LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

MUI: Radikalisme muncul karena perbedaan paham

Para pelaku intoleransi harus diberi ketegasan bahwa masyarakat Indonesia tidak akan mudah dipengaruhi oleh mereka.

2015-03-26 03:01:00
Kerukunan umat beragama
Advertisement

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Misbahul Munir mengatakan, para pelaku intoleransi yang kerap mengkafirkan kelompok lain harus diberi ketegasan bahwa masyarakat Indonesia tidak akan mudah dipengaruhi oleh mereka.

"Saya ingin sampaikan dan kita akan publikasikan besar-besaran bahwasanya Indonesia tidak seperti apa yang mereka bayangkan. Yang mudah dihasut hanya dengan mengkafirkan kelompok lain. Kita bisa bersatu saat ini dalam melawan kelompok-kelompok intoleran tersebut," kata Misbahul di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).

Misbahul mengutip pepatah lama yang memberikan petuah bahwa setiap orang harus menghormati keyakinan orang lain yang berbeda dengannya.

"Pujilah istrimu setinggi langit, tapi jangan mencaci istri orang lain'. Maksudnya, jangan pernah mencaci ideologi orang lain, karena dia pun akan balik mencacimu," ujar Misbahul.

Misbahul mengaku prihatin dengan maraknya penggunaan simbol-simbol agama yang justru digunakan untuk melakukan kejahatan kepada pemeluk agama lain. Dirinya bahkan berani menyebut bahwa ideologi Wahabisme dari tanah arab, sebagai salah satu dalang di balik kelompok-kelompok intoleran tersebut.

"Saya sedih, sekarang banyak tampilan orang yang meneriakkan takbir, tapi untuk melakukan pengeboman kepada orang yang lagi salat Jumat seperti yang terjadi di Yaman kemarin. Jangan biarkan radikalisme masuk ke Indonesia. Kami MUI akan meredam mereka bahkan sejak mereka mulai berdiri," kata Misbahul.

"Menurut saya, radikalisme itu muncul karena perbedaan paham. Maka jangan heran sekarang banyak kuburan dibom, karena bahkan ada kelompok intoleran yang mengatakan bahwa Abu Jahal dan Abu Sofyan, dianggap lebih alim daripada orang yang bertawassul dan ziarah kubur. Ya mereka itulah antek ideologi Wahabi yang sudah banyak di Indonesia ini," pungkasnya.

Baca juga:
'Keyakinan tak bisa dipaksakan oleh negara apalagi oleh kelompok'
7 Tempat ini jadi bukti kalau perbedaan keyakinan bisa menyejukkan
Potret kehidupan muslim Brasil di Masjid Salahudin Al-Ayubi
Menteri agama ingin Indonesia jadi kiblat pendidikan Islam dunia
RUU PUB mengatur kriteria membuat agama baru
Keharmonisan Hindu-Tionghoa di Griya Kongco Dwipayana Kuta
Menteri Agama: Jangan ada adu domba angkat isu Sunni-Syiah

(mdk/dan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.