PLTU masuk masa perawat, pemadaman listrik di Sulteng berlanjut
Dipastikan daya yang hilang pada April semakin banyak.
Pemadaman aliran listrik di di sejumlah wilayah Provinsi Sulawesi Tengah masih akan berlanjut hingga April 2016. Sebabnya, dua unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) akan memasuki masa perawatan.
"Bahkan diperkirakan pemadaman pada bulan selanjutnya akan lebih besar dari sekarang ini," kata Manager PT PLN Area Palu, Novalince Pamuso, di Palu, Kamis (17/3).
Sedangkan tiga unit mesin PLTU baru pada saat bersamaan akan masuk ke sistem kelistrikan Palu, Donggala, Parigi, dan Sigi (Palapas). Diperkirakan, sistem Palapas pada saat itu akan kehilangan daya cukup besar.
Pemadaman aliran listrik secara besar-besaran akan terjadi mulai 4-18 April mendatang. Karena itu, masyarakat diminta memakluminya karena PLN masih mengandalkan pasokan daya dari PLTU milik PT Pusaka Jaya Palu Power (PJPP).
"Kita tidak bisa berharap banyak dari pasokan listrik PLTA Sulewana Kabupaten Poso," ujar Novalince, seperti dilansir dari Antara.
Selama ini, lanjut Novalince, PLTA Sulewana Poso baru menyuplai daya listrik ke gardu induk (GI) di Desa Sidera Kabupaten Sigi, sebesar 24 MW (megawatt). Selain pemadaman listrik karena terprogram akibat adanya mesin pembangkit rusak dan memasuki masa pemeliharaan, terkadang listrik padam akibat adanya gangguan jaringan.
Novalince mengaku sistem kelistrikan Palapas sering terganggu karena memang banyak jaringan listrik melewati pepohonan. Saat angin kencang dan ada pohon tumbang serta memutuskan jaringan, dipastikan listrik padam. Buat memperbaikinya biasanya memerlukan waktu.
"Inilah kondisi jaringan listrik sistem kelistrikan Palapas," ucap Novalince.
Baca juga:
Tim TP4P kawal mega proyek listrik Sulawesi-Nusa Tenggara
PLN pakai PLTMH untuk terangi 7.000 rumah tangga di Pekalongan
RI baru rencana, Maroko tak lama lagi punya PLTS terbesar dunia
Kemajuan pembangunan dua unit PLTP Lahendong lebih cepat 3 bulan
Proyek PLTU Tanjung Selor mangkrak, diminta segera diaudit
Menteri ESDM sebut 35.000 MW bukan hanya proyek tapi sebuah gerakan