Mengapa Identifikasi Korban Helikopter BK117 D3 Butuh Waktu Lama? Tim DVI Ungkap Tantangan Berat
Proses Identifikasi Korban Helikopter BK117 D3 yang jatuh di Kalsel memerlukan ketelitian tinggi. Tim DVI menghadapi tantangan serius, membuat identifikasi butuh waktu.
Tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) menyatakan ketelitian ekstrem sangat dibutuhkan dalam proses identifikasi jasad korban kecelakaan helikopter BK117 D3. Helikopter nahas tersebut jatuh di kawasan hutan Desa Emil Baru, Mentewe, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.
Proses rumit ini dilakukan menyusul kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan parah, hangus terbakar, dan telah mengalami pembusukan tingkat lanjut. Hal ini menjadi tantangan besar bagi tim forensik dalam menentukan identitas korban secara akurat.
Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes Pol dr Muhammad El Yandiko menegaskan bahwa akurasi dan ketepatan adalah prioritas utama. Publik dan keluarga korban diminta untuk bersabar mengingat kompleksitas yang dihadapi dalam upaya Identifikasi Korban Helikopter ini.
Tantangan Utama Proses Identifikasi Korban
Kombes Pol dr Muhammad El Yandiko menjelaskan bahwa tim tidak bisa terburu-buru dalam menentukan identitas korban. “Kami mengedepankan akurasi dan ketepatan dalam mengidentifikasi. Tidak bisa buru-buru dalam menentukan identitas korban,” ujarnya dalam konferensi pers Operasi DVI Polri.
Kondisi tiga jasad WNI yang sulit diidentifikasi menjadi bukti nyata tantangan tersebut. Jenazah yang hangus terbakar dan mengalami pembusukan tingkat lanjut membuat metode identifikasi konvensional menjadi tidak efektif. Jika belum yakin, tim akan mencari data tambahan hingga identitas korban benar-benar terkonfirmasi.
Yandiko memastikan bahwa seluruh tahapan Identifikasi Korban Helikopter dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Tiga standar utama yang diterapkan meliputi sidik jari, rumus gigi, dan tes deoxyribonucleic acid (DNA). Namun, sidik jari dan rumus gigi seringkali tidak dapat digunakan karena kondisi jenazah yang rusak parah.
Sidik jari sulit diambil karena pembusukan tingkat lanjut dan luka bakar berat. Rumus gigi pada jasad juga tidak lengkap atau bahkan tidak ada. Oleh karena itu, tes DNA menjadi alternatif terakhir yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Progres dan Daftar Korban Kecelakaan Helikopter BK117 D3
Hingga Sabtu (6/9), Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi tiga WNA dari total delapan korban kecelakaan helikopter tersebut. Sementara itu, dari lima jasad WNI yang belum teridentifikasi, dua di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda identitas yang mengarah pada pengenalan tanpa tes DNA, namun masih dalam pendalaman.
Korban kecelakaan helikopter ini meliputi seorang pilot bernama Kapten Haryanto dari Kota Batam, Kepulauan Riau, dan teknisi bernama Hendra Darmawan dari Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Selain itu, terdapat enam penumpang yang terdiri dari Mark Werren (Australia), Santha Kumar Prabhakaran (India), dan Claudine Pereira Quito (Brasil).
Tiga penumpang WNI lainnya adalah Iboy Irfan Rosa dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Yudi Febrian Rahman dari Pekan Baru, Riau, serta Andys Rissa Pasulu dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Tim terus bekerja keras untuk menyelesaikan Identifikasi Korban Helikopter yang tersisa.
Bangkai helikopter ditemukan oleh Tim SAR di titik 03° 5’6” S – 115° 37’39.07” E pada Rabu (3/9) sekitar pukul 14.45 WITA. Lokasi penemuan berada di kawasan hutan sekitar Desa Emil Baru, Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu, Kalsel, setelah helikopter hilang kontak sejak Senin (1/9) sekitar pukul 08.54 WITA. Seluruh jasad berhasil dievakuasi pada Kamis (4/9) malam sekitar pukul 21.50 WITA.
Sumber: AntaraNews