Meunasah Darurat Pidie Jaya Dibangun di Atas Lumpur Sisa Banjir, Target Selesai Sebelum Ramadan
Pembangunan meunasah darurat Pidie Jaya di atas timbunan lumpur sisa banjir terus dikebut, diharapkan rampung sebelum Ramadan untuk memenuhi kebutuhan ibadah warga.
Kementerian Agama bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tengah menginisiasi pembangunan meunasah darurat di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Pembangunan ini menjadi solusi cepat bagi warga terdampak banjir bandang yang kehilangan akses tempat ibadah. Lokasi pembangunan dipilih langsung di atas timbunan lumpur sisa banjir yang telah mengeras, menunjukkan adaptasi terhadap kondisi pascabencana.
Meunasah darurat ini dibangun sebagai respons atas kerusakan parah yang dialami Desa Manyang Cut akibat luapan Sungai Meureudu pada akhir November 2025. Material lumpur dan kayu yang dibawa banjir menimbun banyak bangunan, termasuk tempat ibadah utama warga. Inisiatif ini bertujuan untuk segera memulihkan fungsi sosial dan keagamaan masyarakat di tengah keterbatasan.
Proses pengerjaan meunasah telah berlangsung selama tiga minggu dan kini memasuki tahap pemasangan atap dengan rangka baja. Meskipun belum sepenuhnya rampung, warga setempat telah memanfaatkan sebagian area untuk beribadah. Target penyelesaian proyek ini diharapkan dapat tercapai sebelum bulan Ramadan tiba, memungkinkan masyarakat beribadah dengan lebih nyaman.
Pembangunan Adaptif di Tengah Tantangan Lingkungan
Pembangunan meunasah darurat di Desa Manyang Cut menghadapi tantangan unik karena lokasinya. Struktur bangunan didirikan langsung di atas lapisan lumpur sisa banjir yang telah mengeras, dengan ketebalan mencapai 2 hingga 2,5 meter. Ketua Posko Darurat Kebencanaan Desa Manyang Cut, Teuku Nazarudin, menjelaskan bahwa pengerukan lumpur secara keseluruhan tidak lagi memungkinkan karena volumenya yang sangat besar.
Desa Manyang Cut merupakan salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang pada akhir November 2025. Luapan Sungai Meureudu membawa material lumpur dan kayu yang menimbun permukiman warga. Kondisi ini memaksa pendekatan pembangunan yang adaptif agar fasilitas publik, khususnya tempat ibadah, dapat segera berfungsi kembali.
Meunasah darurat ini dirancang dengan luas 14x10 meter, menggunakan konstruksi rangka baja, lantai panggung, dan dinding semipermanen setinggi 1,2 meter. Selain itu, di area yang sama juga dibangun sumur bor oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) serta fasilitas toilet dari sebuah perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dukungan Kemenag dan Baznas untuk Pemulihan Ibadah
Anggaran pembangunan meunasah darurat ini berasal dari kolaborasi antara Kementerian Agama dan Baznas, dengan melibatkan partisipasi aktif dari warga setempat. Keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan menunjukkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap pemulihan kondisi pascabencana.
Warga sangat membutuhkan perbaikan tempat ibadah karena Meunasah Krueng Baroh, yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan keagamaan, masih tertimbun lumpur tebal. Upaya pembersihan sempat dilakukan oleh warga dan relawan, namun air kembali membanjiri bangunan saat hujan, menjadikannya tidak layak pakai.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Aceh, Azhari, mengungkapkan bahwa 98 persen dari 737 masjid dan mushala di Aceh yang terdampak bencana telah kembali berfungsi, meskipun dalam kondisi darurat. Data ini telah diverifikasi dan menunjukkan upaya besar dalam pemulihan fasilitas ibadah.
Target Penyelesaian dan Harapan Menjelang Ramadan
Meskipun pembangunan masih berlangsung, warga Desa Manyang Cut telah menggunakan sebagian area meunasah darurat untuk beribadah, termasuk saat malam Nisfu Syaban. Teuku Nazarudin menyebutkan bahwa mereka shalat di tanah karena belum ada penerangan yang memadai.
Target utama penyelesaian meunasah ini adalah sebelum bulan Ramadan tiba, agar masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dan shalat tarawih dengan layak. Kondisi darurat tempat ibadah menjadi perhatian serius mengingat pentingnya peran masjid dan mushala dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat Aceh.
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) juga berencana memberikan bantuan renovasi untuk masjid dan mushala yang rusak berat, sedang, maupun ringan. Setiap masjid akan menerima bantuan Rp50 juta, sementara mushala akan mendapatkan Rp30 juta. Namun, bantuan ini tidak berlaku untuk bangunan yang kondisinya sudah tidak dapat digunakan lagi.
Azhari berharap agar masjid dan mushala yang rusak dapat segera bersih dan berfungsi optimal untuk masyarakat beribadah, terutama menjelang Ramadan. Upaya pemulihan ini mencerminkan komitmen pemerintah dan lembaga filantropi dalam mendukung masyarakat terdampak bencana.
Sumber: AntaraNews