Komunitas Muslim Lokal Jadi Penggerak Inovasi Aksi Lingkungan
Sejumlah komunitas berbasis agama, khususnya kalangan agama Islam berhasil jadi penggerak inovasi perubahan lingkungan.
Sejumlah komunitas berbasis agama, khususnya kalangan agama Islam berhasil jadi penggerak inovasi perubahan lingkungan. Tapi hal tersebut tidak terlepas dari munculnya faktor upaya kreatif inovatif penyelamatan lingkungan.
Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian dari Koordinator Riset PPIM UIN Jakarta, Testriono dengan melakukan studi di tujuh provinsi, mencakup 16 komunitas Muslim di tingkat desa, serta melibatkan 103 informan terdiri dari 67 laki-laki dan 36 perempuan. Dengan menggunakan metode wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumen, penelitian ini mengungkap faktor-faktor yang mendorong keberhasilan inovasi lingkungan di berbagai komunitas Muslim.
Penelitian itu dilatarbelakangi peran komunitas Muslim lokal di Indonesia menunjukkan peran signifikan pelestarian lingkungan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang mendesak. Hanya saja ada juga beberapa komunitas yang gagal dalam mengembangkan inovasi.
"Partisipasi warga ini menjadi kunci karena di daerah yang partsipasi yang warganya kuat melihat mereka dari keaktifan majelis ta'alim, kumpul warga, dan lain-lain itu menjadi salah satu kunci mengapa inovasi lingkungan bisa memiliki itu," ucap Testriono dalam peluncuran riset di Grand Sahid Jaya, Selasa (11/2).
"Daerah yang partsipasi warganya rendah cenderung kurang berhasil. Sulit untuk mengajak warga bergabung dalam kegiatan atau upaya-upaya membangun lingkungan," sambung dia.
Dalam penelitiannya, Testriono menggunakan konsep Green Islam yang diartikan pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan praktik keberlanjutan. Institusi keagamaan, baik dalam bentuk narasi Islam, peran ulama, maupun organisasi keagamaan, berkontribusi besar dalam mendorong inovasi lingkungan di tingkat akar rumput.
"Ketika komunitas Muslim melihat bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral, mereka lebih terdorong untuk berkontribusi dalam aksi nyata," ungkap dia.
Sementara itu, CEO Think Policy Indonesia, Andhyta F Utami menyebutkan urgensi komunitas lokal dalam kepedulian lingkungan karena adanya kekuatan di tingkat lokal tanpa harus terpusat di level nasional. Pun ketika adanya kebijakan pada level eknomi di tingkat nasional. Komunitas ini masih bisa tetap tergerak dalam hal kepedulian iklim lingkungan.
"Ini tuh kaya kesempatan kedua ketika kita tidak tahu apa yang bisa di-expect secara nasional tapi secara lokal kalau faktor-faktor yang tadi menjadi faktor primer, bisa kita dorong lebih lanjut jangan-jangan kita tetap bisa banyak lakukan aksi iklim secara tersdesentralisasi dan terlokalisasi," ucap Utami.
Direktur GreenFaith Indonesia, Hening Parlan menambahkan massa yang besar ini harus betul-betul dimanfaatkan dan bisa dijadikan kekuatan untuk berinovasi dalam mengatasi masalah lingkungan. Tentunya juga dengan turut hadirnya peran pemerintah.
"Betapa banyak Green Islam yang bisa sebenarnya jadi potensinya orang Indonesia. Pemerintah bisa menggunakan dan bekerja sama dengan warganya," ujar Hening.