Program Makan Bergizi Gratis Kembali Hadir, Siswa SMAN 1 Baktiya Semangat Belajar Pascabanjir
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyapa siswa SMAN 1 Baktiya, Aceh Utara, setelah sempat terhenti akibat banjir. Kehadiran MBG ini menjadi penopang gizi dan semangat belajar di tengah pemulihan pascabencana.
Kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Baktiya, Aceh Utara, kembali semarak dengan hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para siswa. Program ini kembali aktif setelah sempat terhenti akibat bencana banjir yang melanda wilayah tersebut dan mengganggu aktivitas sekolah. Kembalinya MBG disambut antusias oleh siswa, memberikan asupan gizi penting di tengah upaya pemulihan pascabencana.
Siswa-siswi SMAN 1 Baktiya kini dapat menikmati hidangan bergizi yang disediakan, seperti nasi, lauk hewani, sayur, dan buah, yang sangat dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang mereka. Program ini menjadi angin segar, khususnya bagi mereka yang terdampak banjir dan menghadapi keterbatasan fasilitas belajar. Kehadiran MBG membantu menjaga fokus dan energi para pelajar dalam kondisi darurat.
Kepala SMAN 1 Baktiya, Marzuki Hasan, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis telah kembali berjalan normal seiring dengan dimulainya kembali kegiatan pembelajaran. Meskipun sempat terhenti selama sekitar satu bulan saat banjir, distribusi makanan kini mencukupi untuk seluruh siswa. Hal ini menunjukkan komitmen sekolah dalam mendukung kesejahteraan dan pendidikan siswa di masa sulit.
Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan Pascabanjir
Nurisna, siswi kelas XI, mengungkapkan kegembiraannya dapat kembali menikmati menu MBG yang lezat di sekolah. Ia merasa terbantu dengan program ini, terutama setelah proses belajar mengajar sempat terhenti akibat banjir. Senada dengan Nurisna, Isnaeni Saputri dari kelas yang sama juga merasakan manfaat besar dari MBG, yang menjadi penopang gizi harian selama pemulihan bencana di daerahnya.
Isnaeni menceritakan pengalamannya bertahan hidup dari bantuan warga selama dua minggu mengungsi di rumah bertingkat bersama keluarga. Kini, ia bersyukur dengan adanya makanan bergizi rutin dari sekolah melalui MBG. Shifa, siswi lainnya, mengakui bahwa kondisi belajar darurat kurang nyaman, namun Program MBG membantunya tetap bersemangat datang ke sekolah meskipun situasi belum sepenuhnya pulih.
Menu MBG yang mencakup nasi, lauk hewani, sayur, dan buah, menjadi asupan krusial di tengah keterbatasan fasilitas belajar pascabanjir. Seluruh sarana dan prasarana sekolah mengalami kerusakan parah, terendam air hingga tiga meter, dan ruang belajar dipenuhi endapan lumpur tebal. Dalam kondisi ini, nutrisi yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan dan konsentrasi siswa.
Optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis oleh Sekolah
Kepala SMAN 1 Baktiya, Marzuki Hasan, menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis kembali aktif setelah kegiatan belajar mengajar dilanjutkan pascabanjir. Ia menyatakan bahwa MBG hanya terhenti selama sekitar satu bulan saat banjir melanda, karena memang tidak ada aktivitas sekolah. Setelah pembelajaran kembali dimulai pada 5 Januari 2026, penyaluran MBG pun beriringan, meskipun distribusi belum optimal pada hari pertama.
Selama masa pengungsian, Marzuki menambahkan, distribusi makanan bergizi dialihkan ke pesantren dan lokasi pengungsian. Hal ini dilakukan agar siswa dan masyarakat terdampak tetap dapat memanfaatkan program tersebut. Penyaluran ini memerlukan koordinasi intensif dengan pihak penyedia program, mengingat siswa tersebar di berbagai tempat dan tidak seluruhnya berada di lingkungan sekolah.
Marzuki kembali menegaskan bahwa saat ini, Program Makan Bergizi Gratis di SMAN 1 Baktiya telah kembali berjalan normal. Kuota makanan yang disediakan juga mencukupi untuk mendukung kebutuhan gizi seluruh siswa selama pembelajaran darurat. Komitmen ini memastikan bahwa aspek nutrisi siswa tetap terjaga di tengah tantangan pemulihan pascabencana.
Pemulihan Psikologis dan Pembelajaran Adaptif
SMAN 1 Baktiya mengoptimalkan pembelajaran di kelas darurat pascabanjir setelah seluruh sarana dan prasarana rusak parah. Dalam keterbatasan ini, sekolah memprioritaskan "trauma healing" pada pekan awal dimulainya kembali aktivitas. Program ini bertujuan agar siswa dapat pulih secara psikologis, kembali berinteraksi, serta membangun semangat belajar setelah mengalami bencana berat bersama guru dan orang tua.
Sekolah memiliki 318 siswa yang mayoritas terdampak banjir, menghadapi berbagai tantangan dalam pemulihan. Marzuki mengatakan, kehadiran belajar dilakukan secara bergiliran tanpa paksaan, menyesuaikan kondisi keluarga dan proses pemulihan pascabencana. Pendekatan adaptif ini menunjukkan empati sekolah terhadap kondisi siswa dan keluarga mereka.
Dengan adanya dukungan seperti Program Makan Bergizi Gratis dan fokus pada pemulihan psikologis, SMAN 1 Baktiya berupaya keras menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Meskipun dalam kondisi darurat, sekolah terus berupaya memastikan siswa mendapatkan pendidikan yang layak dan dukungan yang mereka butuhkan untuk bangkit kembali.
Sumber: AntaraNews