Musim Kemarau Panjang, Penyusutan Waduk Gesek Ancam Pasokan Air Bersih di Bintan
Waduk Gesek di Kabupaten Bintan mengalami Penyusutan Waduk Gesek drastis hingga 1,6 meter akibat kemarau panjang, mengancam pasokan air bersih bagi warga. Simak upaya PDAM Tirta Kepri dan Pemkot Tanjungpinang dalam mengatasi krisis ini.
Tanjungpinang, ANTARA - Waduk Gesek di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang merupakan salah satu sumber utama air bersih bagi masyarakat, mengalami penyusutan ketinggian air yang signifikan. Penurunan ini mencapai 1,6 meter dari kondisi normal, sebagai dampak langsung dari musim kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap ketersediaan air bersih di tengah masyarakat.
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri melaporkan bahwa ketinggian air di Waduk Gesek kini hanya tersisa 40 centimeter dari sebelumnya 2 meter. Pjs Kasubag Produksi PDAM Tirta Kepri, Abdur Razak, menjelaskan bahwa gundukan tanah yang sebelumnya tertutup air kini mulai terlihat jelas akibat tidak adanya hujan selama kurang lebih 38 hari terakhir.
Meskipun demikian, PDAM Tirta Kepri tetap berupaya maksimal untuk menjaga distribusi air bersih kepada pelanggan. Berbagai langkah mitigasi telah dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air, meskipun dengan debit yang terbatas.
Dampak Kemarau dan Kondisi Terkini Waduk Gesek
Musim kemarau ekstrem telah menyebabkan Waduk Gesek di Bintan mengalami penyusutan air yang sangat mencolok. Ketinggian air yang semula mencapai 2 meter kini hanya sekitar 40 centimeter, menunjukkan penurunan drastis sebesar 1,6 meter. Fenomena ini diakibatkan oleh absennya hujan selama lebih dari sebulan, tepatnya 38 hari, yang mengakibatkan terbukanya gundukan tanah di dasar waduk yang sebelumnya terendam air.
Kondisi ini secara langsung berdampak pada kapasitas produksi air bersih PDAM Tirta Kepri. Meskipun debit air berkurang, PDAM tetap mengoperasikan waduk Gesek selama 24 jam penuh untuk memenuhi kebutuhan dasar pelanggan. Namun, pembatasan distribusi menjadi tak terhindarkan mengingat pasokan air baku yang semakin menipis.
Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, menegaskan bahwa wilayahnya sangat bergantung pada Waduk Gesek, Waduk Sei Pulai, dan ketersediaan air tanah. Penyusutan air waduk akibat kemarau ini secara langsung mengganggu distribusi air bersih kepada masyarakat.
Upaya PDAM Tirta Kepri Menjaga Pasokan Air
Menanggapi krisis ini, PDAM Tirta Kepri telah melakukan serangkaian upaya untuk menjaga kelancaran distribusi air. Salah satu langkah yang diambil adalah normalisasi atau penebasan di beberapa tali air (Daerah Aliran Sungai) untuk memperlancar aliran air menuju Waduk Gesek.
Selain itu, PDAM juga mendapatkan dukungan dari Badan Wilayah Sungai (BWS) yang turut membantu perbaikan struktur bangunan pendukung Waduk Gesek. Kolaborasi ini diharapkan dapat mengoptimalkan aliran air yang masuk ke waduk, meskipun dalam kondisi kemarau.
Untuk mengantisipasi semakin parahnya kondisi, PDAM Tirta Kepri menerapkan skema berbagi distribusi air dengan Waduk Sei Pulai. Waduk Sei Pulai dinilai masih memiliki ketinggian air yang lebih aman, sekitar 2,52 meter dari sebelumnya 4 meter. Dengan skema ini, wilayah Tanjungpinang yang sebelumnya dilayani Waduk Gesek kini dibatasi hingga kilometer 10, sementara area dari Batu 10 ke bawah akan dilayani oleh Waduk Sei Pulai.
Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Doa Bersama
Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Bersama dengan masyarakat, Pemkot Tanjungpinang melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) menyiapkan pasokan air dari Waduk Sei Pulai. Air ini kemudian diangkut menggunakan mobil tangki untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Sebagai bentuk ikhtiar spiritual, Pemkot Tanjungpinang bersama masyarakat juga melaksanakan shalat minta hujan atau Istisqa. Kegiatan shalat sunnah ini digelar di lapangan Pamedan Ahmad Yani, dihadiri oleh Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza, Kepala OPD, jajaran ASN, Forkopimda, tokoh agama, alim ulama, serta ratusan warga dari berbagai kalangan.
Raja Ariza menyatakan bahwa shalat Istisqa ini merupakan munajat kepada Allah SWT agar diturunkan hujan secukupnya dan membawa keberkahan bagi Tanjungpinang. Upaya fisik dan spiritual ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menghadapi dampak kemarau panjang yang mengancam pasokan air bersih.
Sumber: AntaraNews