Menteri Karding soal Lima WNI Ditembak di Malaysia Diduga Terlibat Jaringan Narkoba: Saya Cek Kedutaan Tidak Benar
Sebelumnya penyelidikan penembakan WNI oleh otoritas keamanan Malaysia berpotensi berkembang menjadi investigasi perdagangan narkotika atau senjata api.
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding memastikan pernyataan Menteri Dalam Negeri Malaysia Saifuddin Nasution Ismail tidak sepenuhnya benar.
Hal ini terkait ucapannya soal penyelidikan kasus penembakan lima Warga Negara Indonesia (WNI) oleh Otoritas Maritim Malaysia atau Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) di perairan Selangor, berpotensi berkembang menjadi investigasi perdagangan narkotika atau senjata api.
"Saya sudah cek ya, pernyataan itu tidak sepenuhnya benar," kata Karding kepada wartawan di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (5/2).
Karding menegaskan, apa yang disampaikan Saifuddin tidak sepenuhnya benar. "Saya sudah cek ke kedutaan, bahwa itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Semoga saja tidak benar," ujar Karding.
Penyelidikan WNI Ditembak di Malaysia
Sebelumnya, penyelidikan penembakan lima warga negara Indonesia (WNI) oleh Otoritas Maritim Malaysia atau Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) berpotensi berkembang menjadi investigasi perdagangan narkotika atau senjata api. Diketahui, kejadian ini terjadi pada Jumat 24 Januari 2025, pukul 03.00 pagi di perairan Tanjung Rhu, Malaysia.
"Kami tidak menutup kemungkinan bahwa setelah interogasi lebih lanjut terhadap para tersangka, kasus ini bisa berkembang menjadi penyelidikan perdagangan narkoba atau senjata api, berdasarkan pola yang serupa dalam investigasi sebelumnya," kata Menteri Dalam Negeri Malaysia, Saifuddin Nasution Ismail, dalam konferensi pers di gedung Parlemen Malaysia pada Senin (3/2), sebagaimana dikutip dari Free Malaysia Today, Selasa (4/2).
Saifuddin juga menyebut, kelima WNI yang terlibat dalam insiden tersebut merupakan imigran ilegal tanpa dokumen resmi.
Satu Orang Diduga Terlibat Perdagangan Manusia
Saifuddin menjelaskan, penyelidikan awal perkara tersebut telah mengarah pada penangkapan seorang pria yang diduga terlibat dalam perdagangan manusia.
"Investigasi awal menemukan bahwa pria tersebut memiliki keterkaitan dengan kapal yang dikejar oleh APMM," jelasnya.
Pria tersebut diyakininya berperan sebagai 'pengangkut' imigran ilegal melalui jaringan penyelundupan yang lebih luas.