alam adalah wujud dari keimanan.
Hadis Nabi dan Nilai Ibadah dalam Merawat Alam
Said Agil juga mencontohkan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Jika hari kiamat tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah.” Hadis ini mengajarkan pentingnya tindakan nyata dalam menjaga lingkungan. Bahkan dalam situasi paling genting sekalipun, usaha merawat alam tetap memiliki nilai.
Ia menjelaskan bahwa sekecil apapun usaha manusia untuk menjaga alam, seperti menanam atau memelihara, tetap bernilai ibadah. Tindakan tidak merusak lingkungan adalah ekspresi dari iman yang sejati. Ini menunjukkan bahwa **Al Quran jaga lingkungan** tidak hanya teori, tetapi juga praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, syiar Al Quran dan hadis harus dimaknai sebagai upaya membudayakan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Dakwah yang berorientasi pada kerukunan akan menumbuhkan semangat toleransi, kasih sayang, dan persaudaraan. Sementara itu, dakwah yang menanamkan kesadaran ekologis akan membentuk perilaku bijak terhadap alam dan sumber daya.
Dakwah Berbasis Lingkungan dan Kasih Sayang
Said Agil menekankan bahwa dakwah Islam seharusnya tidak hanya hadir di mimbar-mimbar masjid. Dakwah juga harus merambah ruang-ruang publik yang mendorong perubahan perilaku positif terhadap lingkungan dan sesama manusia. Ini adalah bentuk implementasi nyata dari ajaran agama.
Menurutnya, ketika nilai-nilai Qurani dan Nabawi dihidupkan, umat akan menjadi pelopor perdamaian sekaligus pelindung lingkungan. Penting untuk menumbuhkan cinta kasih (rahmah), kesadaran sosial (ukhuwah), dan kepedulian ekologis (ḥifẓ al-bī’ah). Ketiga pilar ini menjadi fondasi bagi masyarakat yang harmonis dan lestari.
Ia juga mengungkapkan pentingnya metode dakwah yang lembut dan penuh kebijaksanaan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Dakwah yang keras dan menghakimi, menurut Said Agil, bertentangan dengan semangat kenabian yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Ini adalah cara efektif untuk menyebarkan pesan bahwa **Al Quran jaga lingkungan** dengan cara yang bijaksana.
Sumber: AntaraNews