Perhatikan, begini penyebaran antraks pada manusia harus diwaspadai
Perhatikan, begini penyebaran antraks pada manusia harus diwaspadai. "Jika sapi tersebut makan rumput dan tidak ada kekebalan, sapi terkena antraks. Sapi yang terkena antraks jangankan dipotong, dibuka saja tidak boleh karena sporanya akan terbang dan jika kita hirup terkena paru-paru."
Beredar kabar penyakit antraks mewabah di kawasan Kulonprogo, Jawa Tengah. Bahkan disebut-sebut, ada belasan orang terjangkit antraks.
Mencegah korban terus berjatuhan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian meminta masyarakat waspada. Selain itu, diminta pula waspada dengan penyebaran antraks di lingkungan tempat tinggal mereka.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita, mengatakan penyakit menular yang umumnya ditularkan melalui hewan, contohnya sapi ternak. Cara penularan ada tiga macam.
"Antraks ada tiga penyerangannya, melalui kulit karena infeksi luka, melalui pernapasan, dan ketiga lewat pencernaan karena orang itu makan daging yang terkena antraks," kata I Ketut Diarmita di Jakarta. Demikian dikutip Antara, Selasa (24/1).
Diarmita mengatakan, infeksi luka pada manusia bisa menjadi media penyebaran antraks ke kulit. Sementara itu, paru-paru akan terserang jika spora antraks terhirup ke saluran pernapasan.
Ditambahkannya, sebagian wilayah Indonesia yang sedang dilanda musim hujan membuat intensitas sinar berkurang. Saat itulah, spora antraks dengan bakteri 'bacillus anthracis' menimbulkan penyakit dan naik ke permukaan dan memudahkan penyebarannya melalui hewan.
"Jika sapi tersebut makan rumput dan tidak ada kekebalan, sapi terkena antraks. Sapi yang terkena antraks jangankan dipotong, dibuka saja tidak boleh karena sporanya akan terbang dan jika kita hirup terkena paru-paru," kata dia.
Dia mengimbau masyarakat yang memiliki hewan ternak, baik sapi, kambing, maupun domba untuk berwaspada dan tidak menyembelih ternak yang mati mendadak. Diakuinya, antraks sebagai penyakit bersarang pada tanah itu memang sulit diberantas. Namun mudah dikendalikan karena penyebabnya bakteri, bukan virus yang mewabah.
Dinas Kesehatan serta masyarakat setempat pun harus bisa mengendalikan penyakit dengan memberikan vaksin hewan ternak setiap enam bulan secara berkala agar bebas dari antraks. Pencegahan antraks berkaitan dengan beredarnya di jejaring sosial media bahwa adanya beberapa orang terjangkit virus antraks.
Kasus tersebut muncul setelah tersebar surat pemberitahuan No.YK.01-02/I/1222/2017 dari RSUP Sardjito kepada Dinas Kesehatan Sleman, jika korban HA kelahiran 18 Maret 2008 tersebut meninggal akibat virus antraks.
Namun, Dinas Kesehatan Sleman maupun RSUP Sardjito membantah isi surat tersebut. Tidak hanya surat, pesan berantai di grup-grup warga pun bermunculan.
Pesan berantai tersebut meminta agar masyarakat menghindari wilayah Godean dan Sardjito. Dalam pesan berantai tersebut, warga dilarang untuk memakan daging sapi.
Baca juga:
Suspect Antraks, hasil lab bocah H dipastikan Puslitbangkes Kemenkes
Kementan sebut penyebaran virus Antrax lewat 3 cara
DPR minta pemerintah beri sosialisasi soal penyebaran virus anthrax
Bocah terdiagnosa suspect antraks sakit mendadak sebelum meninggal
Wapres JK tegaskan pasien antraks harus diperlakukan khusus
Anak berusia 8 tahun meninggal dunia, didiagnosa suspect antraks
Warga diminta tak potong hewan ternak mati mendadak