Permintaan Terakhir Prada Lucky Sebelum Dijemput 10 Orang Senior di Rumah Ibu Angkatnya
Prada Lucky yang masih dalam kondisi lemah baru saja beristirahat di rumah Maria sebelum dijemput kembali oleh seniornya untuk dibawa ke barak.
Mendiang Prajurit Dua (Prada) Lucky Chepril Saputra Namo sempat melarikan diri usai rentetan penyiksaan yang ia terima. Diketahui, Prada Lucky kabur ke rumah ibu angkatnya, Maria Anselina Made.
Hal itu terungkap dalam sidang di Pengadilan Militer III-15 Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Maria hadir sebagai saksi memberikan keterangan untuk 17 terdakwa.
Maria dalam kesaksiannya mengungkapkan bahwa ia pernah menanyakan tentang luka-luka yang terdapat di tubuh Prada Lucky. "Waktu itu saya tanya, kenapa badan luka. Lucky lalu jawab kalau dia dianiaya para seniornya. Dia dipukul pakai selang kompresor," ungkap Maria di hadapan majelis hakim yang dipimpin oleh Mayor Chk Subiyatno, bersama dua hakim anggota Kapten Chk Dennis Carol Napitupulu dan Kapten Chk Zainal Arifin Anang Yulianto, serta oditur militer Letkol Yusdiharto, pada Selasa (4/11).
Maria juga menceritakan bagaimana ia pertama kali mengenal Lucky pada tanggal 26 Juli 2025. Saat itu, ia sering mengambil sisa makanan dari dapur batalion untuk diberikan kepada ternak babinya, yang menjadi awal perkenalan mereka.
Sejak saat itu, hubungan antara Maria dan Lucky semakin akrab, hingga ia dan suaminya menganggap Lucky sebagai anak sendiri. "Lucky sering datang ke rumah kalau sedang ada waktu izin bermalam. Ia anak yang sopan dan rajin bantu-bantu," tambah Maria di persidangan.
Lucky Datang dengan Tubuh Penuh Luka Cambuk
Dua hari setelah pertemuan tersebut, tepatnya pada 28 Juli 2025 sekitar pukul 07.00 Wita, Maria melihat Lucky tiba di rumahnya dengan mengenakan kaus loreng, celana pendek hitam, dan tanpa alas kaki.
Pada saat itu, Maria baru saja pulang dari mengantar anaknya ke sekolah dan mendapati Lucky sudah berada di dalam rumah.
“Langsung masuk rumah. Saat pulang, almarhum yang bukakan pintu kasih saya. Ia mengenakan kaus loreng dan celana pendek warna hitam tanpa alas kaki,” ungkap Maria saat menjawab pertanyaan dari oditur Letkol Alex Panjaitan.
Lucky kemudian membuka bajunya dan memperlihatkan luka-luka yang ada di tubuhnya. Ia mengaku kepada Maria bahwa dirinya telah dianiaya oleh para senior di barak menggunakan selang kompresor dengan cara dicambuk, meskipun ia tidak menyebutkan siapa pelaku penganiayaan tersebut.
“Lucky membuka bajunya ada bekas luka. Waktu itu tidak kasih tahu (nama) pelaku. Kami ngobrol di ruang tamu,” jelas Maria.
Ia juga menambahkan bahwa Lucky sempat meminta dibuatkan teh panas sebelum beristirahat di kamar. Maria memberikan obat pereda nyeri dan meminta bantuan tetangga untuk mengompres luka-luka yang ada di tubuh Lucky.
Sebelum beristirahat, Lucky berpesan agar Maria tidak mengungkapkan keberadaannya kepada siapa pun, termasuk para seniornya di batalyon.
“Lucky sempat bilang, kalau ada yang tanya, jangan kasih tahu kalau dia ada di rumah saya,” kata Maria.
Dijemput Senior saat Prada Lucky dalam Kondisi Lemah
Beberapa waktu setelah itu, Maria mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku sebagai senior Lucky. Panggilan itu berasal dari ponsel Lucky yang tertinggal di barak.
Pada awalnya, Maria tidak mengungkapkan lokasi Lucky, tetapi setelah beberapa saat, ia menerima telepon kembali dan akhirnya mengakui bahwa Lucky memang berada di rumahnya.
"Tidak tahu siapa yang memberitahu mereka kalau Lucky ada di rumah. Sehingga saya akhirnya kasih tahu kalau memang Lucky ada di rumah. Mereka akhirnya datang sekitar 10 orang," ujar Maria.
Ketika para senior itu tiba, Lucky sedang beristirahat dalam keadaan yang sangat lemah. Mereka pun membawanya kembali ke barak.
"Pada saat mereka datang jemput, saya sempat berpesan agar mereka tidak lagi pukul Lucky. Saya bilang, terlepas dari apa pun kesalahan yang dia buat, tolong jangan dia dipukuli lagi karena semua badannya penuh luka," jelas Maria.
Maria Tak Lagi Dengar Kabar Prada Lucky
Sejak saat itu, Maria tidak menerima kabar apapun dari Lucky. Namun, pada 4 Agustus 2025, ia mendapatkan telepon dari ibu Lucky yang memberitahukan bahwa Lucky dirawat di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo.
"Sampai di rumah sakit, saya lihat luka di tubuh Lucky tambah banyak lagi. Lebih banyak dari yang saya lihat awal waktu dia ke rumah," ungkap Maria.
Ia terus menjenguk Lucky di rumah sakit hingga akhirnya prajurit muda itu meninggal dunia pada 6 Agustus 2025.
Penetapan Tersangka
Kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23) menarik perhatian publik. Prada Lucky, yang bertugas di Batalion TP 834/Waka Nga Mere, diduga kuat menjadi korban penganiayaan oleh senior-seniornya sebelum meninggal.
Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto mengungkapkan bahwa sebanyak 20 personel TNI telah ditetapkan sebagai tersangka, termasuk seorang perwira, dan semuanya telah ditahan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Komandan Brigade Infanteri (Brigif) 21/Komodo, Letkol Inf Agus Ariyanto, juga mengonfirmasi berita kematian Prada Lucky dan menegaskan bahwa TNI berkomitmen untuk menyelesaikan kasus ini dengan transparan sesuai dengan hukum militer yang berlaku.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5313394/original/072148100_1754993029-Infografis_HEADLINE_cms__4_.jpg)