Pesta Perak Uskup Palangka Raya: 25 Tahun Pelayanan Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka Dihadiri Petinggi Katolik Se-Indonesia
Puncak Pesta Perak Uskup Palangka Raya, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka MSF, berlangsung meriah dan dihadiri petinggi Katolik dari Vatikan hingga seluruh Indonesia, menandai 25 tahun pelayanannya.
Puncak Pesta Perak Pentahbisan Episcopal Uskup Keuskupan Palangka Raya, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka MSF, berlangsung meriah di Gereja Katedral Palangka Raya. Acara ini dihadiri oleh sejumlah petinggi Katolik dari berbagai penjuru Indonesia dan Vatikan. Perayaan ini menandai 25 tahun pengabdian Mgr. Aloysius sebagai Uskup.
Sekretaris Kedutaan Vatikan untuk Indonesia, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), serta Superior Jenderal MSF turut hadir dalam misa syukur tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan pentingnya momen bersejarah bagi Gereja Katolik di Kalimantan Tengah ini. Umat Katolik dari berbagai provinsi juga memadati Gereja Katedral.
Misa syukur yang diselenggarakan pada Minggu (10/5) tersebut menjadi ajang refleksi atas perjalanan panjang Mgr. Aloysius. Perayaan ini juga menjadi simbol persatuan dan semangat kebersamaan umat Katolik. Suasana haru dan sukacita menyelimuti seluruh rangkaian acara.
Kehadiran Tokoh Penting dan Suasana Haru Pesta Perak Uskup Palangka Raya
Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka MSF menyatakan rasa grogi dan tidak menyangka perayaan pesta perak pentahbisannya akan semegah itu. Ia mengaku terkejut dengan banyaknya petinggi gereja serta umat Katolik yang datang dari berbagai provinsi. Uskup Aloysius berusaha tetap tenang meskipun merasa gugup selama acara berlangsung.
Petinggi umat Katolik Kalimantan Tengah itu juga mengungkapkan sebuah detail menarik. Pakaian yang dikenakannya saat ini adalah pakaian yang sama persis seperti 25 tahun silam saat pentahbisan. Bahkan, sepatu yang dipakainya juga sama seperti pada momen bersejarah tersebut.
Kehadiran Sekretaris Kedutaan Vatikan untuk Indonesia dan Ketua KWI memberikan bobot tersendiri pada perayaan ini. Momen ini menjadi bukti pengakuan atas dedikasi dan pelayanan Mgr. Aloysius selama seperempat abad. Para imam dan umat Katolik menyambutnya dengan tawa dan sukacita.
Kilas Balik Perjalanan dan Pesan Damai Mgr. Aloysius
Ketua Panitia Pesta Perak sekaligus Vikjen Keuskupan Palangka Raya, Pastor Silvanus Subandi, mengenang awal kedatangan Mgr. Aloysius pada Mei 2001. Saat itu, Kalimantan Tengah masih dalam suasana pasca-krisis yang penuh tantangan. Pastor Subandi sendiri terlibat dalam kepanitiaan 25 tahun lalu.
Pastor Subandi menuturkan bahwa kehadiran Mgr. Aloysius membawa pesan damai serta semangat kebersamaan. Pesan ini sangat relevan di tengah kondisi ketegangan pasca-krisis yang melanda wilayah tersebut. Kedatangan Uskup Aloysius menjadi titik terang bagi umat.
Semangat perdamaian yang dibawa Mgr. Aloysius terwujud melalui pendirian Seminari Menengah Raja Damai. Seminari ini berlokasi di belakang Gereja Katedral Palangka Raya. Nama 'Raja Damai' dipilih sebagai simbol harapan agar masyarakat terus bertumbuh dalam persaudaraan.
Pembangunan seminari tersebut juga diharapkan dapat membantu masyarakat melupakan luka masa lalu. Inisiatif ini menunjukkan komitmen gereja dalam membangun harmoni sosial. Mgr. Aloysius berperan besar dalam upaya rekonsiliasi dan pembangunan komunitas.
Kontribusi Sosial dan Kesehatan Selama 25 Tahun Pelayanan
Selama 25 tahun kepemimpinannya, Mgr. Aloysius dinilai berhasil mendekatkan Gereja Katolik dengan masyarakat. Hal ini terutama terlihat melalui berbagai pelayanan sosial dan kesehatan yang diinisiasinya. Pelayanan ini menjadi wujud nyata kasih gereja kepada sesama.
Salah satu bukti nyata kontribusinya adalah hadirnya Rumah Sakit Primaya Betang Pambelum. Keberadaan rumah sakit ini merupakan bentuk pelayanan gereja kepada masyarakat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup warga Palangka Raya dan sekitarnya.
Pastor Subandi menegaskan bahwa kehadiran rumah sakit ini bukan semata dimensi bisnis kesehatan. Sebaliknya, ini adalah bentuk pelayanan tulus dari gereja. Inisiatif ini menunjukkan komitmen Gereja Katolik dalam bidang kemanusiaan.
Melalui berbagai program dan fasilitas, Mgr. Aloysius telah meninggalkan jejak positif yang mendalam. Pelayanannya tidak hanya terbatas pada spiritualitas, tetapi juga pada kesejahteraan fisik dan sosial umat. Ia telah menjadi teladan dalam pengabdian.
Sumber: AntaraNews