KKI Ingatkan Bahaya Galon Guna Ulang Tua, Desak Regulasi Masa Pakai
Dengan estimasi sekitar 100 juta orang mengonsumsinya setiap hari, KKI menilai persoalan keamanan galon guna ulang menjadi isu serius.
Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) mengingatkan masyarakat untuk lebih memperhatikan usia pakai galon guna ulang setelah menerima ratusan pengaduan konsumen terkait kondisi galon yang dinilai sudah tidak layak digunakan.
Ketua KKI, David Tobing, mengatakan sebanyak 92 persen konsumen yang melapor tidak mengetahui bahwa galon guna ulang memiliki batas masa pakai. Temuan itu diperoleh dari 250 laporan konsumen di tujuh kota selama periode Maret–April 2026.
"Ini menunjukkan tingginya kesadaran konsumen namun masih minimnya pengetahuan, menunjukkan lemahnya edukasi produsen," kata David dikutip Rabu (13/5).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 34 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan air galon sebagai sumber utama air minum. Dengan estimasi sekitar 100 juta orang mengonsumsinya setiap hari, KKI menilai persoalan keamanan galon guna ulang menjadi isu serius.
David menyoroti belum adanya informasi jelas mengenai batas masa pakai pada galon yang beredar di masyarakat. Menurutnya, konsumen hanya dapat melihat kode produksi tanpa mengetahui usia aman penggunaan galon tersebut.
"Di galon itu enggak ada berapa lama masa pakainya, yang tertera hanya kode produksi. Nah inilah yang saya katakan sebagai kekosongan regulasi masa pakai," ujarnya.
KKI menemukan sebagian besar konsumen masih menerima galon berusia lebih dari satu tahun tanpa menyadari potensi risikonya. Verifikasi dilakukan melalui foto galon yang dilampirkan dalam setiap laporan.
Bahkan, KKI menemukan galon yang telah digunakan hingga 11 tahun.
"Ada yang usianya 11 tahun. Di beberapa daerah sekitar Jakarta itu galon-galon memang usianya banyak yang 5 tahunan ke atas," ungkap David.
Selain usia pakai, kondisi fisik galon juga menjadi perhatian. Sebanyak 30 persen laporan menyebutkan galon dalam kondisi kotor atau berlumut, sementara 18 persen lainnya mengalami retak atau goresan.
"Semakin tua usia galon semakin beragam jenis keluhannya. Masalah fisik, kotor, kusam, dan retak. Nah ini mendominasi laporan konsumen," kata David.
KKI mengingatkan risiko kesehatan dari penggunaan galon berbahan polikarbonat yang mengandung Bisphenol A (BPA). Zat tersebut berpotensi luruh dan mencemari air minum, terutama jika galon terpapar sinar matahari, digunakan terlalu lama, atau dicuci dengan cara kasar.
"Tentu bahaya karena BPA itu bisa luruh dan bercampur dengan airnya. Potensi luruhnya BPA ini bisa disebabkan paparan sinar matahari, usia pakai, dan pencucian kasar," jelasnya.
Menurut David, sejumlah pakar merekomendasikan masa pakai galon maksimal satu tahun atau sekitar 40 kali penggunaan guna mengurangi risiko kesehatan, seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan lainnya.
Keamanan Konsumen
Ia juga menyoroti persoalan keadilan bagi konsumen yang membeli air galon dengan harga sama, tetapi menerima kualitas wadah yang berbeda.
"Ada satu prinsip di dalam perdagangan, bahwa kalau harganya sama maka kualitas juga sama. Pertanyaannya kan kadang dalam galon ini kita bisa saja membeli dengan harga sama tapi galonnya sudah tua," tegas David.
Desak buat Regulasi
KKI mendesak produsen air minum dalam kemasan serta pemerintah segera membuat aturan yang mengatur batas usia pakai galon guna ulang demi melindungi kesehatan masyarakat.
"Harusnya pelaku usaha bertanggung jawab terhadap galonnya. Jangan dibiarkan beredar yang sudah tua-tua," ujarnya.
"Kekosongan regulasi masa pakai untuk guna ulang adalah akar masalah yang harus ditutup. Negara perlu regulasi yang melindungi kesehatan masyarakat bukan sekedar keuntungan produsen," tutur David.