Menag Nasaruddin Umar Berharap Indonesia Jadi Contoh Utama Negara Paling Toleran di Dunia
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan harapannya agar Indonesia menjadi contoh utama negara paling toleran dan rukun di dunia, didukung kerukunan yang terus meningkat serta komitmen menjaga kedamaian.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan harapan besar agar Indonesia dapat menjadi teladan global sebagai negara yang paling majemuk, toleran, dan rukun di dunia. Pernyataan ini disampaikan Nasaruddin di Jakarta pada hari Sabtu, 9 Mei 2026, menekankan pentingnya kerukunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, tidak ada satu pun etnis atau manusia yang tidak menyukai kerukunan, kedamaian, dan toleransi. Harapan ini menjadi ekspektasi ke depan bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk terus memelihara nilai-nilai luhur tersebut.
Sejak kemerdekaan, tingkat kerukunan di Indonesia dinilai semakin tinggi, didukung oleh peran Kepala Negara yang memberikan ruang luas bagi umat beragama. Oleh karena itu, Nasaruddin berharap tidak ada pihak mana pun yang berupaya mengganggu kedamaian dan harmoni yang telah terjalin erat di tengah masyarakat.
Meningkatnya Kerukunan dan Peran Pemimpin Negara
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti peningkatan signifikan dalam tingkat kerukunan di Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan. Peningkatan ini tidak lepas dari peran aktif Kepala Negara yang secara konsisten menyediakan ruang bagi seluruh umat beragama untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.
Nasaruddin menegaskan bahwa kerukunan dan kedamaian adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Beliau berharap agar tidak ada pihak-pihak yang mencoba mengganggu stabilitas ini, mengingat pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Itu harapan kita, ekspektasi ke depan. Tidak ada orang, tidak ada manusia, etnik mana pun yang tidak suka dengan kerukunan, kedamaian, dan toleransi,” kata Nasaruddin di Jakarta, Sabtu. Pernyataan ini menggarisbawahi keinginan universal akan harmoni yang harus terus dipupuk di Indonesia.
Simbol Toleransi dan Rencana Masa Depan
Salah satu simbol nyata toleransi di Indonesia yang diapresiasi oleh Nasaruddin adalah hadirnya Terowongan Silaturahmi. Terowongan ini secara fisik menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta, merepresentasikan kedekatan dan harmoni antarumat beragama di ibu kota.
Lebih lanjut, Nasaruddin menuturkan bahwa upaya untuk memperkuat toleransi tidak akan berhenti pada simbol semata. Kementerian Agama berencana untuk melanjutkan dengan berbagai kegiatan lintas budaya, lintas etnik, lintas agama, dan lintas kebudayaan.
“Insya Allah, ke depan, tak berhenti di sini. Kami juga akan melanjutkan dengan melakukan berbagai macam kegiatan lintas budaya, lintas etnik, lintas agama, lintas kebudayaan, dan betul-betul Indonesia itu suatu keutuhan, Indonesia itu sebuah konfigurasi seperti lukisan,” tutur Nasaruddin. Inisiatif ini bertujuan untuk semakin mengukuhkan Indonesia sebagai sebuah kesatuan yang utuh dalam keberagaman.
Jakarta sebagai Tolok Ukur Keamanan dan Kerukunan
Menteri Agama Nasaruddin Umar juga mengapresiasi capaian Jakarta yang belum lama ini menduduki peringkat kedua kota teraman di Asia Tenggara, setelah Singapura. Prestasi ini menunjukkan keberhasilan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tengah dinamika perkotaan yang kompleks.
Laporan Global Residence Index edisi 16 Januari 2026 menunjukkan Jakarta menempati peringkat kedua dalam daftar kota teraman di Asia Tenggara pada 2026 dengan skor 0,72, di bawah Singapura dengan skor 0,90. Jakarta berhasil mengungguli kota-kota besar lainnya di kawasan Asia Tenggara.
“Kita sudah mengalahkan Filipina dan mengalahkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Tingkat kerukunan kita pun juga mencapai puncaknya, mohon dipertahankan,” ungkap Nasaruddin. Keberhasilan Jakarta ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kota atau wilayah lain di Indonesia untuk mencapai tingkat keamanan dan kerukunan yang serupa.
Sumber: AntaraNews