Salatiga Jadi Kota Toleran 2024 Versi SETARA, Ini Daftar 10 Besar
IKT 2024 mengukur tingkat toleransi kota-kota di Indonesia dengan menggunakan empat variabel utama dan delapan indikator penilaian.
SETARA Institute kembali merilis hasil Indeks Kota Toleran (IKT) 2024, Selasa (27/5), di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Dalam laporan terbaru ini, Kota Salatiga berhasil merebut posisi teratas sebagai kota paling toleran di Indonesia dengan skor 6,544, mengungguli Kota Singkawang yang turun ke posisi dua dengan skor 6,420.
IKT 2024 mengukur tingkat toleransi kota-kota di Indonesia dengan menggunakan empat variabel utama dan delapan indikator penilaian, antara lain kebijakan pemerintah, tindakan aparatur, perilaku antar-entitas sosial, serta relasi sosial dalam konteks keberagaman demografis.
Keberhasilan Salatiga tak lepas dari inovasi kebijakan yang progresif, termasuk lahirnya Perda No. 10 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Toleransi Bermasyarakat dan Penanganan Konflik Sosial. Selain itu, Perda No. 9 Tahun 2024 tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan turut memperkuat ekosistem toleransi di kota tersebut.
“Melalui dua Perda ini, Kota Salatiga terlihat melipatgandakan penguatan ekosistem toleransinya sekaligus mengartikulasikan narasi toleransi dan kebangsaan yang dikokohkan secara legal formil,” bunyi rilis resmi SETARA.
10 Kota Paling Toleran 2024
Berikut 10 besar kota paling toleran versi SETARA Institute:
- Salatiga – 6,544
- Singkawang – 6,420
- Semarang – 6,356
- Magelang – 6,248
- Pematang Siantar – 6,115
- Sukabumi – 5,968
- Bekasi – 5,939
- Kediri – 5,925
- Manado – 5,912
- Kupang – 5,853
IKT menggunakan sistem pembobotan yang mempertimbangkan dampak masing-masing indikator, seperti:
- Kebijakan Pemerintah Kota – 20%
- Peristiwa Intoleransi – 20%
- Tindakan Nyata Pemkot – 15%
- RPJMD – 10%
- Pernyataan Publik – 10%
- Inklusi Sosial Keagamaan – 10%
- Dinamika Masyarakat Sipil – 10%
- Heterogenitas Agama – 5%
Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Ismail Hasani, menyebut, antusiasme kepala daerah terhadap IKT terus meningkat. IKT mendorong pemerintah kota untuk berbenah, termasuk yang sebelumnya berada dalam zona merah intoleransi.
“Saya kira komitmen kami, apapun yang terjadi, Indeks Kota Toleran akan terus kita susun. Karena dia bukan lagi kebutuhan SETARA, tapi kebutuhan Republik,” tegas Ismail.