Pekan depan, kubu Gus Solah gugat hasil muktamar NU
"Kita gugat kemana saja yang bisa digugat. Apa gunanya kita bikin AD-ART kalau tidak dipatuhi," pungkas Tarmizi.
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kepulauan Riau, Tarmizi Tohor mengatakan pihaknya sudah tepat mengugat hasil muktamar NU ke-33. Dia menilai hasil muktamar tidak sesuai dengan mekanisme anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD-ART) Nahdlatul Ulama dan banyak kejadian yang melanggar peraturan tata tertib.
Untuk itu, pihak Gus Solah dan KH Hasyim Muzadi akan menggugat hasil muktamar kemarin. Untuk proses gugatan, pihak Gus Solah dan KH Hasyim Muzadi ini akan segera melayangkan gugatan tersebut kepada pihak yang berwenang. "Pengajuan gugatan secepatnya, paling cepat minggu depan," ujar Tarmizi saat jumpa pers tentang Forum PWNU menolak dan menggugat hasil Muktamar NU di Hotel Maharadja, Jl Piere Tendean, Jakarta Selatan, Jumat (14/8).
Tarmizi menambahkan, timnya akan berusaha keras menggugat hasil muktamar NU ke-33. "Kita gugat kemana saja yang bisa digugat. Apa gunanya kita bikin AD-ART kalau tidak dipatuhi," pungkasnya.
"Rentetan kejadian di muktamar itu memang melanggar peraturan yang ada. Jalan terbaik kita duduk bersama, jalankan musyawarah ulang (muktamar ulang)," imbuhnya.
Menurutnya, tidak mempersoalkan siapapun yang jadi pemimpin PBNU. Namun, mereka kecewa dengan mekanisme aturan pemilihan yang tidak sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART).
"Kita tidak kecewa, kita semua teman. Yang kami minta aturan di AD-ART itu jangan dibelokan-lah. Kalau kita mau mengubah, silakan mengubah, tapi aturan baru tersebut dipakai empat tahun ke depan di kepengurusan selanjutnya.
"Semua aturan bisa diubah, kecuali Alquran yang nggak boleh diubah," tegasnya.
Dia juga tidak mau gegabah menilai kemenangan hasil muktamar NU ke-33 itu ada unsur kepentingan kelompok. "Kita belum mengkaji sampai disitu, tapi yang kita lihat yaitu porses pemilihannya yang tidak prosedural," bebernya.
Dia menegaskan organisasi NU ini milik masyarakat luas dan milik bangsa bukan milik segelintir kelompok tertentu. "Nahdlatul Ulama milik semua orang, yang pasti milik umat Islam, pahamnya NU ahli Sunah wal Jamaah, ya sudah dia bagian dari NU," kata Tarmizi.
Tarmizi juga menyesalkan peristiwa waktu proses masuk ke dalam muktamar petugas Banser dengan arogan mendorong-dorong kiai. "Ada sekitar 4000 yang medaftar dikawal Banser sedemikian rupa. Pintu hanya sekian meter, kiai-kiai tua (sepuh) dijaga dan dihalangi oleh puluhan Banser. Udah kaya preman saja. Ada kelucuan apa sampai terjadi seperti ini? Sehingga menimbulkan kecurigaan, ada apa?" tanya Tarmizi.
Baca juga:
Desak muktamar NU diulang, kubu Hasyim Muzadi tak ingin NU tandingan
Said Aqil: Tidak ada yang menggugat hasil muktamar NU
Mencontoh demokrasi yang ditampilkan Muhammadiyah
Khofifah: NU tidak pecah tetapi ada kritikan atas muktamar
Hasil muktamar digugat, akankah konflik NU seperti parpol?
Cerita Gus Mus menangis di muktamar dan tolak jabatan tertinggi NU
Hasyim Muzadi: Gus Mus tak mau jadi Rais Aam dengan proses abal-abal