Fakta Unik Tenun Sekomandi, Warisan 500 Tahun dari Sulawesi Barat yang Sarat Makna Spiritual
Tenun Sekomandi, warisan budaya berusia lebih dari 500 tahun dari Sulawesi Barat, bukan sekadar kain biasa. Simak keunikan, makna spiritual, dan proses pembuatannya yang memukau!
Tenun Sekomandi, sebuah warisan leluhur yang telah diwariskan selama ratusan tahun, kini menjadi sorotan sebagai daya tarik utama budaya di Sulawesi Barat. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menegaskan bahwa tenun ini bukan hanya kerajinan tangan, melainkan cerminan kearifan lokal yang membentuk ekosistem budaya Mamuju.
Dalam kunjungannya ke Rumah Tenun Sekomandi di Kalumpang, Mamuju, Ni Luh Puspa menyaksikan langsung keunikan tenun ini. Tenun Sekomandi diyakini sebagai salah satu tenun tertua di dunia, dengan perkiraan usia lebih dari 500 tahun, dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016.
Ni Luh Puspa berharap agar Tenun Sekomandi dapat terus dijaga dan dilestarikan sebagai produk unggulan masyarakat Kalumpang-Mamuju. Keberadaannya diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain untuk melestarikan warisan budaya para leluhur, serta menjadi daya tarik wisata budaya berbasis komunitas yang dikenal hingga mancanegara.
Makna dan Sejarah Tenun Sekomandi
Tenun Sekomandi memiliki kaitan erat dengan ornamen seni prasejarah yang ditemukan di situs Kalumpang, menunjukkan akar sejarahnya yang sangat dalam. Salah satu motif utamanya adalah “Ulu Karua” atau juga dikenal sebagai “Ba’ba Deata”, yang sarat akan makna filosofis.
“Ulu Karua” secara harfiah berarti delapan ketua adat, merepresentasikan delapan leluhur pemimpin masyarakat adat di masa lampau. Sementara itu, “Ba’ba Deata” melambangkan kesatuan dari rumpun keluarga yang kuat, mencerminkan nilai-nilai komunitas yang mendalam.
Nurhayati, salah satu keturunan penerus kain tenun Sekomandi, mengisahkan asal-usul penamaan motif “Ulu Karua” yang berasal dari zaman dahulu. Cerita rakyat menyebutkan bahwa nenek moyangnya berburu bersama anjingnya, lalu masuk ke dalam gua, dan anjing tersebut keluar dengan menggigit daun bermotif yang kemudian menjadi inspirasi motif pertama tenun ini.
Proses pembuatan Tenun Sekomandi sendiri diyakini memiliki latar belakang spiritual yang kuat. Para penenun seringkali mengalami pengalaman mistis yang dianggap sebagai ilham mengenai cara membuat tenun Sekomandi, menambah dimensi sakral pada setiap helai kainnya.
Proses Pembuatan dan Keunikan Tenun Sekomandi
Proses pembuatan Tenun Sekomandi sangatlah rumit dan memakan waktu, bahkan bisa mencapai tiga bulan untuk sehelai kain. Tahap awalnya adalah memintal kapas menjadi benang, sebuah proses yang dikenal dengan istilah ‘ma’kare’.
Setelah itu, benang masuk ke tahap ‘mangrara’, di mana bahan tersebut diberi pewarna alami yang diracik dari akar, daun, kulit kayu, hingga tanaman cabai. Penggunaan bahan-bahan alami ini tidak hanya menghasilkan warna yang khas, tetapi juga membuat kain Tenun Sekomandi memiliki harum rempah-rempah yang unik.
Dominasi warna pada kain Tenun Sekomandi adalah cokelat merah atau krem, dengan hitam sebagai warna dasar. Selanjutnya, proses dilanjutkan dengan ‘ma’bida’, yaitu mengikat benang sesuai motif atau pola yang diinginkan, sebelum akhirnya masuk ke tahap ‘ma’tannun’.
Tahap ‘ma’tannun’ adalah proses menenun benang di atas alat tenun tradisional yang disebut gedogan. Hingga saat ini, Nurhayati masih menyimpan Tenun Sekomandi motif “Ulu Kalua” yang diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun, dan meskipun warnanya sedikit pudar, kualitas serta keasliannya tetap terjaga dengan baik.
Sumber: AntaraNews