SDA Jaksel Ingatkan Warga Kurangi Penggunaan Air Tanah Jakarta, Antisipasi Penurunan Muka Tanah
Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan mengimbau masyarakat untuk membatasi penggunaan air tanah Jakarta guna mencegah penurunan muka tanah yang terus terjadi, serta mendorong pemanfaatan air perpipaan sebagai solusi berkelanjutan.
Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan secara tegas mengingatkan masyarakat di wilayahnya untuk membatasi penggunaan air tanah. Imbauan ini disampaikan sebagai respons terhadap dampak serius penurunan muka tanah di ibu kota yang terus terjadi setiap tahunnya. Kepala Seksi Pemeliharaan Sudin SDA Jakarta Selatan, Junjung Paulus, menegaskan bahwa tinggi muka air tanah terus menurun, sehingga pengurangan penggunaan air tanah menjadi krusial.
Penurunan tinggi muka air tanah ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait. Fenomena ini tidak hanya mengancam infrastruktur kota, tetapi juga memperparah risiko banjir di Jakarta. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi dan solusi jangka panjang sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kota.
Sebagai upaya konkret, SDA Jakarta Selatan mendorong penggunaan air perpipaan sebagai salah satu solusi efektif untuk menekan eksploitasi air tanah. Selain itu, pemerintah juga menargetkan pengelolaan air yang lebih berkelanjutan, bahkan dengan ambisi mencapai kondisi nol penurunan air tanah seperti yang telah diterapkan di Singapura.
Dampak Serius Penurunan Muka Tanah di Ibu Kota
Penurunan muka tanah atau land subsidence menjadi ancaman nyata bagi Jakarta, dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasinya sebagai salah satu faktor utama yang dapat memperparah banjir. Hasil pengolahan citra satelit menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang signifikan, bahkan mencapai lebih dari 10 centimeter per tahun.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama adalah kondisi alami lapisan tanah aluvial Jakarta yang memang mudah terkompaksi. Kedua, dan yang lebih dominan, adalah aktivitas manusia, khususnya pengambilan air tanah secara berlebihan untuk berbagai keperluan.
Eksploitasi air tanah yang masif menyebabkan rongga di bawah permukaan tanah menjadi kosong, sehingga lapisan tanah di atasnya perlahan-lahan ambles. Kondisi ini tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur, tetapi juga membuat Jakarta semakin rentan terhadap genangan air dan banjir, terutama saat musim hujan tiba. Oleh karena itu, pengurangan penggunaan air tanah Jakarta menjadi sangat mendesak.
Solusi Jangka Panjang dan Pengelolaan Sumber Daya Air
Untuk mengatasi masalah penurunan muka tanah, pemerintah melalui SDA Jakarta Selatan mengedepankan beberapa strategi. Salah satu solusi jangka panjang yang ditekankan adalah peralihan masyarakat dari penggunaan air tanah ke air perpipaan. Pemanfaatan air perpipaan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber air tanah dan menekan laju eksploitasi.
Selain itu, SDA Jakarta Selatan juga berkomitmen untuk mengoptimalkan pengelolaan sembilan waduk yang tersebar di wilayahnya. Selama ini, air hujan seringkali langsung dialirkan ke sungai agar waduk dapat menampung air baru. Namun, ke depan, air di waduk akan ditampung dan dimanfaatkan secara lebih strategis, terutama saat musim kemarau.
Air yang tertampung di waduk pada musim kemarau akan dialokasikan untuk kebutuhan tertentu, seperti penyiraman tanaman atau keperluan lain yang tidak memerlukan air tanah. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai pengelolaan air yang lebih berkelanjutan dan efisien. Warga juga diingatkan untuk selalu menggunakan air secara bijak, terutama menghadapi musim kemarau yang berpotensi memperparah krisis air.
Sumber: AntaraNews