KB Pascapersalinan, Solusi Jitu Turunkan Angka Kematian Ibu
Melalui KBPP, pengaturan jarak dan jumlah kehamilan dapat dilakukan secara lebih aman sehingga kesehatan ibu terjaga dan keselamatan kehamilan.
Program Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP) dinilai menjadi salah satu upaya efektif dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yang saat ini masih berada di angka 189 per 100.000 kelahiran hidup, berdasarkan data Sensus Penduduk Long Form 2020.
Melalui KBPP, pengaturan jarak dan jumlah kehamilan dapat dilakukan secara lebih aman sehingga kesehatan ibu terjaga dan keselamatan kehamilan serta persalinan berikutnya lebih terjamin.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa KBPP harus menjadi bagian dari kebijakan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.
"KB Pascapersalinan diharapkan menjadi bagian dari cara untuk menekan angka kematian ibu dan anak, sekaligus mencegah terjadinya stunting. Ini merupakan kebijakan yang harus terus-menerus dikerjakan," ujar Menteri Wihaji.
KBPP Jaga Kesehatan Ibu dan Anak
Hal senada disampaikan Dr. Muhammad Dwi Priangga, SpOG, salah satu narasumber dalam talkshow Berbagi Praktik Baik Program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi dalam rangka Peringatan Hari Ibu Tahun 2025 yang diselenggarakan Kemendukbangga/BKKBN, Selasa (23/12).
"KB Pascapersalinan dapat menurunkan risiko kehamilan yang terlalu sering karena jarak kehamilan dijaga. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kesehatan ibu dan anak," jelas Priangga.
Ia menambahkan, KBPP dapat diberikan pada rentang waktu 0–42 hari pascapersalinan dengan menggunakan metode kontrasepsi modern yang tidak mengganggu proses laktasi bagi ibu menyusui.
Inovasi Tingkatkan Capaian KBPP
Dalam talkshow tersebut, turut dihadirkan sejumlah narasumber yang memaparkan inovasi pelayanan KBPP yang berhasil meningkatkan kualitas layanan dan capaian program.
Salah satunya adalah Inovasi TRISULA (Triple Intervensi Saat Ibu Hamil dan Persalinan) yang diinisiasi Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah dan diimplementasikan di Kabupaten Sigi. TRISULA memiliki filosofi "tombak bermata tiga" dengan tiga target utama, yakni:
100 persen ibu hamil mendapatkan konseling KBPP;
70 persen ibu pascapersalinan menggunakan KBPP;
50 persen ibu pascapersalinan pengguna KBPP memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
"Dengan inovasi TRISULA, capaian KBPP meningkat signifikan. Dari sekitar 37,58 persen pada Juli 2025, kini pada Desember 2025 telah mencapai 105,29 persen," ungkap Liana Dewi Taufiq, Tim Kerja Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah.
Inovasi BINTANG dari Bidan Mandiri
Inovasi lainnya adalah BINTANG (Bersama MKJP, Ibu Tenang, Anak Tumbuh Gemilang) yang dipelopori Rahmi Dwiyati, S.ST., Bd, bidan dari Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) Dhiaulhaq, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
"Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab tantangan stunting dan rendahnya cakupan KB MKJP," ujar Rahmi.
Inovasi BINTANG didukung berbagai kegiatan, antara lain:
PANDU (Pelayanan KB Terpadu),
SAPA (Sistem Alarm Pengingat Akseptor),
POJOK (Pojok Baca Ruang Edukasi Mandiri),
REKAT (Ruang Edukasi Komunikasi Ayah Teladan),
SAHABAT (Kader Pendamping Nifas),
WARISAN (Wariskan Risalah Kebaikan untuk Menjadikan Keluarga Idaman),
KOPI PASAL (Kondom dan Pil Paket Persalinan), serta
TERANG (Terbitkan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan KIA Sekarang).
Pada kesempatan tersebut, hadir pula akseptor KBPP asal Kota Tangerang, Banten, Febryana Nurahmah, yang memberikan testimoni mengenai manfaat KB Pascapersalinan yang ia gunakan.