Saat Aktivis 98 Mengenang Tragedi 1998 dari TPU Pondok Ranggon
Aktivis 1998 melakukan ziarah dan tabur bunga sekaligus refleksi reformasi untuk memperingati 27 tahun reformasi tragedi Mei 1998
Ratusan aktivis 1998 dan aktivis pro demokrasi lintas generasi melakukan ziarah dan tabur bunga sekaligus refleksi reformasi untuk memperingati 27 tahun reformasi tragedi Mei 1998 di Taman Makam Umum Pondok Ranggon, Jakarta Timur, Rabu (21/5).
Para aktivis 1998 dari berbagai kampus hadir dalam ziarah tersebu seperti Wanto Klutuk Sugito (Aktivis 98 UIN Syahid Jakarta), Jimmy Fajar Jimbong (Aktivis 98 ISTN Jakarta), Mustar Bonaventura (Aktivis 98 UKI), Simson Simanjuntak (Aktivis 98 Unika Medan), Agung (Aktivis 98 Kampus APP), Cesare (USNI Jakarta) dan berbagai tokoh reformasi 98 lainnya.
Mantan aktivis 98 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wanto Sugito mengatakan reformasi bukan sekedar peristiwa. Dia melanjutkan, tabur bunga bukan sekedar seremoni, melainkan momentum kontemplasi untuk terus memperjuangkan nilai yang diamanatkan perjuangan Reformasi tersebut.
"Nilai untuk terus melawan ketidakadilan, nilai untuk terus melawan rezim intimidatif dan antidemokrasi, nilai untuk terus melawan sistem militeristik, nilai untuk mewujudkan pemerintahan pro rakyat," kata pria yang akrab disapa bung Klutuk itu.
Tolak Pemberian Gelar Pahlawan
Dia menegaskan, perlawanan terhadap orde baru mampu menumbangkan Soeharto. Oleh karena itu, pihaknya sangat menentang wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto.
"Kami menyatakan penolakan tegas terhadap upaya pemberian Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto, mantan presiden yang memimpin selama 32 tahun melalui rezim Orde Baru yang otoriter, militeristik, dan penuh pelanggaran hak asasi manusia," ujar Wanto.
Wanto menganggap upaya pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto adalah penghinaan terhadap para korban, keluarga mereka, serta seluruh rakyat Indonesia yang memperjuangkan keadilan dan demokrasi.