LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Soeharto lengser, pangan dinilai jadi awal malapetaka

Nehru: Segala sesuatu dapat menunggu, tapi tidak untuk pertanian. Apapun, paling utama adalah kita harus siap pangan.

2016-05-23 08:21:00
Soeharto Lengser
Advertisement

Pertengahan bulan ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan kuliah umum di Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-49 perusahaan pelat merah tersebut. Di sana, dia kembali menegaskan pentingnya ketahanan pangan.

Sebab, kelaparan massal ternyata bisa menjadi modal menggulingkan pemerintahan. Begitulah setidaknya pernah dialami Indonesia dan sejumlah negara lain.

"Pengalaman Indonesia, pemerintahan berganti karena pangan," kata JK. "Pada 1965, kesulitan pangan terjadi, orang antre untuk mendapatkan makanan. Ditambah krisis politik dan ekonomi pada waktu itu, pemerintahan bubar."

Tak berhenti di situ. Menurut catatan JK, ada satu masa lagi di mana persoalan pangan menjadi sumber malapetaka rezim berkuasa yaitu, pada 21 Mei 1998.

Tak berlebihan jika JK menilai seperti itu, meskipun, krisis pangan bukan faktor tunggal. Dia berkelindan dengan persoalan moneter dan politik yang kemudian melahirkan krisis multidimensi yang menggulingkan pemerintahan Soeharto.

Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Harvard Peter Timmer juga menyebut kemerosotan produksi dan harga pangan, terutama beras, menjadi akar penyebab keruntuhan Orde Baru di Indonesia pada Mei 1998. Itu diungkapkan saat Konferensi Internasional Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) di Bogor, Agustus 2014.

Sepanjang 1997-1998 harga beras dan bahan pokok lainnya memang melonjak signifikan. Sebab, pasokan berkurang lantaran penurunan produksi disebabkan kemarau panjang.

Pemerintahan kala itu terlambat mengantisipasi karena terlanjur disibukkan oleh instabilitas politik. Masyarakat panik dan demonstrasi menuntut penurunan harga pangan merebak di mana-mana.

Pemerintah kemudian menempuh solusi instan: Impor beras hingga tujuh juta ton di saat ekonomi nasional sedang krisis dan nilai tukar rupiah terjun bebas.

Sontak, pembelian terbesar sepanjang sejarah tersebut mengubur prestasi Soeharto yang berhasil mengubah Indonesia dari importir menjadi eksportir beras. Pencapaian yang membawa The Smilling General terbang ke Roma guna menerima penghargaan dari FAO, organisasi pangan dan pertanian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada 1985.

Sekali lagi, pengalaman membuktikan, rakyat yang lapar bisa menggoyang pemerintahan. Untuk mencegah itu, ketahanan dan kedaulatan pangan menjadi kunci.

Seperti kata mantan Perdana Menteri India Jawaharal Nehru: Segala sesuatu dapat menunggu, tapi tidak untuk pertanian. Apapun, yang paling utama adalah kita harus cukup pangan. Berikutnya, baru yang lain.

Baca juga:
Jumlah petani menurun ancam produksi pangan Indonesia
Chelsea Islan: Berton-ton makanan terbuang setiap hari
Populasi naik, SBY yakin pemerintah bisa penuhi kebutuhan pangan
Mari Elka dorong kearifan lokal jadi solusi ketahanan pangan
Pemerintah harus hati-hati dengan wacana tak impor beras di 2016
Asosiasi pangan klaim pasokan aman jelang puasa dan lebaran
JK: Di Indonesia, 2 kali pemerintahan berganti karena masalah pangan

Advertisement
(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.