Mengais Rupiah Tanpa Khawatir Diusir
Lokasi parkir gratis untuk driver ojek online di sejumlah mal Jakarta tak perlu pusing mencari tempat ketika ingin mengambil pesanan makanan pelanggan.
Deretan motor ojek online (ojol) memenuhi parkiran di salah satu sudut Mal Cilandak Town Square, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Tempat itu bukan untuk umum, melainkan parkiran khusus untuk driver ojek daring.
Parkir gratis untuk driver Grab. Begitu tulisan spanduk berkelir hijau di tempat parkir itu. Jangan lupa kunci stang. Tambah pesan peringatan di spanduk tersebut.
Lokasi itu memiliki fungsi vital. Tempat driver ojol datang dan pergi silih berganti. Menunggu makanan atau barang dari dalam mal pesanan konsumen. Mengambil. Lalu mengantarkanya kepada konsumen. Pesanan itu tiba di rumah.
Pelanggan cukup memesan barang atau makanan melalui aplikasi khusus layanan ojol sudah diunduh di gawai. Layanan yang semula hanya jasa antar kini bermetamorfosis menjadi publik service. Pelanggan kini tak perlu ribet ke mal. Antre berjam-jam. Cukup menunggu di rumah. Pesanan datang diantar driver ojol. Simpel.
Tambahan layanan jasa itu juga menjadi bonus bagi driver. Di ttempat driver menunggu itu adalah ruang mengais rezeki. Mereka berharap order makanan, paket, atau penumpang terus berdatangan.
Subur (40), salah satu driver ojol mengaku sering mengambil pesanan makanan maupun penumpang di Citos. Subur mengaku bisa lima kali mendapatkan pesanan dari mal ini. Meskipun tempat parkir khusus ini tak luas, keberadaannya membuat driver senang, termasuk subur.
Subur mengaku tak perlu pusing mencari lokasi parkir motor ketika ingin mengambil pesanan makanan. Apalagi parkiran tersebut gratis, tanpa khawatir diusir.
“Untuk Citos sendiri di mal ini disediakan buat ojol (parkir), untuk restonya juga enak-enak sih,” kata Subur kepada Liputan6.com saat ditemui, Jumat (15/5).
Selain mendapatkan parkiran khusus, mal ini juga tidak mempermasalahkan aturan pakaian bagi para ojol. Mereka bebas lalu lalang di dalam mal menggunakan jaket mitra masing-masing. Sederhana dan merasa dihargai. Lokasi parkirnya pun cukup dekat, sehingga tidak perlu banyak waktu terbuang saat mengambil pesanan.
Harapan Subur tak muluk-muluk. Parkiran untuk pengemudi ojol sudah cukup baginya. Karena yang terpenting, bisa ambil pesanan tanpa perlu bingung dimana harus menitipkan motornya. Apalagi jika harus memarkirkannya di pinggir jalan, selain risiko dicuri, ada pula risiko motornya diangkut petugas Dinas Perhubungan (Dishub).
Parkir Nyaman Tapi Jauh
Pengalaman berbeda dirasakan Rizki (42), seorang ojol yang ditemui Liputan6.com di Pondok Indah Mall 1 (PIM 1). Ia mengaku jarak dari tempat parkir kerap kali menjadi hambatan yang membuatnya harus lebih cepat mengambil pesanan.
Berbeda dengan Citos, lokasi parkiran ojol di PIM 1 berada di ujung mal, sehingga cukup memakan waktu Apalagi harus dikejar waktu pengantaran. Inilah yang menjadi perhatian bagi Rizki.
Dia menyebut, sebenarnya keluhan ini bukan muncul hanya dari dirinya saja, melainkan sejumlah pengemudi ojol lain yang sering ambil pesanan di PIM 1. “Cuma memang yang dikendala jaraknya aja sih (jauh),” jelas Rizki sambil membawa pesanannya.
Mau bagaimana pun, Rizki tetap merasa lebih aman karena tidak perlu parkir sembarangan di pinggir jalan, meski harus jalan cukup jauh dan dikejar waktu. Ia juga membandingkan beberapa Mal di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang “cukup” sulit memarkirkan motornya.
Meski begitu, Ia tetap bersyukur, pengelola mal memberikan lahan khusus bagi ojol yang ingin mengambil pesanan di PIM 1. Tempatnya pun gratis dan nyaman, apalagi ada petugas keamanan berjaga.
