Fakta Menarik: Indonesia dan Swiss Pererat Kerja Sama Ketenagakerjaan dalam Dialog Tripartit ke-5
Indonesia dan Swiss kembali menegaskan komitmen untuk memperdalam kolaborasi dalam meningkatkan kualitas ketenagakerjaan. Dialog Tripartit ke-5 ini membahas isu-isu krusial dan memperkuat Kerja Sama Ketenagakerjaan Indonesia Swiss.
Indonesia dan Swiss kembali menegaskan komitmen kuat mereka untuk memperdalam kolaborasi dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan daya saing tenaga kerja. Komitmen ini diperbaharui selama berlangsungnya Dialog Tripartit Ketenagakerjaan ke-5 antara perwakilan kedua negara pada Selasa (21/10).
Pertemuan penting ini diharapkan dapat melahirkan pendekatan inovatif dalam pengembangan SDM serta peningkatan kapabilitas tenaga kerja yang kompetitif di berbagai sektor. Sekjen Kementerian Ketenagakerjaan, Cris Kuntadi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini sangat vital untuk masa depan.
Dialog bilateral ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) kerja sama bidang ketenagakerjaan yang telah ditandatangani di Jenewa pada 18 Juni 2019. MoU tersebut memiliki masa berlaku hingga tahun 2029, menunjukkan komitmen jangka panjang kedua negara.
Meningkatkan Layanan Ketenagakerjaan Inklusif
Dalam pertemuan bilateral tersebut, perwakilan dari kedua negara mendiskusikan empat isu utama terkait ketenagakerjaan. Isu pertama berfokus pada layanan ketenagakerjaan publik yang ditujukan bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, pekerja muda, dan pekerja lansia.
Indonesia memaparkan inisiatif penting dalam mendigitalkan layanan ketenagakerjaan melalui platform SIAPKerja yang telah dikembangkan. Selain itu, pembentukan unit layanan disabilitas di 31 provinsi di seluruh Indonesia menjadi bukti nyata komitmen.
Cris Kuntadi menyatakan, "Indonesia menyoroti digitalisasi layanan ketenagakerjaannya melalui platform SIAPKerja dan pembentukan unit layanan disabilitas di 31 provinsi di seluruh negeri." Upaya ini bertujuan memastikan akses yang lebih mudah dan merata bagi semua lapisan masyarakat.
Strategi Adaptasi Menghadapi Masa Depan Pekerjaan
Isu kedua yang dibahas adalah masa depan pekerjaan, yang menuntut adanya peningkatan strategi upskilling dan reskilling tenaga kerja. Hal ini krusial untuk menghadapi perubahan industri yang cepat akibat digitalisasi, otomatisasi, dan transisi menuju ekonomi hijau.
Indonesia memiliki program "triple skilling" yang komprehensif, mencakup pelatihan vokasi, sertifikasi kerja, dan program magang nasional. Program ini dirancang untuk membekali tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan dan dibutuhkan pasar.
Inisiatif ini merupakan respons proaktif terhadap pergeseran lanskap pekerjaan global. Tujuannya adalah memastikan tenaga kerja Indonesia tetap kompetitif dan adaptif terhadap inovasi teknologi.
Kolaborasi dalam Energi Terbarukan dan Ekonomi Digital
Pada diskusi isu ketiga mengenai pengembangan keterampilan energi terbarukan (RESD), Indonesia dan Swiss sepakat untuk meningkatkan kerja sama. Kolaborasi ini akan difokuskan pada pelatihan dan sertifikasi untuk sektor energi terbarukan yang sedang berkembang pesat.
Isu terakhir membahas ekosistem ketenagakerjaan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan ekonomi platform. Kedua negara menegaskan kembali pentingnya koordinasi kebijakan ketenagakerjaan di tengah tantangan multilateral yang kompleks.
Selain itu, perlindungan bagi pekerja di sektor ekonomi digital juga menjadi fokus utama dalam pembahasan ini. Jerome Cosandey, Kepala Direktorat Ketenagakerjaan di Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi, menekankan pentingnya dialog tripartit antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk memastikan kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews