Kronologi Terbongkarnya Praktik 4 Joki Ujian TOEFL CBEPT Universitas Jember
Kepala UPA TIK Universitas Jember, Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra menyampaikan bahwa timnya berhasil menangkap empat orang.
Tim siber Unit Penunjang Akademis Teknologi Informasi dan Komunikasi (UPA TIK) Universitas Jember berhasil menggagalkan praktik perjokian dalam ujian Computer-Based English Proficiency Test (CBEPT) di UPA Bahasa Universitas Jember.
Kepala UPA TIK Universitas Jember, Prof. Bayu Taruna Widjaja Putra menyampaikan bahwa timnya berhasil menangkap empat orang yang terlibat dalam aksi tersebut. Dua di antaranya merupakan mahasiswa aktif, sementara dua lainnya adalah alumni.
"Dari sistem kami terdeteksi adanya aktivitas jaringan yang tidak wajar. Setelah ditelusuri, ternyata komputer ujian diakses secara remote oleh pihak lain menggunakan akun peserta yang memakai jasa joki," ujar Bayu, Jumat (17/10).
Kecurigaan bermula dari sistem keamanan internal UPA TIK yang menemukan anomali pada jaringan laboratorium ujian. Setelah dilakukan pelacakan, tim langsung menuju lokasi dan menemukan para pelaku tengah menjalankan aksi perjokian.
Tim kemudian berkoordinasi dengan pimpinan universitas untuk melakukan investigasi lebih lanjut. Dari pemeriksaan, para terduga pelaku mengakui perbuatannya dan bahkan menyebut beberapa mahasiswa lain yang menggunakan jasa mereka.
"Kami tidak akan mentoleransi segala bentuk pelanggaran integritas akademik. Tidak hanya joki, pengguna jasa juga akan dikenai sanksi sesuai aturan universitas," tegas Bayu.
Alarm buat Kampus
Menurutnya, kasus ini menjadi pengingat penting bagi pihak kampus untuk terus memperkuat sistem keamanan siber dan menambah lapisan proteksi pada data akademik. Bayu mengungkapkan bahwa pada 2024 lalu, UPA TIK juga pernah membongkar modus serupa dalam pelaksanaan Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Selain itu, isu kebocoran data mahasiswa yang sempat beredar di media sosial juga telah ditangani dengan langkah forensik digital dan peningkatan sistem deteksi dini terhadap aktivitas mencurigakan.
"Kami terus meningkatkan keamanan dan edukasi digital di lingkungan kampus agar tidak ada lagi yang tergoda oleh praktik ilegal berbasis teknologi," tambahnya.
Bayu juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati dalam membagikan data pribadi di platform digital, sebab banyak kasus kebocoran data berawal dari penggunaan aplikasi atau tautan ilegal seperti judi daring dan pinjaman online.
Salah satu mahasiswa pengguna jasa joki, berinisial MT, mengaku tergiur menggunakan layanan tersebut karena tarifnya murah dan pembayaran dilakukan setelah hasil ujian keluar.
"Bayarnya antara lima puluh ribu sampai dua ratus ribu rupiah, tergantung ujian. Saya menyesal karena tidak berpikir panjang," tuturnya.
Kasus ini menegaskan efektivitas sistem keamanan digital Universitas Jember dalam menjaga integritas akademik. Ke depan, UPA TIK berkomitmen memperkuat pengawasan siber dan memastikan seluruh proses akademik berjalan transparan, adil, dan bebas dari praktik curang.