Momen Mencekam: Tim Pagari Pasia Laweh Didekati Harimau Sumatera Agam Saat Penanganan Konflik
Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Pasia Laweh mengalami momen menegangkan saat berhadapan langsung dengan Harimau Sumatera Agam di Tabuah-Tabuah, memicu respons cepat BKSDA untuk mitigasi konflik.
Tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengalami insiden mendebarkan. Mereka didekati seekor Harimau Sumatera saat sedang menangani konflik satwa liar di wilayah Tabuah-Tabuah. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, dan menjadi pengalaman pertama bagi beberapa anggota tim.
Ketua Tim Pagari Pasia Laweh, Bambang Purnama, menyatakan bahwa harimau tersebut mendekat hingga jarak sekitar lima meter. Kejadian ini berlangsung saat tim bersama masyarakat setempat memasang kamera jebak untuk memantau pergerakan satwa. Penanganan konflik ini dilakukan menyusul laporan kemunculan harimau di area perkebunan warga.
Pemasangan kamera jebak dilakukan di dua titik strategis, yakni di lokasi warga melihat harimau keluar dari semak-semak sawah. Titik kedua berada di perbukitan yang tidak jauh dari lokasi penampakan awal. Upaya ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memantau individu Harimau Sumatera yang berkonflik dengan manusia.
Detik-detik Pertemuan Tim Pagari dengan Harimau Sumatera Agam
Tim Pagari Pasia Laweh, yang beranggotakan sembilan orang, tengah sibuk memasang kamera jebak ketika Harimau Sumatera muncul. Satwa dilindungi itu tiba-tiba keluar dari semak-semak tidak jauh dari posisi mereka. Bambang Purnama mengungkapkan bahwa harimau tersebut kemudian menghindar setelah menyadari keberadaan tim.
Peristiwa ini terjadi di Tabuah-Tabuah, Jorong Palupuh, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh. Tim Pagari dan masyarakat setempat berupaya merespons laporan konflik satwa liar yang semakin intens. Pemasangan dua unit kamera jebak menjadi bagian dari strategi awal penanganan Harimau Sumatera Agam.
Kamera pertama dipasang di area persawahan tempat warga sebelumnya melihat harimau keluar dari semak-semak. Sementara itu, kamera kedua ditempatkan di perbukitan terdekat untuk memperluas cakupan pemantauan. Insiden ini menegaskan urgensi penanganan konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di wilayah tersebut.
Respons BKSDA dan Pemasangan Kamera Jebak Lanjutan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat segera merespons kejadian ini dengan serius. Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menambahkan bahwa warga setempat juga melihat Harimau Sumatera sebelum Tim Pagari Pasia Laweh melihat satwa dilindungi itu. Video kemunculan harimau di Ladang Ateh bahkan sempat viral di media sosial.
BKSDA Sumbar telah memasang enam kamera jebak tambahan di titik-titik jalur satwa yang teridentifikasi. Penentuan lokasi ini didasarkan pada jejak kaki atau cakaran yang ditemukan di sekitar area. Pemasangan kamera ini bertujuan untuk identifikasi usia, jenis kelamin, serta memantau pergerakan Harimau Sumatera secara lebih komprehensif.
Ade Putra menambahkan, kamera-kamera ini akan dipasang selama beberapa hari ke depan. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah individu harimau yang muncul di berbagai lokasi adalah individu yang sama. Data dari kamera jebak sangat penting untuk strategi mitigasi konflik jangka panjang terkait Harimau Sumatera Agam.
Imbauan dan Kewaspadaan Masyarakat Terhadap Harimau Sumatera
Merespons serangkaian kemunculan Harimau Sumatera, BKSDA Sumbar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta untuk sementara waktu tidak beraktivitas di sekitar lokasi kemunculan harimau. Langkah ini penting untuk menghindari potensi interaksi langsung yang berbahaya.
Masyarakat juga diimbau untuk mengandangkan ternak mereka dengan aman. Harimau Sumatera merupakan predator puncak yang dapat menyerang hewan ternak jika merasa terancam atau mencari mangsa. Tindakan pencegahan ini diharapkan dapat mengurangi kerugian materiil bagi warga.
Konflik antara manusia dan Harimau Sumatera seringkali dipicu oleh hilangnya habitat dan berkurangnya sumber pakan alami satwa. Edukasi dan partisipasi aktif masyarakat sangat krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan meminimalkan konflik dengan Harimau Sumatera Agam.
Sumber: AntaraNews