Kemensos: Mayoritas Siswa Sekolah Rakyat Berhasrat Lanjut ke Pendidikan Tinggi
Kementerian Sosial (Kemensos) mengungkapkan mayoritas siswa Sekolah Rakyat berkeinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mendorong Kemensos menyiapkan berbagai instrumen pendukung.
Kementerian Sosial (Kemensos) melaporkan bahwa sebagian besar siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) memiliki aspirasi kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi setelah lulus. Temuan ini berdasarkan survei yang melibatkan lebih dari 6.000 siswa SRMA di seluruh Indonesia.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan sekitar 60 persen atau sekitar 3.600 siswa SRMA menunjukkan minat untuk melanjutkan studi ke pendidikan tinggi. Sisanya, sekitar 40 persen, memilih jalur pekerja terampil atau berwirausaha setelah menyelesaikan pendidikan mereka.
Menanggapi aspirasi ini, Kemensos, sebagai salah satu pelaksana program Sekolah Rakyat, telah menyiapkan berbagai instrumen pendukung. Upaya ini termasuk menjalin kerja sama lintas kementerian, lembaga, serta kemitraan dengan sektor swasta untuk membuka jalur lanjutan bagi para lulusan.
Potensi dan Aspirasi Lulusan Sekolah Rakyat
Survei Kemensos menunjukkan bahwa minat melanjutkan pendidikan tinggi mendominasi di kalangan siswa Sekolah Rakyat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menekankan optimisme terhadap potensi besar para siswa ini, terutama setelah hasil pengukuran berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) dilakukan.
Dari hampir 16.000 total siswa Sekolah Rakyat rintisan, sekitar 37,4 persen atau 1.828 siswa memiliki potensi di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM). Di antara mereka, 1.204 siswa menunjukkan bakat di bidang teknik seperti mekanik, teknisi otomotif, insinyur sipil, atau arsitek.
Selain itu, data Kemensos juga mengungkapkan bahwa 39,6 persen atau 1.938 siswa berpotensi dalam bidang sosial. Sementara itu, 23,0 persen atau 1.123 siswa lainnya menunjukkan bakat di bidang bahasa, dan 16 persen atau 8.860 siswa berpotensi dalam penegakan hukum, termasuk profesi notaris, hakim, atau polisi.
Potensi beragam ini menunjukkan bahwa program Sekolah Rakyat tidak hanya fokus pada pendidikan dasar, tetapi juga mempersiapkan siswa untuk berbagai jalur karier dan pendidikan lanjutan yang sesuai dengan bakat mereka.
Sekolah Rakyat sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan Terpadu
Program Sekolah Rakyat merupakan inisiatif prioritas Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin. Program ini menyasar desil 1 hingga desil 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Lebih dari sekadar pendidikan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai model pengentasan kemiskinan terpadu karena mengintegrasikan berbagai program unggulan pemerintah.
Integrasi tersebut mencakup Cek Kesehatan Gratis, Makan Bergizi Gratis, jaminan kesehatan PBI-JKN, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta Program Tiga Juta Rumah bagi keluarga siswa penerima manfaat. Kebijakan ini mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem.
Pengembangan Infrastruktur dan Fasilitas Modern Sekolah Rakyat
Hingga tahun 2025, Kementerian Sosial telah berhasil membangun 166 titik Sekolah Rakyat rintisan dengan kapasitas sekitar 16.000 siswa. Fasilitas ini didukung oleh 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat.
Kemensos memastikan bahwa setiap Sekolah Rakyat dilengkapi dengan fasilitas pembelajaran modern. Ini termasuk papan interaktif digital, laptop dengan akses internet, serta seragam khusus bagi siswa, guru, dan wali asrama untuk mendukung proses belajar mengajar.
Pada tahap awal, ratusan Sekolah Rakyat rintisan ini masih memanfaatkan fasilitas milik Kementerian Sosial, Balai Latihan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, dan aset pemerintah daerah. Namun, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pembangunan 104 gedung permanen Sekolah Rakyat akan dimulai tahun ini, salah satunya di Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.
Sumber: AntaraNews