Baginya, fasilitas parkir ini membuat para ojol lebih tenang ketika meninggalkan kendaraannya untuk mengambil pesanan. Sebab, tanpa adanya area parkir yang memadai, Rizki mengatakan bahwa para ojol seringkali terpaksa memarkirkan motornya di pinggir jalan. Ia menyebut, kondisi ini berisiko ditertibkan oleh petugas Dishub.
“Kalau parkiran sih aman. Aman karena ada security-nya,” jelas dia kepada Liputan6.com.
Selain itu, biaya parkir gratis juga menguntungkan baginya. Bukan tidak mau membayarnya, tapi seringkali biaya parkir harus menombok sendiri. Padahal, itu bukan kewajibannya. Karena biaya parkir menjadi tanggungjawab customer.
Inilah yang dia hindarkan, tak jarang Rizki bertemu customer yang enggan membayar parkir. Bahkan, Ia juga pernah dituduh yang tidak benar oleh customer karena pembayaran parkir tersebut.
Karena itu, Rizki bersyukur setidaknya beberapa Mal di Jakarta Selatan yang sering didatanginya terdapat parkiran khusus ojol.
Mencari Order Tanpa Khawatir Diusir
Bergeser ke Pondok Indah Mall 2 (PIM). Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) tampak berjejer di pinggiran jalan dekat lobi 2 PIM 2. Beberapa dari mereka ada yang sedang menurunkan penumpang, ada yang menjemput, ada pula yang standby sambil bersantai menunggu notifikasi masuk ke ponselnya.
Salah satu pengemudi ojol, Jaelani (44) mengaku sering mangkal di sekitaran Pondok Indah Mall (PIM), khususnya PIM 2. Meskipun ada waktunya Ia berpindah ke beberapa titik lain untuk mencari penumpang.
Jaelani mengungkapkan, salah satu alasan dirinya sering menunggu pesanan di area PIM 2 karena nyaman. Ia mengaku, petugas keamanan mal tidak mengganggu atau mengusir para ojol yang sedang mangkal menunggu penumpang.
“Kalau di sini aman, security aman. Aman benar di sini, emang di sini ditunjukin di sini (titik penjemputan),” kata Jaelani kepada Liputan6.com.
Menurut Jaelani, pengelola mal sebenarnya menyediakan parkiran khusus ojol, termasuk di PIM 2. Namun, fasilitas tersebut biasanya itu dituju bagi mereka yang mengambil pesanan makanan, bukan penumpang. Sementara bagi pengemudi yang fokus ambil penumpang, area depan lobi 2 PIM 2 dinilai cukup nyaman untuk menunggu pesanan masuk.
Bukan di PIM, Jaelani mengatakan bahwa dirinya juga pernah “ditegur” oleh sekuriti suatu mal tertentu ketika menunggu pesanan masuk. Meski tidak ingat kejadian pastinya seperti apa, Ia menyebut beberapa mal di daerah Senayan cukup tidak ramah bagi pengemudi ojol.
“Iya, Selatan, Pusat di sini sih, tapi tengahnya ya dekat Senayan gitu, Senayan, SCBD itu susah itu ngetem-ngetem gini juga susah, Gak boleh,” kata dia.
Dia menjelaskan, beberapa mal memang hanya memperbolehkan untuk menurunkan atau menjemput penumpang saja, setelah itu harus langsung pergi. Salah satu mal berada di kawasan Gandaria.
Sebab itu, bagi Jaelani, menunggu penumpang sambil bersantai di depan PIM 2 menjadi salah satu yang paling nyaman tanpa perlu khawatir diusir. Meski dinilai nyaman bagi para pengemudi ojol, Jaelani masih berharap fasilitas penunjang lain dapat disiapkan, seperti shelter yang lebih memadai. Tempat ini nantinya bukan sekadar untuk menunggu penumpang, tapi juga berteduh jika tiba-tiba hujan melanda.
Selain itu, ketersediaan stop kontak juga menjadi perhatian baginya. Sebagai pengemudi ojol, memastikan ponsel tetap hidup adalah keharusan. Apabila disediakan stop kontak untuk mengisi daya, tentu menjadi kesenangan tambahan bagi Jaelani dan pengemudi lainnya.
“Ya kalau di sini fasilitasnya paling ya, misalkan kayak charger HP, misalkan apa gitu tempatnya biar lebih nyaman lagi, ada buat berteduh nantinya,” tambah dia.
