Mengapa Perempuan Pesisir Lebih Rentan? YASMIB Sulawesi Desak Kebijakan Iklim Berkeadilan Gender
YASMIB Sulawesi mendesak pemerintah daerah untuk mengintegrasikan Kebijakan Iklim Berkeadilan Gender, menyoroti kerentanan perempuan pesisir dan perdesaan terhadap krisis iklim.
Yayasan Swadaya Mitra Bangsa (YASMIB) Sulawesi secara aktif mendorong kebijakan iklim yang berkeadilan gender di berbagai daerah. Organisasi ini bekerja sama dengan berbagai unsur penthahelix untuk mengadvokasi isu krusial ini. Dorongan ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif YASMIB Sulawesi, Risniaty Pengurusan, di Makassar pada Selasa, 4 November.
Risniaty menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya sekadar isu lingkungan semata, melainkan memiliki kaitan erat dengan keadilan gender. "Perubahan iklim yang ramai diperbincangkan baik terkait penyebab maupun dampaknya, itu bukan sekadar isu lingkungan melainkan juga erat kaitannya dengan keadilan gender," ujarnya.
Fokus utama advokasi ini adalah menyoroti kerentanan perempuan, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pesisir, kepulauan, dan perdesaan. Kelompok ini seringkali menjadi yang paling terdampak langsung oleh krisis iklim, membutuhkan perhatian serius dari para pemangku kepentingan.
Kerentanan Perempuan di Tengah Krisis Iklim
Perempuan, terutama di daerah pesisir dan perdesaan, seringkali memikul peran tradisional sebagai pengelola utama air, pangan, dan energi rumah tangga. Peran ini membuat mereka merasakan dampak langsung dan paling parah ketika terjadi perubahan iklim yang ekstrem. Misalnya, saat kemarau panjang atau banjir, akses terhadap sumber daya vital ini menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini memaksa perempuan untuk bekerja lebih keras dan mengambil risiko yang lebih besar demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Saat musim kemarau panjang, perempuan pesisir dan perdesaan harus menempuh jarak jauh untuk mencari air bersih. Hal ini tidak hanya menambah beban fisik tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan mereka secara signifikan.
Beban kerja yang bertambah dan waktu istirahat yang berkurang akibat krisis iklim memperparah kerentanan perempuan. Ironisnya, di tengah kondisi ini, perempuan seringkali kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Keterlibatan mereka dalam mitigasi dan adaptasi iklim di tingkat desa maupun kebijakan masih sangat minim.
Perempuan sebagai Agen Perubahan Iklim yang Kuat
Mencermati kondisi tersebut, YASMIB Sulawesi memandang bahwa kebijakan penanganan iklim harus dilihat dari sudut pandang keadilan gender. Rosmiaty menjelaskan bahwa solusi adaptasi tidak akan efektif tanpa mengakui peran ganda dan tantangan spesifik yang dihadapi perempuan. Perempuan memiliki pengetahuan turun-temurun tentang cuaca, benih, dan pengelolaan hasil alam yang resisten terhadap perubahan.
Oleh karena itu, perempuan harus didorong tidak hanya dipandang sebagai korban, tetapi juga sebagai agen perubahan yang kuat di lapangan. Pelibatan perempuan dalam pengambilan kebijakan terkait perubahan iklim dapat diwujudkan melalui pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas atau pertanian lestari. Pengalaman menunjukkan bahwa partisipasi mereka membawa dampak positif yang signifikan.
Rosniaty menambahkan, "Sudah banyak keberhasilan program di lapangan karena peran perempuan. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus menyiapkan ruang untuk mendorong peran perempuan dan meningkatkan kapasitasnya." Pernyataan ini menekankan pentingnya memberdayakan perempuan untuk berkontribusi lebih aktif dalam upaya adaptasi dan mitigasi iklim.
Integrasi Perspektif Gender dalam Kebijakan Iklim
YASMIB Sulawesi berharap para pemangku kepentingan di Sulawesi dapat mengintegrasikan perspektif gender secara menyeluruh dalam aksi iklim. Integrasi ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari perencanaan hingga penganggaran program-program terkait resiliensi terhadap perubahan iklim. Pelibatan perempuan dalam setiap tahapan ini menjadi prasyarat penting.
Pelibatan perempuan secara aktif memastikan bahwa kebijakan yang dibuat akan lebih adil dan efektif dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Dengan demikian, kebutuhan dan pengalaman spesifik perempuan dapat diakomodasi dengan baik. Hal ini juga akan memperkuat kapasitas komunitas dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Pentingnya pengaruh gender sebagai prasyarat untuk adaptasi perubahan iklim yang adil dan efektif perlu menjadi prioritas. Langkah ini tidak hanya akan melindungi kelompok rentan, tetapi juga memanfaatkan potensi besar perempuan sebagai inovator dan pelaksana solusi berkelanjutan di tingkat lokal. Dengan demikian, upaya penanganan iklim akan lebih komprehensif dan inklusif.
Sumber: AntaraNews