Sentilan Keras Mantan Wakapolri buat Pegawai Imigrasi Penuh Tato Sebadan Bekingi Bule Kriminal di Bali
Mantan Wakapolri Jenderal (Purn) itu tak habis pikir anak buahnya bekingi bule kriminal.
Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto menyentil pegawai imigrasi yang terlibat aksi kriminal dengan Warga Negara (WN) Rusia di Bali. Mantan Wakapolri Jenderal (Purn) itu tak habis pikir anak buahnya bekingi bule kriminal.
"Ini saya menerima laporan di Bali ini ada pegawai baru dua tahun tato-nya kayak preman itu. Ini saya enggak ngerti ini apa penyakit mental kali ya? Manusia ini apa hebatnya sih? Kalau kena sakit gigi enggak ada hebatnya tuh tato itu. Siapa pernah sakit gigi?" kata Agus dikutip akun youtube Kementerian Imipas, Selasa (5/8).
Agus menegaskan tidak anti tato, namun ia kesal ada anak buahnya yang menyalahgunakan jabatan. "Biar tato satu badan juga kalau sakit gigi ya meriang juga tuh. Jadi pegawai baru sebentar jadi apa? Menggunakan jabatannya sebagai petugas imigrasi, orang asing masih takut sama dia," ucapnya.
"Terus jadi preman. Saya lihat awalnya saya mau bantu itu. Masuk kasus kecil mana tahu, saya pikir kasusnya kecil. Giliran saya ditunjukkan ini lho Pak tato-nya. Waduh ini udah. Saya bukan anti tato tapi menurut saya kalau kita pegawai terus kemudian kalau tato enggak kelihatan kecil ya enggak apa-apalah," tegasnya
Telepon Kapolda Bali
Agus pun mendesak Kapolda Bali untuk segera menjebloskan petugas imigrasi bekingi bule kriminal tersebut. "Tapi ini tato sepanjang badan. Saya bilang, saya telepon Kapoldanya penjara kan situ. Proses hukum. Kalau kejahatannya banyak, udah nanti kita pecat saja yang begitu," tegasnya.
Sebelumnya, Polda Bali, menangkap empat orang yang melakukan kasus penganiayaan disertai ancaman dan pemerasan terhadap Warga Negara Asing (WNA) Rusia berinsial RS (42) di Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis (10/7) lalu.
Empat orang ditangkap, terdiri dari dua pria WNA Rusia berinsial IV (30) dan IS (32), dan dua Warga Negara Indonesia (WNI) berinsial EL (24) dan seorang perempuan berinisial YB (24) yang merupakan oknum staff imigrasi di Bali yang diduga membekingi kejahatan tersebut.
"Modus operandi kelompok ini melakukan pemerasan dengan penculikan dan penganiayaan, serta mengancam akan membawa korban ke kantor imigrasi dan mendeportasi," kata Kapolda Bali Irjen pol Daniel Adityajaya saat konferensi pers di Mapolda Bali, Jumat (1/8).
"(Untuk dua WNI ), kami sampaikan bahwa ini adalah oknum dari pihak imigrasi yang kami sebutkan tadi dua inisial. Saat ini kami terus berkoordinasi dan untuk melakukan proses selanjutnya dengan imigrasi," imbuhnya.
Kronologi Kejadian
Kronologisnya, Kamis (10/7) sekitar pukul 23.30 Wita, korban pulang ke rumahnya di Jimbaran. Kemudian, saat korban tiba di ruang tamu dan masih mengenakan helm korban saat menyalakan lampu dan melihat beberapa orang asing yang sudah berada di dalam rumahnya.
Kemudian, dua orang diantaranya langsung menyerang dengan menjerat leher menggunakan lakban dan memukulinya, hingga hidungnya berdarah. Setelah menyadari korban bukan target, pemukulan dihentikan.
Selanjutnya, datang sepasang pria dan wanita berseragam mirip petugas imigrasi yang memaksa korban membuka ponsel, mengambil data pribadi serta memfoto paspornya. Lalu, korban lantas diinterogasi soal uang sebesar USD 150.000 milik seseorang bernisial R, disertai dengan intimidasi dan ancaman.
"Pelapor diancam akan dideportasi, dipenjara, bahkan dibunuh jika tidak bekerja sama, dan diminta untuk tidak melaporkan kejadian tersebut," imbuhnya.
Lewat peristiwa itu, korban RS mengalami luka fisik dan melaporkan ke polisi. Selanjutnya, Tim Resmob Ditreskrimum Polda Bali melakukan penyelidikan, hingga memperoleh informasi tentang kendaraan yang digunakan pelaku serta CCTV di sekitar kejadian pada Jumat (18/7) pukul 10.00 Wita.
Selanjutnya, petugas mengarah ke Pelabuhan Lembar, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan berkoordinasi dengan Jatanras Polda NTB untuk memetakan keberadaan pelaku, dan dari pemeriksaan CCTV mendapati pelaku memang menaiki mobil di area Pelabuhan Lembar.
Kemudian, polisi mendapatkan sopir yang mengantar pelaku dan pengemudi mengaku telah mengantar pelaku di sekitar perempatan Central Kuta Mandalika. Dan akhirnya para pelaku diketahui berada di sebuah restoran pada
Senin (21/7), pukul 15.00 Wita, dan menangkap dua pelaku asal Rusia.
Selanjutnya dilakukan pengembangan, hingga dua oknum petugas Imigrasi berhasil ditangkap. Namun, ada satu pelaku lain yang diduga sebagai otak dari kelompok tersebut brinisial GG yang saat ini masih buron.
"Kami sedang melakukan pengembangan terhadap GG," jelasnya.