Menko PMK: Nilai Nyepi Sangat Relevan untuk Kondisi Dunia Penuh Kebisingan
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menilai nilai Nyepi sangat relevan diterapkan di tengah hiruk-pikuk dunia modern, menawarkan kejernihan dan refleksi diri yang mendalam.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan relevansi Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dengan kondisi dunia kontemporer. Pernyataan ini disampaikan dalam puncak Dharma Santi Nasional 2026 di Denpasar, Bali.
Menurut Pratikno, Nyepi menawarkan jeda dari kebisingan global, memungkinkan individu memulihkan kejernihan pikiran. Ia menekankan pentingnya menata perhatian agar tidak terbawa arus hiruk-pikuk dunia yang penuh kebisingan.
Pada Jumat, 17 April 2026, Menko PMK menggarisbawahi bahwa nilai-nilai Catur Brata Penyepian dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan hanya tentang hening fisik, melainkan juga introspeksi mendalam untuk menemukan makna.
Refleksi Diri Melalui Amati Geni dan Amati Karya
Pratikno menjelaskan bahwa Amati Geni mengajarkan pengendalian emosi, khususnya amarah dan kebencian. Dengan menerapkan prinsip ini, seseorang dilatih untuk berhenti sejenak sebelum terbakar emosi dan bertindak gegabah.
Prinsip Amati Karya mengajak manusia untuk merenungkan pekerjaan yang dilakukan. Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap aktivitas tidak merusak, melainkan berfokus pada kerja yang bermakna dan bernilai kemanusiaan.
Kedua nilai ini mendorong individu untuk lebih bijaksana dalam bertindak dan berkarya. Ini merupakan langkah awal menuju kehidupan yang lebih tenang dan produktif di tengah tekanan modern yang serba cepat.
Menemukan Ketenangan dalam Amati Lelungan dan Amati Lelanguan
Amati Lelungan menekankan pentingnya meluangkan waktu untuk tidak bepergian, melainkan duduk tenang. Ini adalah kesempatan untuk mengunjungi batin sendiri atau menikmati kebersamaan dengan keluarga di rumah.
Menko PMK menyoroti fenomena keluarga yang berkumpul secara fisik namun minim komunikasi karena terpaku pada gawai masing-masing. “Kalau di meja makan ya tidak lihat HP sendiri-sendiri, sekarang banyak keluarga yang berkumpul secara fisik tapi tidak pernah berkomunikasi,” ujar Pratikno.
Sementara itu, Amati Lelanguan dapat diartikan sebagai menahan diri dari hiburan berlebihan. Tujuannya adalah memulihkan kepekaan terhadap sesama, seperti korban ketidakadilan, dan terhadap bumi yang sering terluka.
Nilai-nilai ini mengajak setiap individu untuk kembali terhubung dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ini adalah fondasi untuk membangun masyarakat yang lebih empatik dan peduli terhadap sesama.
Nyepi untuk Indonesia yang Lebih Manusiawi
Pratikno juga berbagi pengalamannya tentang berita bencana dan insiden yang terus-menerus terjadi, menimpa manusia dan alam. Semangat Nyepi dapat menjadi refleksi penting dalam upaya pencegahan dan penanganan isu-isu tersebut.
Ia menekankan kebutuhan akan individu yang peka, tidak mudah terpancing emosi, dan setia pada nilai-nilai kebaikan. Hal ini sejalan dengan esensi Nyepi yang mengajarkan pengendalian diri untuk mencapai kedamaian.
“Karena keadilan tidak lahir dari kebisingan, tapi keadilan lahir dari kejernihan dalam melihat diri sendiri maupun melihat sesama,” tegas Pratikno. Ia mengajak untuk membangun Indonesia yang lebih manusiawi melalui kemampuan menahan diri, berpikir mendalam, dan bertindak dengan welas asih.
Penerapan nilai-nilai Nyepi diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil, damai, dan harmonis. Ini adalah panggilan untuk introspeksi kolektif demi masa depan yang lebih baik bagi bangsa.
Dharma Santi Nasional 2026: Puncak Perayaan Nyepi
Dharma Santi Nasional 2026 mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju”. Acara ini merupakan puncak rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Saka 1948.
Selain Menko PMK Pratikno, hadir pula Kepala BPIP RI, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, serta Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Ratu Isyana Bagoes Oka.
Penutupan rangkaian Hari Suci Nyepi di Taman Budaya Art Center ini juga dihadiri oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Bali, serta berbagai tokoh adat dan agama.
Sumber: AntaraNews