Ketika Shelter Jadi Tempat Aman
Pemandangan berbeda di tempat parkir pengemudi ojek online (ojol), khususnya (Grab) di area Mal Kota Kasablanka. Bukan sekadar menitipkan motor, tempat ini merupakan Shelter Grab yang sengaja disediakan untuk memudahkan mobilitas para mitra. Shelter ini juga tersedia fasilitas lain, seperti tempat mengisi daya ponsel, air mineral, tempat duduk, toilet umum, bahkan CCTV.
Nanang (48), salah satu pengemudi ojol (Grab) sekaligus penjaga shelter, menyebut bahwa pos sebenarnya dibuat langsung oleh perusahaan sebagai fasilitas untuk mitra, bukan dari pengelola mal. Meski begitu, adanya shelter ini tetap sangat membantu bagi para ojol.
Apalagi, kata Nanang, beberapa minggu belakang pihak Dinas Perhubungan (Dishub) sering melakukan penyisiran bagi pemotor yang parkir sembarangan. Bukan cuma motor ojol, pengendara biasa juga tak luput dari perhatian petugas. Karena itulah, adanya fasilitas ini sangat menguntungkan para mitra ojol.
“Yang nggak ojol yang nggak umum pokoknya yang parkir di jalan kan diangkut semua. Yang di halte-halte itu diangkut semua,” kata Nanang.
Nanang pun cukup selektif mengecek setiap ojol yang ingin memarkirkan motornya. Ia menegaskan, para pengemudi diwajibkan memakai atribut, minimal jaket. Bukan tanpa alasan, cara ini supaya menghindari oknum pengemudi nakal yang ingin hanya memanfaatkan fasilitas parkir saja.
Selain itu, sesekali Nanang mengecek akun para pengemudi guna memastikan benar-benar ada pesanan. Dua cara tersebut sebagai upaya menjaga ketertiban parkir, apalagi saat hari-hari libur dimana traffic pemesanan cukup tinggi. Kondisi ini mengharuskan para ojol harus bergantian parkir satu sama lain.
Meskipun dibangun oleh Grab, tak jarang ojol dari mitra lain turut memarkirkan kendaraannya di shelter ini. Nanang mengatakan awalnya memang dilarang, meski akhirnya diperbolehkan. Alasannya simpel, lebih baik diizinkan dibandingkan harus berkonflik sesama ojol.
Kepercayaan Grab memberikan amanah kepada Nanang memiliki alasan yang jelas. Dia menerangkan, biasanya setiap wilayah memiliki komunitas masing-masing, termasuk area Mal Kokas. Nanang dan beberapa pengemudi yang terbiasa “mangkal” di area Kokas sudah paham betul kawasannya tersebut. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, dirinya pun bisa langsung menemui pengelola mal untuk mencari jalan keluar.
“Yang bisa ngelobi ke dalem misalkan ada masalah dia ngerti jalurnya, ke Kokas-nya,” kata Nanang.
Pihak mal pun menyambut baik. Meski shelter ini hanya diperuntukan untuk pengemudi yang ingin drop off atau pick barang maupun makanan, bukan untuk penumpang. Kendati demikian, traffic ojol di shelter tersebut cukup padat silih berganti. Ada yang pergi, lalu ada pula yang datang. Namun, jika ada penumpang yang ingin mendapatkan ojol, Nanang dan mitra lainnya siap siapa membantu. Walaupun titik penjemputan tidak langsung di Shelter, melainkan di pinggir jalan.
Rasa aman dan nyaman juga dirasakan oleh Anton (56) dengan keberadaan shelter ini. Selain membantu mobilitas ojol sehingga lebih mudah, shelter ini juga memberikan rasa aman pada kendaraannya. Tak ada lagi rasa khawatir helm atau barang hilang.
“Sangat diuntungkan Bang karena kita itu kalau kadang-kadang di tempat lain itu parkir di luar Bang di luar mall di luar mall kita khawatir apa segala macam,” kata Anton kepada Liputan6.com.
Sementara aturan berpakaian dari pihak Mal Kokas, seperti melepas atau membalikan jaket ojolnya bagi tidak masalah. Ia pun merasa tidak terganggu, selagi masih bisa mengambil pesanannya. Petugas keamanan pun justru sering membantu para ojol yang tampak kebingungan, apalagi bagi yang jarang ke lokasi tersebut.
Cerita lain datang dari Sukardi (45), dengan adanya shelter ini Ia merasa tidak perlu was-was saat ingin mengambil pesanan di Mal Kokas. Sukardi tidak perlu lagi parkir sembarangan yang justru meningkatkan risiko masalah lain, seperti ban dikempeskan, bahkan diangkut oleh Dishub.
