Misi Kemanusiaan di Belantara Karst Celebes: Operasi SAR Dramatis Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung
Simak kisah heroik di balik Operasi SAR Bulusaraung yang penuh tantangan, menembus medan ekstrem untuk menemukan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung.
Sebuah pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT jatuh dan hancur di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1). Kawasan karst purba ini berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, dikenal dengan tebing cadas curamnya. Pesawat tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan membawa 10 orang dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) segera digelar pada Sabtu (17/1) sore setelah kabar hilangnya pesawat diterima. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) melalui Kantor SAR Makassar memimpin tim gabungan. Tim ini terdiri dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, serta masyarakat setempat.
Posko operasi didirikan di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, sebagai pusat kendali. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Makassar, Andi Sultan, ditunjuk sebagai koordinator lapangan. Lebih dari 300 personel tim gabungan dibagi menjadi 16 tim SRU untuk menyisir area pencarian secara intensif.
Medan Ekstrem dan Tantangan Operasi SAR Bulusaraung
Pegunungan Bulusaraung, yang dijuluki “adventure paradise”, berubah menjadi medan duka bagi tim SAR gabungan. Area ini menyajikan tebing cadas curam dan lorong-lorong karst eksotis yang kini menjadi saksi bisu tragedi. Operasi SAR di Bulusaraung bukanlah tugas yang mudah, mengingat kondisi geografisnya yang sangat menantang.
Tim harus berjalan kaki menanjak selama berjam-jam, membawa peralatan berat jungle rescue melintasi jalur yang belum terjamah. Mereka bahkan terpaksa membuka jalur evakuasi secara manual, menembus rapatnya hutan dan memanjat tebing curam. Kondisi ini membuat setiap langkah evakuasi menjadi sangat berisiko.
Cuaca buruk juga menjadi hambatan utama, dengan hujan dan kabut tebal menyelimuti puncak gunung setinggi 1.359 meter di atas permukaan laut. Jarak pandang yang terbatas, kurang dari lima meter, meningkatkan risiko bagi personel di lapangan. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, memutuskan untuk memimpin langsung operasi dari Posko Utama di Makassar demi memastikan koordinasi yang efektif.
Syafii menekankan pentingnya kekompakan, disiplin, dan kepatuhan terhadap komando sebagai kunci keberhasilan operasi. Hal ini sangat krusial mengingat risiko tinggi di medan seperti Pegunungan Bulusaraung.
Penemuan Korban dan Kotak Hitam Pesawat
Berkat kerja sama solid dan analisis data, tim gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat dalam waktu kurang dari 24 jam sejak pencarian intensif dimulai. Serpihan badan pesawat ditemukan tersangkut di sela-sela batu karst di sisi utara-timur laut puncak Bulusaraung. Penemuan ini menjadi petunjuk penting yang mempercepat proses pencarian.
Tak lama berselang, korban pertama ditemukan di dasar jurang sedalam sekitar 200 meter dengan kemiringan tajam. Posisi korban di antara serpihan pesawat menunjukkan benturan keras yang terjadi. Mohammad Syafii melaporkan bahwa evakuasi harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap.
Keselamatan personel SAR menjadi prioritas utama, mengingat potensi longsor serta jatuhnya batuan dari ketinggian. Evakuasi korban dilakukan oleh tim SRU darat menggunakan tali dan tandu, karena helikopter tidak dapat mendarat di lokasi. Rusmadi, seorang rescuer, menceritakan sulitnya proses evakuasi jenazah pertama yang harus bermalam di lereng tebing selama kurang lebih 30 jam karena kondisi alam yang tidak memungkinkan.
Selain korban, tim SAR juga berhasil menemukan kotak perekam data penerbangan atau black box. Temuan ini krusial untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat. Kotak hitam kemudian diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk investigasi lebih lanjut.
Dedikasi Tanpa Batas dalam Misi Kemanusiaan
Proses identifikasi korban dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) di Posko Biddokes Polda Sulawesi Selatan. Data post mortem dan antre mortem dicocokkan dengan pihak keluarga korban untuk memastikan identitas. Tiga jenazah telah teridentifikasi: Florencia Lolita Wibisono, Deden Maulana, dan Esther Aprilita.
Identifikasi yang bertahap ini menunjukkan tanggung jawab moral kepada keluarga yang menanti kepastian di tengah duka. Seluruh korban, meskipun ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dievakuasi dengan penuh kehati-hatian sebagai bentuk penghormatan. Ini juga menunjukkan dedikasi para penyelamat.
Operasi SAR dinyatakan resmi selesai pada Jumat (23/1) malam, tepat di hari ketujuh operasi, setelah seluruh korban dan kotak hitam ditemukan. Keputusan ini diambil setelah evaluasi menyeluruh oleh komando operasi dan memastikan tidak ada lagi objek yang perlu dicari di lokasi kejadian.
Keberhasilan operasi ini bukan hanya soal teknologi dan peralatan, melainkan juga ketahanan mental, kekuatan fisik, dan kekompakan. Selama seminggu penuh, personel SAR gabungan bekerja di bawah tekanan dan risiko, namun tetap berpadu menyalakan suar kemanusiaan di belantara Bulusaraung.
Sumber: AntaraNews