Fakta Menarik: Pemkot Surabaya Perkuat Peran Guru-Orang Tua dalam Pencegahan Radikalisme
Pemkot Surabaya memperkuat sinergi guru dan orang tua untuk pencegahan radikalisme di kalangan anak dan remaja. Langkah ini penting untuk melindungi generasi muda dari paham ekstrem.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah strategis dengan memperkuat sinergitas antara sekolah dan keluarga dalam upaya pencegahan radikalisme. Inisiatif ini bertujuan untuk membentengi anak-anak dan remaja dari penyebaran paham-paham ekstrem.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari kerja sama dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Fokus utamanya adalah mengedukasi anak-anak agar lebih cerdas dan aman saat berinteraksi di dunia digital yang semakin kompleks.
Langkah ini diambil mengingat sekolah memiliki peran yang sangat vital dalam membentuk karakter serta meningkatkan literasi digital generasi muda. Dengan demikian, diharapkan anak-anak memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan di era modern.
Peran Vital Guru dalam Pembentukan Karakter
Menurut Yusuf Masruh, peran guru tidak hanya terbatas pada aspek akademik semata, melainkan juga sangat krusial dalam membentuk karakter dan moral siswa. Guru diharapkan mampu menjadi teladan dan pembimbing dalam setiap tahap perkembangan anak.
"Di pendidikan itu kalau bisa ya ilmunya memang lebih. Kalau (misal analogi) siswanya satu, ya gurunya dua," kata Yusuf Masruh, menegaskan pentingnya peran guru yang lebih dari sekadar pengajar.
Ia menambahkan bahwa anak-anak harus dipersiapkan secara menyeluruh untuk masa depan, mencakup aspek agama, karakter, akademis, talenta, minat, dan bakat mereka. Guru harus selalu siap mendampingi siswa dalam menghadapi perubahan era, termasuk kemajuan teknologi yang pesat.
"Sebagai guru nggak boleh lelah, tidak boleh pantang menyerah, harus terus yang terbaik untuk anak-anak," tuturnya, menekankan dedikasi yang harus dimiliki oleh para pendidik.
Pendampingan Digital dan Deteksi Dini Radikalisme
Pemkot Surabaya juga menekankan pentingnya pola pendampingan yang efektif dibandingkan dengan larangan dalam penggunaan gawai oleh anak-anak. Pendekatan ini dianggap lebih relevan agar anak tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi.
"Anak itu jangan dilarang, tapi diarahkan dan didampingi. Soalnya nanti pasti itu ada untung rugi kalau anak ketinggalan era ini," jelas Yusuf. Pengaturan waktu penggunaan gawai menjadi kunci utama dalam strategi ini.
Selain itu, guru juga diharapkan memiliki kemampuan untuk mendeteksi perubahan perilaku siswa yang berpotensi terpapar ideologi ekstrem. Kemampuan ini menjadi krusial untuk melakukan intervensi dini dan pencegahan.
"Guru-guru itu juga harus dibekali kemampuan untuk melihat, mendeteksi tanda-tanda radikalisme di lingkungan sekolah," tambahnya, menggarisbawahi pentingnya pelatihan bagi para guru.
Sinergi Sekolah dan Keluarga untuk Lingkungan Aman
Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang telah dibentuk di setiap sekolah juga memiliki peran penting dalam upaya ini. Satgas PPKS dapat memfasilitasi komunikasi antar-siswa dan menjadi mata serta telinga di lingkungan sekolah.
"Satgas PPKS di sekolah itu minimal harus tahu perubahan perilaku teman-temannya," tutur Yusuf, menjelaskan fungsi Satgas dalam memantau dinamika sosial siswa.
Keseimbangan antara pendidikan yang diberikan di rumah dan di sekolah harus dibangun secara harmonis. Hal ini bertujuan agar anak tidak hanya mengenal dunia luar, tetapi juga memahami serta menghargai lingkungan sekitarnya.
"Jangan sampai anak-anak itu kenal dunia luar, tapi tidak pernah tahu atau kenal dunia dalam," ujarnya, menekankan pentingnya pemahaman kontekstual bagi anak-anak.
Sumber: AntaraNews