Selama menjadi ojol, Sukardi mengaku bersyukur belum pernah merasakan kejadian-kejadian tersebut, termasuk diusir petugas keamanan mal karena mangkal di titik tertentu. Sebaliknya, Ia merasa terbantu dengan adanya petugas keamanan tersebut. Sebagai ojol, bukan hanya satu dua mal yang didatangi.
Situasi ini kerap kali membuat dirinya harus bertanya dimana restoran atau tempat yang akan dituju olehnya, termasuk Mal Kokas.
Antara Parkir Gratis dan Oknum Ojol
Ada persamaan antara cerita Nanang di Mal Kokas dan Rizki di PIM 1, yaitu permasalahan biaya parkir yang sering kali membuat pengemudi ojol mengelus dada. Nanang mengungkapkan, banyak customer yang belum paham bahwa biaya parkir ditanggung olehnya. Mereka hanya berpikir sudah bayar melalui aplikasi. Padahal, kata Nanang, itu hanya biaya ongkos antar, tidak termasuk parkir.
Karena itulah, ketersediaan tempat parkir bagi ojol menjadi sangat berarti bagi mereka. Selain nyaman, tidak perlu ada biaya tambahan parkir yang harus ditagih kepada customer.
Akan tetapi, Nanang tidak tutup mata bahwa masih banyak mitra yang nakal dengan meminta biaya parkir kepada customernya. Dari berbagai cerita yang Ia dapat, para pengemudi ojol ini dengan sengaja meminta biaya kepada customer padahal sebenarnya gratis. Tidak jarang, oknum-oknum seperti ini akunnya kena banned.
Di sela cerita, Nanang kembali memanggil salah satu ojol yang datang parkir di tempat tersebut. Tidak pakai basa-basi, Ia langsung meminta ojol tersebut menunjukan akunnya sebagai bukti ada pesanan. Setelah dibuka, akun tersebut terkunci. Ia memang tidak tahu pasti penyebabnya apa, tapi masalah biaya parkir bisa jadi salah satu alasannya.
Gesekan Lama Area Penjemputan
Nanang bersyukur, pengelola mal dan pihak Grab khususnya mitra ojol yang berada di lapangan bisa saling mengerti mengenai lahan parkir tersebut. Ia kembali menegaskan, meskipun dibiayai dari perusahaan, Nanang tetap terbuka untuk ojol dari mitra lainnya. Baginya, menghindari konflik lebih baik.
Hal ini tidak terlepas dari pimpinan perusahaan yang telah berganti. Sebelumnya, kata Nanang, pimpinan tersebut agak kaku sehingga mitra ojol di luar perusahaannya tidak boleh masuk area tersebut. Nanang pun hanya nurut, apalagi lokasi ini juga dipantau oleh CCTV.
Kini, tempat parkir ini menjadi lebih terbuka dan fleksibel untuk para ojol berbagai perusahaan. Meskipun tetap ada aturan atau etika yang harus dipatuhi guna kenyamanan dan ketertiban bersama.
Di sela obrolan, Nanang bercerita kejadian beberapa tahun lalu, dimana sempat terjadi gesekan antara mitra GrabCar dengan pihak security mal.
Kala itu, pengemudi GrabCar dipukul oleh seorang security. Usut punya usut, insiden ini disebabkan karena kesalahpahaman. Pengemudi GrabCar saat itu sedang menunggu penumpang, namun tidak kunjung datang. Padahal, untuk antar jemput di lobi mal Kokas maksimal lima menit.
Oleh karena itu, Nanang menyarankan bagi para customer yang ingin memesan Taksi Online, alangkah lebih baik menunggu dahulu di lobi dibandingkan harus ditunggu oleh pengemudinya.
“Ya karena pokoknya kalau mobil kan itu jalannya gantian pokok nunggu 5 menit, lebih dari 5 menit pasti suruh geser valet-nya,” kata dia.
Namun kini, kebersamaan tersebut kembali terjadi. Bukan hanya pihak mal kepada perusahaan, melainkan antar sesama mitra. Karena bagi Nanang, saling mengerti satu sama lain saja sudah cukup.
Di tengah padatnya Jakarta dan ketatnya berbagai aturan yang ada, para pengemudi ojol sebenarnya tidak menuntut banyak. Tempat parkir yang nyaman dan aman, ruang tunggu layak, hingga merasa dihargai sudah cukup bagi mereka.