Inovasi Pertanian Pascabencana: Mahasiswa UM Tapsel Pulihkan Tapanuli Selatan
Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) menghadirkan berbagai inovasi pertanian pascabencana, agroekologi, hingga konseling trauma untuk membantu masyarakat Desa Huta Godang bangkit kembali setelah diterjang banjir bandang.
Tim mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) telah menginisiasi program pemulihan pascabencana di Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kegiatan ini berfokus pada inovasi pertanian berbasis agroekologi, pelatihan sociopreneurship, dan konseling trauma. Program ini merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat yang terdampak banjir bandang pada akhir tahun 2025 silam.
Inisiatif berdampak ini dilaksanakan sebagai respons terhadap bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Tapanuli Selatan. Program Mahasiswa Berdampak ini diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Tujuannya adalah untuk memulihkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana.
Ketua Tim Pelaksana Program dari UM Tapsel, Darmadi Erwin Harahap, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan sangat komprehensif. Ini mencakup aspek pertanian, kewirausahaan sosial, dan dukungan psikologis bagi warga. Program ini diharapkan mampu membangkitkan semangat dan optimisme masyarakat setempat.
Revitalisasi Lahan Pertanian dengan Agroekologi
Mahasiswa UM Tapsel memperkenalkan metode agroekologi untuk memulihkan lahan pertanian yang rusak akibat banjir bandang. Mereka mengajarkan pembuatan bahan organik sebagai media tanam yang efektif. Selain itu, diajarkan pula teknik pembuatan pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanah. Pendekatan ini bertujuan agar tanaman dapat tumbuh optimal di lahan yang sempat terdampak.
Darmadi Erwin Harahap menjelaskan, mahasiswa bersama masyarakat aktif dalam persiapan lahan. Mereka juga menanam berbagai komoditas hortikultura yang cepat panen. Beberapa komoditas yang ditanam meliputi bayam, sawi, kangkung, dan jagung. Ini merupakan langkah awal untuk mengembalikan produktivitas pertanian lokal.
Inovasi pertanian lainnya adalah pengenalan pupuk organik cair sederhana. Pupuk ini dibuat dari fermentasi campuran telur, monosodium glutamat, dan air. Pupuk organik ini sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tanaman dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan dapat berkelanjutan.
Menggali Potensi Ekonomi Melalui Sociopreneurship
Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan pertanian, tetapi juga mencakup pelatihan sociopreneurship. Pelatihan ini dirancang untuk membantu masyarakat membangkitkan kembali aktivitas ekonomi mereka setelah bencana. Warga dilatih untuk membuat berbagai produk olahan makanan. Ini membuka peluang baru bagi pendapatan keluarga.
Selain produksi, mahasiswa juga membimbing masyarakat dalam strategi pemasaran produk. Mereka diajarkan cara memanfaatkan media sosial sebagai platform penjualan yang efektif. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar produk lokal. Inisiatif ini mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Desa Huta Godang.
Mila Erlina Napitupulu, salah satu warga Desa Hutagodang, mengungkapkan rasa syukurnya. Ia merasa terbantu dengan program ini karena masyarakat dapat melihat peluang baru untuk memanfaatkan lahan. Pengetahuan tentang jenis tanah, menanam sayur, membuat pupuk, hingga pengembangan kemampuan membuat kue sangat bermanfaat dalam keseharian mereka. Ia berharap pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar lahan di sini bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar.
Pemulihan Trauma dan Dukungan Psikososial
Selain aspek ekonomi dan pertanian, mahasiswa dari program studi Bimbingan Konseling turut berperan aktif. Mereka memberikan sosialisasi terkait pengelolaan trauma yang masih dirasakan sebagian masyarakat setelah banjir bandang. Banjir bandang seringkali meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi para korban. Sosialisasi ini penting untuk membantu warga mengatasi tekanan mental.
Kehadiran mahasiswa dan dosen dari UM Tapsel memberikan semangat baru bagi masyarakat untuk bangkit. Mila Erlina Napitupulu menyatakan bahwa kegiatan belajar bersama dan mencoba berjualan lagi sangat memotivasi. Ia berharap pendampingan semacam ini dapat terus berlanjut. Tujuannya agar lahan di sana bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar.
Terpisah, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, I Ketut Adnyana, menegaskan pentingnya Program Mahasiswa Berdampak 2026. Program ini merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi yang kontekstual. Tujuannya agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat memberikan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit.
Sumber: AntaraNews