Pembangunan Rumah Apung untuk Warga Terdampak Rob di Demak Dimulai, Anggaran Capai Rp120 Juta per Unit
Rumah apung tersebut akan dibangun berdekatan dengan rumah asli milik warga, agar mereka tetap memiliki keterikatan dengan tempat tinggal lama.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) akan membangun tiga unit rumah apung bagi warga yang terdampak banjir rob di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.
Kepala Disperakim Jateng, Boedya Dharmawan, mengatakan bahwa satu unit rumah apung sederhana membutuhkan anggaran sekitar Rp120 juta. Pendanaan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov Jateng, Bank Jateng, dan Pemerintah Kabupaten Demak.
"Paling sederhana yaitu Rp120 juta itu anggarannya berkolaborasi Pemprov, Bank Jateng, dan Kabupaten," ujar Boedya, Selasa (24/6).
Rumah apung tersebut akan dibangun berdekatan dengan rumah asli milik warga, agar mereka tetap memiliki keterikatan dengan tempat tinggal lama.
"Rumah apung dibangun dekat dengan rumah asli, kalau ini masuk airnya, ya sudah pindah ke rumah apung," tambahnya.
Masih Banyak Warga Belum Tertangani
Dari total 110 rumah warga yang terdampak rob di Sayung, pembangunan tiga rumah apung ini merupakan tahap awal. Boedya mengakui bahwa upaya ini masih belum mencakup keseluruhan warga terdampak, dan pihaknya berencana meminta dukungan dari pemerintah pusat.
"Ini belum kita tangani semua, ke depan akan kita alokasikan untuk anggaran tahun 2026. Semoga kita dapat kepastian penganggarannya, kita akan upayakan bisa teranggarkan di pusat lewat APBN,” jelasnya.
Disperakim juga membuka opsi relokasi bagi warga yang memiliki lahan di luar area terdampak rob, dengan catatan bahwa lahan tersebut milik pribadi.
"Lahan yang kita relokasi milik masyarakat sendiri, yang menghendaki relokasi karena mereka punya lahan sendiri," tuturnya.
Lebih lanjut, Boedya mengungkapkan bahwa penanganan banjir rob di Sayung dalam jangka panjang akan difokuskan pada pembangunan tanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) serta kolam retensi.
"Itu dapat mengurangi masalah rob. Sebab, proses pembangunan tidak semudah itu, multiyears," ujar Boedya.
Ia menyebut Gubernur Jawa Tengah telah meninjau langsung proyek ini dan memastikan bahwa penataan infrastruktur penanggulangan rob sudah mulai berjalan.
"Pak Gubernur sudah cek kejelasannya bagaimana, memang di schedule sudah berjalan, sudah ada penataan infrastruktur yang mungkin,” pungkasnya.