Disdik Sulbar Gandeng Mahasiswa KKN Perkuat Validasi Data Anak Tidak Sekolah di Polman
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Barat (Disdik Sulbar) melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak untuk memperkuat validasi data anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Polewali Mandar, memastikan tidak ada lagi anak usia sekolah yang t
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) telah mengambil langkah strategis dengan melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak dari Institut Hasan Sulur. Keterlibatan ini bertujuan untuk melakukan validasi data anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Polewali Mandar.
Kepala Disdikbud Provinsi Sulbar, Muhammad Nehru Sagena, menyatakan bahwa pelibatan mahasiswa KKN Berdampak ini merupakan upaya sinergis untuk mendukung program unggulan pemerintah daerah dalam penanganan ATS. Inisiatif ini juga mengintegrasikan peran aktif akademisi melalui program pengabdian masyarakat, sejalan dengan target wajib belajar 13 tahun yang mencakup pendidikan prasekolah hingga jenjang menengah atas.
Nehru Sagena menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menumbuhkan empati dan menyadari bahwa banyak anak di wilayah Sulbar, khususnya di Polewali Mandar, belum memiliki kesempatan pendidikan yang sama. Program KKN ini diharapkan tidak hanya sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan daerah.
Sinergi Akademisi Dukung Program Prioritas Daerah
Program KKN Berdampak yang diinisiasi oleh Disdikbud Sulbar ini memiliki misi khusus yang selaras dengan program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar. Fokus utamanya adalah pengentasan anak tidak sekolah (ATS) dan pencapaian target wajib belajar 13 tahun. Target ini mencakup satu tahun pendidikan prasekolah hingga jenjang pendidikan menengah atas, memastikan akses pendidikan yang merata bagi seluruh anak usia sekolah.
Muhammad Nehru Sagena mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak hanya menggugurkan kewajiban SKS, melainkan benar-benar memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa banyak anak di Kabupaten Polewali Mandar yang kurang beruntung dalam mendapatkan pendidikan yang layak.
Konsep KKN Berdampak sendiri menggarisbawahi bahwa kehadiran mahasiswa harus mampu membawa pengaruh positif dan terukur bagi masyarakat dan daerah. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada lagi anak usia sekolah antara 7-25 tahun yang berada di luar sistem pendidikan formal.
Identifikasi dan Rekonfirmasi Data ATS di Lapangan
Fokus utama para mahasiswa KKN nantinya adalah melakukan rekonfirmasi dan validasi data anak tidak sekolah (ATS) secara langsung di dua lokasi spesifik. Lokasi tersebut adalah Desa Laliko di Kecamatan Campalagian dan Kelurahan Takatidung di Kecamatan Polewali. Penentuan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan mendesak untuk mendapatkan data yang akurat dan terkini.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, para mahasiswa akan dibekali instrumen penting berupa formulir rekonfirmasi data khusus serta akun operator desa. Pembekalan ini bertujuan untuk memastikan bahwa data sekunder yang dimiliki oleh pemerintah dapat diverifikasi dan disesuaikan dengan fakta yang ditemukan di lapangan.
Nehru Sagena juga memberikan penjelasan mendalam mengenai berbagai kategori ATS yang harus diidentifikasi. Kategori tersebut meliputi kelompok anak yang putus sekolah, lulus tetapi tidak melanjutkan (LTM), hingga mereka yang sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan formal maupun nonformal.
Komitmen Bersama untuk Pendidikan Inklusif
Rektor Institut Hasan Sulur, Agusnia Hasan, menyampaikan komitmen penuh lembaganya dalam mendukung penuntasan masalah anak tidak sekolah (ATS) di Sulawesi Barat. Kerja sama antara Disdikbud Sulbar dan Institut Hasan Sulur ini diharapkan mampu menghasilkan data yang akurat.
Data yang akurat sangat krusial demi efektivitas intervensi kebijakan pendidikan di Sulbar. Dengan demikian, kehadiran mahasiswa KKN Institut Hasan Sulur diharapkan benar-benar memberikan dampak nyata dalam mengembalikan anak-anak kembali ke bangku sekolah.
Program KKN Berdampak sendiri merupakan inisiatif yang difokuskan pada pemberian kontribusi nyata, terukur, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik semata. Kegiatan ini mengintegrasikan keilmuan mahasiswa untuk menyelesaikan masalah lokal, mendukung pembangunan desa, dan menciptakan perubahan positif yang dirasakan langsung oleh warga. Hal ini mencakup peningkatan literasi, digitalisasi, kesehatan, dan ekonomi lokal.
Sumber: AntaraNews