Perlu Daya Kritis Tinggi Menerima Info dari Media Sosial, Jangan Sampai Tersesat
Masyarakat harus memiliki kearifan dan kecerdasan tertentu dalam mengkonsumsi konten di media sosial
Derasnya arus informasi ibarat pedang bermata dua. Jika gagal dalam mengelola dikhawatirkan generasi muda rentan mengonsumsi narasi secara mentah akan terjerumus pada tindakan intoleransi dan radikalisme.
Akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia Yogyakarta Risang Anggoro Elliarso menilai masyarakat harus memiliki kearifan dan kecerdasan tertentu dalam mengkonsumsi konten digital.
"Publik harus bisa naik level sampai kecerdasan digital, bahkan kearifan digital, agar penggunaan dunia digital membawa kemaslahatan bagi bangsa dan kemanusiaan," kata Risang dalam keterangannya, Rabu (9/7).
Menurut Risang, konten digital menganut sistem alogaritma dalam penyajian informasi sehingga pengguna cenderung mendapatkan konten yang mereka minati.
Yang menjadi bahaya, kata Risang, adalah ketika pengguna terus seakan mendapatkan validitas terhadap keyakinan tertentu dari konten yang disajikan sehingga membuat mereka tidak mempedulikan pandangan-pandangan lain.
"Akibatnya, mereka merasa bahwa pemikiran, perasaan, dan apa yang mereka pahami adalah yang paling valid dan benar. Padahal, di luar sana ada banyak pemikiran dan pandangan lain," jelas Risang.
Hal lain yang harus dimiliki agar tidak tersesat dalam informasi yakni daya kritis tinggi. Daya kritis tinggi perlu dipakai agar masyarakat tidak serta merta menelan informasi melainkan mencari tahu lebih dalam tentang informasi tersebut
"Ketiga, kita juga butuh metacognition, yaitu kesadaran akan proses berpikir dan perasaan kita saat menerima informasi digital, terutama di media sosial," kata Risang.
Dengan adanya ragam kemampuan itu, Risang yakin pengguna media digital di Indonesia akan semakin dewasa dan tidak akan mudah terpengaruh dengan ragam informasi sesat.
"Misalnya, kita perlu sadar ketika marah, jengkel, atau tertarik pada suatu informasi, lalu bertanya kenapa kita merasakan itu, dan meregulasi respons kita terhadapnya. Ini bagian dari critical thinking dan digital wisdom," tandasnya.