Kronologi Terbongkarnya Perbuatan Cabul Syekh AM, Akal Bulus hingga Janji Manis Perdaya Korban Santri Laki-Laki
HB Mahdi mengaku pertama kali menerima informasi adanya kasus itu pada 13 November 2025.
Salah satu saksi kembali membongkar dugaan pencabulan yang dilakukan pendakwah yang dikenal dengan nama Syekh AM. HB Mahdi nama saksi itu.
Dia mengaku baru bicara setelah merasa mendapatkan kesaksian yang cukup. Dari penelusurannya, pola pelecehan berulang dengan korban mayoritas santri laki-laki yang dijanjikan berangkat ke Mesir.
HB Mahdi mengaku pertama kali menerima informasi adanya kasus itu pada 13 November 2025. Ia ditelepon Habib Abdurrahman Habsy sekitar pukul 03.00 Wib. Ia diminta membantu menangani dugaan kasus asusila yang melibatkan seorang ustaz.
"Saya tanya siapa ustaznya. Disebutkan AM. Saya kenal, tapi sudah 10 tahun tidak bertemu," kata dia kepada wartawan, Rabu (22/4).
Awalnya Mahdi mengaku spontan menanggapi santai. Namun, ia langsung sadar persoalan tidak sesederhana itu.
"Ya sudah, nikahkan saja. Tapi ternyata masalahnya tidak sepele," katanya.
Pagi harinya, Mahdi dimasukkan ke dalam grup. Namun selama tiga hari tak ada respons saat ia mencoba berkomunikasi.
"Dari tanggal 13, 14, 15 tidak ada yang menjawab," ujarnya.
Situasi berubah saat ia menerima kiriman video dari Ustaz Abi Makki. Salah satu potongan video berdurasi singkat membuatnya kaget.
"Ada kalimat, 'Nabi Muhammad dengan Sayidina Ali melakukan hal seperti ini.' Saya kaget," katanya.
Dari situ, ia mulai menelusuri rekaman lain dengan sosok yang sama. Semakin ia menyimak, semakin ia merasa ada yang tak beres. "Kok sampai ke situ? Kok pelecehan di luar nalar, dilakukan kepada santri," kata dia.
Mahdi lalu meminta dipertemukan dengan korban. Pertemuan pertama berlangsung 17 November 2025 di Depok. Ia membatalkan seluruh kegiatannya hari itu. Sejumlah pihak hadir, di antaranya Ustaz Abi Makki dan Yusuf Mansur.
Dalam pertemuan itu, dibahas juga peristiwa tahun 2021 yang sempat terjadi di kediaman K.H. Muhammad Cholil Nafis. Masalah lain muncul saat korban disebut terpencar. Salah satu korban bahkan berada di Mesir dan masih di bawah umur.
"Saya bilang jangan di-blow up dulu. Kita amankan dulu anak ini," ujarnya.
Malam itu juga, Mahdi mengaku langsung menghubungi Kementerian Luar Negeri dan Komisi I DPR untuk meminta perlindungan.
"Setengah jam kemudian saya ditelepon KBRI. Korban langsung direspons dan diawasi sampai kembali ke Indonesia," ujar dia.
Penelusuran lalu mengarah ke Bandung. Pada 19 November, Mahdi bertemu korban yang mengalami trauma berat.
"Tidak gampang meyakinkan korban. Dia trauma, bahkan tidak respect lagi sama ustaz," ujarnya.
Setelah berjam-jam, korban akhirnya bercerita. Dari pertemuan di Bandung, Mahdi menangkap satu pola ceritanya, menurut Mahdi, berulang.
Kisah bermula dari Purbalingga, saat korban berusia 15 tahun. Pelaku datang ke pesantren, menawarkan keberangkatan ke Mesir untuk menjadi hafiz. Setelah korban setuju, muncul dalih 'cek fisik' yang, menurut pengakuan korban, berujung pada sentuhan di bagian sensitif.
Perjalanan ke Mesir tetap berlangsung. Namun sebelum itu, di Jakarta, tindakan serupa disebut kembali terjadi—kali ini dengan alasan melatih kemampuan berbicara.
Sehari berselang, Mahdi menemui korban lain di Bogor. Reaksinya lebih keras. Korban histeris dan menolak kehadirannya.
"Saya sudah tidak percaya lagi sama ustaz," ujar korban, ditirukan Mahdi.
Dari sejumlah pertemuan itu, Mahdi menyimpulkan sedikitnya tiga korban memiliki pola sama yaitu laki-laki, santri, dijanjikan ke Mesir, dan tidak saling mengenal. Ia juga menyebut ada korban lain di luar negeri dan satu di Yogyakarta yang masih mengalami teror.
Kasus juga mengarah ke Mesir. Dugaan pelecehan disebut terjadi akhir Agustus hingga awal September 2025 selama 14 hari, dengan kejadian berulang hingga 11 hari.
Informasi itu diperoleh dari Ustaz Zaoqi yang bertemu langsung dengan korban. Korban saat itu berusia 16 tahun, seorang hafiz berprestasi nasional.
"Bukan sekali, tapi berulang," kata Mahdi.
Ia mengaku telah mengantongi bukti berupa percakapan, video, dan kesaksian. Jumlah korban disebut lebih dari belasan, bahkan mencapai puluhan, dengan sebagian sudah dewasa.
Mahdi juga menyinggung adanya ancaman terhadap saksi. Ia menyebut bisa menjerat pihak yang mengintimidasi dengan sejumlah pasal pidana.
"Saya punya bukti. Jangan macam-macam," tegasnya.
Ia juga mengaku mengalami intimidasi dari berbagai pihak, termasuk seseorang yang disebut memiliki posisi.
Proses hukum, kata Mahdi, berjalan sejak laporan dibuat pada 28 Desember. Hingga kini, sekitar 20 saksi telah dihimpun. Tiga lokasi kejadian ditangani Mabes Polri. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban disebut telah bekerja, sementara hasil forensik masih ditunggu.
Keberadaan AM, menurut Mahdi, belum diketahui. Ia berencana meminta bantuan Interpol melalui Divisi Hubinter Polri.
Tercatat Ada 5 Korban
Di Bareskrim Polri, laporan resmi baru mencatat lima korban. Belasan lainnya disebut akan menyusul.
"Saya kerja berdasarkan fakta, bukan katanya," ujar Mahdi.
Ia menegaskan, perkara ini bukan soal dendam atau persaingan. "Ini soal martabat," kata dia. "Jangan bawa-bawa agama untuk menutupi perbuatan."
Jangan Bawa Agama
Ia menegaskan kasus ini bukan soal dendam atau persaingan, melainkan upaya mengungkap dugaan pelecehan terhadap santri.
"Ini soal martabat. Jangan bawa-bawa agama untuk menutupi perbuatan," katanya.