Kolaborasi ULM dan ISAT University Filipina Perkuat Pelestarian Ekosistem Mangrove
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Iloilo Science and Technology (ISAT) University Filipina berkolaborasi dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove di Pulau Curiak, menunjukkan komitmen bersama terhadap keberlanjutan lingkungan.
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dan Iloilo Science and Technology (ISAT) University Filipina menjalin kerja sama strategis. Kemitraan ini berfokus pada pelestarian ekosistem mangrove yang vital bagi keberlanjutan wilayah pesisir. Kolaborasi ini diwujudkan melalui kegiatan penanaman bibit mangrove rambai di Pulau Curiak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Terpadu (MBKT) FKIP ULM dan International Community Service (PKM Internasional). Mahasiswa dari kedua universitas secara aktif terlibat dalam aksi nyata tersebut. Mereka bergotong royong menanam bibit mangrove di kawasan konservasi bekantan.
Dipimpin oleh Ketua Tim MBKT FKIP ULM Raisa Fadila, inisiatif ini berlangsung pada Senin (20/4) di kawasan konservasi bekantan dan ekosistem lahan basah. Lokasi tepatnya berada di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Tujuan utamanya adalah mengatasi tantangan lingkungan global dan menjaga keanekaragaman hayati.
Sinergi Internasional untuk Lingkungan Berkelanjutan
Raisa Fadila, Ketua Tim Merdeka Belajar Kampus Merdeka Terpadu (MBKT) FKIP ULM, menegaskan pentingnya kolaborasi ini. Ia menyatakan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen bersama dalam mengatasi tantangan lingkungan global. Pelestarian ekosistem mangrove sangat krusial bagi keberlanjutan wilayah pesisir.
Mengusung tema “Penanaman Mangrove untuk Keberlanjutan Lingkungan”, kegiatan ini menjadi bentuk nyata pengabdian masyarakat internasional. Fokus utamanya adalah pelestarian ekosistem di kawasan pesisir Pulau Curiak. Inisiatif ini juga memperkuat hubungan antarnegara dalam isu lingkungan.
Pulau Curiak, yang terletak di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, merupakan lokasi strategis untuk kegiatan ini. Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi namun menghadapi ancaman abrasi dan aktivitas manusia. Penanaman mangrove diharapkan dapat memperkuat benteng alami pulau tersebut.
Pembelajaran Lintas Budaya dan Konservasi Bekantan
Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Bahasa ULM, Noor Eka Chandra, menjelaskan dimensi lain dari kolaborasi ini. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada aksi lingkungan semata. Namun, juga berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat pembelajaran lintas budaya di antara para mahasiswa.
Mahasiswa internasional mendapatkan kesempatan berharga untuk mengenal bahasa dan konteks lokal Indonesia. Mereka secara khusus mempelajari ekosistem lahan basah yang kaya di Kalimantan Selatan. Pengalaman ini memperkaya pemahaman mereka tentang konservasi berbasis ekosistem.
Dr. Amalia Rezeki, Kepala Pusat Konservasi Bekantan ULM dan pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), turut memberikan edukasi. Ia menjelaskan tentang habitat bekantan, teknik penanaman mangrove, serta pentingnya perawatan pasca-tanam. Edukasi ini membekali peserta dengan pengetahuan praktis konservasi.
Setelah sesi penanaman, para peserta melanjutkan kegiatan dengan observasi habitat bekantan. Pengalaman ini memberikan pemahaman langsung tentang pentingnya menjaga kelestarian flora dan fauna. Ini juga menunjukkan bagaimana mangrove berperan sebagai rumah bagi spesies endemik.
Dampak Positif Penanaman Mangrove untuk Ekosistem
Melalui penanaman bibit mangrove, para peserta secara langsung berkontribusi pada penguatan benteng alami Pulau Curiak. Mangrove memiliki peran vital dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Selain itu, ekosistem ini juga menjaga habitat bagi berbagai flora dan fauna.
Bibit mangrove ditanam secara gotong royong di kawasan pesisir yang terdampak abrasi dan degradasi lingkungan. Aksi ini merupakan respons konkret terhadap tantangan lingkungan yang dihadapi pulau tersebut. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan dan melindungi garis pantai.
Pulau Curiak menghadapi tantangan serius akibat abrasi dan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab. Penanaman mangrove menjadi solusi efektif untuk mitigasi erosi pantai. Kegiatan ini juga mendukung upaya konservasi jangka panjang di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews