Rokok mahal, angka kematian menurun
"Penyebab kematian pertama itu kan stroke. Stroke itu sekarang banyak di Indonesia karena salah satu penyebabnya rokok,"
Sejumlah elemen masyarakat menyatakan setuju jika pemerintah menaikkan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indoensia (UI), Anhari Achadi menyatakan, angka Rp 50 ribu diperoleh dari hasil survei.
Menurut dia, harga tersebut dilihat dari kemungkinan besar perokok bakal berhenti merokok jika harganya mahal.
"Itu angka dalam survei, inikan melihat pendapat seseorang terhadap sesuatu yang akan dilakukan. Kalau seandainya angka itu disetujui bisa membuat seseorang berhenti ya seperti itu. Kita ingin melihat betul bagaimana kenaikan harga terhadap kemungkinan seseorang berhenti merokok," kata Anhari dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Sabtu (27/8).
Dia menyebut, harga tersebut efektif karena dapat mengurangi penyebab kematian gara-gara rokok.
"Penyebab kematian pertama itu kan stroke saat ini di Indonesia. Stroke itu sekarang banyak di Indonesia karena salah satu penyebabnya rokok," ujarnya.
Selain itu, Anhari menambahkan, tidak setuju jika ada pernyataan bahwa kenaikan harga rokok dapat meningkatkan kriminalitas di kalangan anak di bawah umur. Hal itu bisa dicegah dengan adanya informasi dan pendidikan yang baik mengenai bahaya rokok.
"Pendidikan sekolah, orangtua banyak sekali (informasi). Apalagi juga pemuka agama harus diikutkan," tutup dia.
Baca juga:
Pemerintah harus pikir nasib petani tembakau bila harga rokok naik
Kenaikan harga rokok untuk lindungi generasi muda agar produktif
Sumbang triliunan, harga rokok naik Rp 50 ribu dianggap cuma wacana
'Jangan karena dibiayai asing jadi terdesak naikkan harga rokok'
'Rokok naik jadi Rp 50.000 tak berdampak positif bagi kesehatan'