Kerasnya Hidup Uafar, Berjuang dalam Kemiskinan Hingga Curi Perhatian Prabowo
Potret Uafar sempat dimunculkan di layar saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di acara Halal Bihalal bersama keluarga besar TNI-Polri.
Di balik tembok bersekat papan tipis dan atap yang hampir roboh, Devi Susanti (37) tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.
Dapur kecil di sudut rumah itu dipenuhi panci, ember plastik, hingga alat penanak nasi yang terletak di atas meja kayu dengan lantai terbuat dari tanah. Sebuah potret hunian jauh dari kata layak.
Rumah tersebut terletak di Kelurahan Gurun Laweh, Kota Padang, Sumatera Barat. Di dalamnya tidak ada tempat tidur empuk. Hanya kasur tipis dengan alas seadanya yang menjadi peraduan melepas penat usah melawati hari-hari.
Di rumah sangat sederhana inilah, Devi dan suaminya berjuang di tengah keterbatasan ekonomi mereka. Keduanya bergotong royong demi kelangsungan hidup mereka. Tak harus mewah asal cukup.
Devi adalah ibu Muhammad Uafar Syadatul (12). Siswa yang menerima Program Sekolah Rakyat untuk pendidikan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di daerah tersebut.
Uafar saat ini duduk di kelas 6 SDN 30 Lubuk Lintah, Kota Padang. Sosok Uafar sempat dimunculkan pada layar saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidatonya di acara Halal Bihalal bersama keluarga besar TNI-Polri pada 6 Mei 2025, kemarin.
Devi mengatakan, Uafar adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakak tertua Uafar kini duduk di kelas 3 SMP. Sementara dua adiknya, satu kelas 3 SD dan terakhir berumur 3 bulan.
"Saya sangat senang ketika mendapatkan kabar bahwa Uafar diterima di sekolah rakyat," tuturnya ditemui merdeka.com, Rabu, (7/5).
Berharap Uafar Sampai Sarjana
Sembari penuh semangat, Devi menceritrakan pertama kali mendapat kabar anaknya diterima di sekolah rakyat melalui Program Keluarga Harapan (PKH).
"Info itu disampaikan langsung oleh pihak PKH, saya menerima PKH," ujarnya.
Dia berharap, kesempatan Uafar mendapatkan pendidikan lanjutan tak hanya sampai di tingkat SMP. Tetapi berlanjut ke bangku SMA hingga sarjana. Harapannya, Uafar kelak bisa mengangkat derajat keluarga agar kehidupan mereka lebih baik dan layak dari hari ini.
"Saya berharap semua anak saya mampu menempuh pendidikan hingga ke jenjang sarjana," kata Devi menegaskan.
Hidup miskin tak membuat Devi malu menyekolahkan anaknya. Dia dan suami bertekad, anak-anaknya harus mendapatkan kehidupan lebih baik dari mereka saat ini.
"Sesekali kami di sini dicibir tetangga ketika menyekolahkan anak," katanya dengan mata yang berlinang-linang.
Beruntung, Devi memiliki empat anak-anak yang baik. Keterbatasan tak membuat mereka hidup menjadi tanpa aturan. Selain rajin ke sekolah, anak-anaknya tak mengesampingkan agama. Katanya, Uafar bersama kakak dan adiknya tak pernah absen mengaji.
Selain itu, kata Devi, anak-anaknya juga tahu diri. Menghargai apapun yang diupayakan Devi dan suami.
"Uafar hampir setiap hari bawa nasi kesekolah," ujarnya.
Suami Kerja jadi Buruh
Devi menceritakan, suaminya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Tentu, uang itu sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Dicukup-cukupi. Kadang ada yang bawa kerja, kadang tidak," tuturnya.
Demi menambah penghasilan keluarga, Devi kerap juga bekerja mencuci dan menyetrika pakaian ke rumah-rumah tetangga.
"Dulu saya bisa mendapat Rp50.000 dari mencuci dan menyetrika pakaian. Tapi sudah tiga bulan saya berhenti bekerja karena baru melahirkan," ujar Devi.
Bercita-cita jadi Polisi
Saat ditemui di sekolahnya ketika jam istirahat sedang berlangsung, Uafar mengaku senang terpilih di Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo.
Dia tak sabar memulai jenjang pendidikan baru. Harapannya, cita-cita menjadi polisi akan terwujud.
"Senang, suka. Saya bercita-cita jadi polisi," katanya saat diwawancarai merdeka.com yang didampingi oleh pihak sekolah.
Guru Wali Kelas VI SDN 30 Lubuk Lintah, Putri Maisag mengatakan, Uafar bukan anak yang malas. Dia sangat gemar belajar. Dia yakin, apabila Uafar mendapatkan perhatian dari pihak sekolah dan lingkungan sekitarnya dia bisa menjadi anak yang berprestasi.
"Sekarang dia memang belum bisa meraih juara, tapi saya melihat Uafar memiliki kemampuan belajar yang baik. Kalau dia sungguh-sungguh, pelajaran yang disampaikan cepat dimengerti," katanya.
Ketika kelas V, Uafar memiliki prestasi di bidang olahraga lari.
"Dari sekolah kita dia terpilih mengikuti olahraga lari tingkat kecamatan. Waktu itu baru dapat urutan enam," ujarnya.