Suka Duka Sayid Lulus Digembleng di Barak Militer: Dulu Suka Bolos, kini Disiplin Rajin Salat
Sebanyak 273 siswa rampung menjalani pendidikan karakter berbasis militer Panca Waluya gelombang pertama, di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang.
Sebanyak 273 siswa rampung menjalani pendidikan karakter berbasis militer Panca Waluya gelombang pertama, di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Purwakarta. Mereka dinyatakan lulus usai menjalani pendidikan selama dua pekan.
Para siswa yang terindikasi ‘bermasalah’ kini bisa kembali pulang ke rumah dan belajar normal di sekolah mereka masing-masing.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi serta unsur Forkopimda, menghadiri acara perpisahan yang digelar di Gedung Sate. Seremoni itu dilaksanakan usai upacara Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Gasibu Bandung.
Sayid, siswa kelas 11 SMA asal Sukabumi mengaku merasa lebih disiplin setelah mengikuti program pendidikan ini. Menurutnya, selama mengikuti pendidikan di barak militer, ada sejumlah kegiatan yang rutin yang mereka lakukan membuat mereka menjadi lebih disiplin.
"Iya, jadi bisa disiplin gitu, lebih teratur, makan, tidur, salat lima waktu. Terus bisa ketemu banyak teman-temanlah, dari banyak kota, kayak Bandung, terus Cirebon, Cikampek, jadi banyak teman lah ini ya," kata dia kepada wartawan, Selasa (20/5).
Ibunda Sayid, Lilis, menceritakan awal mula anaknya ikut program pendidikan karakter Panca Waluya. Bermula dari pihak sekolah karena putranya kelewat sering bolos karena malam harinya selalu begadang main ponsel.
"Diarahkan dari sekolah, ini suka bolos karena jarang ke sekolah, karena malamnya suka main-main game gitu, karena kurang disiplin aja. Jadi kelas 2 SMA terus proses sekolah jadi dialihkan," katanya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mengatakan program ini akan berlanjut. Artinya, akan ada angkatan siswa baru yang bakal memperoleh pendidikan karakter di barak militer dengan seizin orang tua mereka, meski program ini menuai pro dan kontra.
"Ya berlanjut dong, ini program kan angkatan pertama setelah itu mereka melewati pendidikan nanti dua mingguan selama setahun ya, karena persiapan minat dan bakat kemudian setelah itu nanti ada angkatan baru," jelas Dedi.
Dia menyatakan program ini merupakan bukti keseriusan Pemprov Jabar dalam menangani karakter siswa-siswa yang bermasalah. Di mana semua peserta dibekali materi soal bela negara dan kedisiplinan lainnya.
“Jadi membangun hubungan negara dengan rakyat, pemimpin dengan rakyat, itu urusan rasa, bukan urusan-urusan administrasi kenegaraan. Jadi ini salah satu bukti bahwa banyak orang meragukan apa yang dilakukan oleh Pemprov Jabar, tetapi akhirnya waktu yang menjawab,” ujar Dedi.
Di kesempatan yang sama, hadir pula Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi. Ia mengapresiasi program pendidikan karakter Panca Waluya yang telah meluluskan angkatan pertama. Kendati begitu, dirinya juga mendorong agar adanya evaluasi berkala, terbuka akan kritik yang membangun.
Bila diperlukan, kata dia, psikolog dapat dilibatkan guna memastikan kondisi mental anak-anak tetap baik.
"Jadi dalam hal ini kami apresiasi dan tetap harus dievaluasi sampai akhir, beberapa akan kami ikuti, juga ada tim psikolog sehingga kalau nanti hasilnya positif jangan ragu-ragu dan gengsi untuk dijadikan gerakan nasional," tutur Kak Seto.
Dia berpandangan bahwa pendidikan di sekolah dan lingkungan keluarga perlu dilengkapi pendidikan non-formal. Dan pendidikan karakter demi membangun kedisiplinan siswa seperti di barak militer dapat menjadi salah satu pilihannya.
“Itu bisa saja di Dodik Bela Negara, perpustakaan, sarana gelanggang olahraga maupun sanggar-sanggar seni. Jawa Barat bisa menjadi contoh dan alternatif," kata Seto.
"Anak-anak pada dasarnya membutuhkan uluran cinta dari tokoh-tokoh seperti orang tua, guru, pemimpin, pejabat sehingga mereka menjadi bunga yang sangat mekar," ucap dia.