Pemprov Kalbar Perkuat Layanan Kesehatan Mata, RS Mata PEC Jadi Solusi Rujukan Luar Negeri
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat serius memperkuat layanan kesehatan mata dengan beroperasinya Rumah Sakit Mata Pontianak Eye Center (PEC), menawarkan solusi canggih untuk menekan rujukan ke luar negeri dan mengurangi beban RSUD.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) mengambil langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan spesialis mata di wilayahnya. Hal ini diwujudkan melalui peresmian operasional Rumah Sakit Mata Pontianak Eye Center (PEC) di Pontianak pada Minggu, 25 Januari. Kehadiran fasilitas kesehatan modern ini diharapkan dapat menekan angka rujukan pasien ke luar negeri, khususnya ke Kuching, Malaysia, sekaligus mengurangi beban layanan di rumah sakit pemerintah.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menyambut baik inisiatif pendirian rumah sakit mata ini. Menurutnya, PEC menjadi solusi penting bagi masyarakat yang selama ini sering mencari pengobatan mata di luar negeri. Dengan fasilitas canggih dan peralatan mutakhir yang kini tersedia di dalam daerah, masyarakat memiliki pilihan layanan kesehatan mata berkualitas tinggi tanpa perlu bepergian jauh.
Norsan menekankan bahwa keberadaan fasilitas kesehatan berteknologi modern seperti PEC akan meningkatkan efisiensi pelayanan. Ini mencakup aspek waktu, biaya, dan aksesibilitas bagi masyarakat. Kecepatan layanan medis, mulai dari pemeriksaan hingga tindakan, sangat krusial agar pasien dapat segera tertangani dengan baik.
Inovasi dan Fasilitas Canggih di RS Mata PEC
Pontianak Eye Center (PEC) hadir dengan berbagai fasilitas canggih dan peralatan mutakhir yang dirancang untuk memberikan layanan terbaik bagi pasien. Gubernur Norsan secara langsung mencontohkan bahwa jika sebelumnya masyarakat mampu harus ke Kuching untuk layanan mata, kini dengan adanya PEC, pilihan terbaik ada di dalam negeri. Fasilitas ini diharapkan dapat menarik pasien yang selama ini berobat ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan di Kalbar.
Sebagai rumah sakit mata, PEC menghadirkan sejumlah layanan unggulan baru yang inovatif. Di antaranya adalah Dry Eye Clinic, yang secara khusus ditujukan untuk penanganan keluhan mata kering, terutama pada kelompok lansia yang sering mengalaminya. Selain itu, tersedia juga layanan Ortho-K bagi anak dan remaja penderita rabun jauh yang belum memenuhi syarat untuk menjalani prosedur LASIK, memberikan alternatif penanganan yang efektif.
Tidak berhenti di situ, PEC juga tengah mempersiapkan inovasi besar berupa Bank Mata. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi donor kornea berbasis digital, yang diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan jaringan kornea. Dengan adanya Bank Mata, operasi transplantasi kornea dapat dilakukan di Kalimantan Barat, menghilangkan kebutuhan rujukan pasien ke luar daerah dan mewujudkan mimpi untuk menangani kasus kompleks di Kalbar.
Dukungan Pemprov dan Tantangan Tenaga Medis
Pemerintah Provinsi Kalbar memberikan apresiasi tinggi terhadap pendirian PEC, melihatnya sebagai langkah maju dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan daerah. Gubernur Norsan menyoroti pentingnya efisiensi layanan, baik dari segi waktu, biaya, maupun akses masyarakat terhadap penanganan medis yang cepat dan tepat. Ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai bagi warganya.
Aspek keterjangkauan layanan juga menjadi perhatian utama, dengan adanya komitmen dari PEC untuk menerima pasien peserta BPJS Kesehatan. Hal ini sangat penting untuk membantu mengurangi penumpukan pasien di RSUD dr. Soedarso yang selama ini sering mengalami kelebihan kapasitas. Sebagai bentuk dukungan lebih lanjut, Pemprov Kalbar juga berencana menambah kapasitas layanan di RSUD dr. Soedarso dengan pembangunan 123 kamar baru pada tahun ini, guna memperluas akses perawatan bagi masyarakat luas.
Meski demikian, Gubernur Norsan mengakui adanya tantangan signifikan terkait ketersediaan tenaga medis spesialis di Kalimantan Barat. Saat ini, Kalbar baru memiliki sekitar 27 dokter spesialis mata. Padahal, kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 57 hingga 60 dokter untuk melayani sekitar 6,7 juta penduduk. Kekurangan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus terus didorong penambahannya agar layanan kesehatan semakin merata di seluruh wilayah.
Upaya Menekan Angka Kebutaan dan Aksesibilitas
Direktur Pontianak Eye Center, dr. Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa peningkatan status dari klinik menjadi rumah sakit merupakan langkah konkret. Ini dilakukan untuk menekan angka kebutaan yang masih cukup tinggi di Kalimantan Barat. Secara nasional, jumlah penyandang kebutaan diperkirakan mencapai sekitar 760 ribu jiwa, dengan penyebab utama seperti katarak, kelainan refraksi, glaukoma, retinopati, dan gangguan kornea.
Hingga Desember 2025, PEC telah berhasil melakukan sekitar 30 ribu operasi katarak. Namun, dr. Iqbal mengakui bahwa jumlah tersebut masih jauh dari harapan yang diinginkan. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala, termasuk jarak tempuh pasien yang jauh dan pembatasan tindakan oleh BPJS Kesehatan. Kendala-kendala ini menjadi fokus untuk dicarikan solusi agar lebih banyak pasien dapat tertangani.
Dengan adanya fasilitas dan inovasi yang terus dikembangkan, PEC memiliki mimpi besar untuk menangani lebih banyak kasus kompleks di Kalimantan Barat. Harapannya, pasien dengan kondisi kornea yang memerlukan transplantasi tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah. Ini akan menjadikan Kalbar sebagai pusat penanganan kasus mata yang komprehensif, meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Sumber: AntaraNews