Di Balik Peringatan May Day, Liburan dan Mengenalkan Perjuangan Buruh Sejak Dini pada Anak
Mengajak anak demo memperingati hari buruh menjadi cara buruh mengedukasi perjuangan kaum buruh.
Ribuan buruh pelbagai koalisi mulai memadati kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis (1/5) pagi. Sambil memakai kemeja warna-warni dari masing-masing federasi, mereka terlihat sambil bertegur sapa sesama rekan seperjuangan antar buruh.
Namun tidak bagi Budi Haryadi (44), warga asal Desa Bojot, Serang, Banten. Budi memilih bersama istri dan anak ikut merayakan peringatan hari buruh atau May Day di kawasan Monas.
Budi mengaku mengendarai motor datang ke lokasi demo buruh secara konvoi bersama rekan seperjuangan lainnya. Panas matahari yang kian terik tiap menitnya tak membuat Budi patah arang. Dia tetap ingin memperkenalkan perjuangannya sebagai buruh kepada anaknya yang masih menginjak umur lima tahun.
"Kita sebagai orangtua buruh mau mengajarkan anak kita biar tahu apa sih perjuangan buruh itu, kerja buruh itu, di samping itu kita juga harus kita tahu di hari buruh ini kita perjuangan buruh itu harus diprioritaskan bukan untuk kita pribadi tapi menyangkut keluarga juga," kata Budi kepada merdeka.com di Monas, Kamis (1/5).
Persiapan Demo
Sepekan sebelumnya, ayah satu anak itu sudah melakukan banyak persiapan untuk membawa sang buah hati dan istrinya yang juga berprofesi sebagai buruh.
Mulai dari air, snack, makan siang, hingga kebutuhan lain si kecil dibawanya. Tidak lupa payung untuk menutupi sinar panas matahari juga jadi bagian yang disiapkan.
Ini pengalaman pertama kali Budi membawa keluarganya ke acara hari peringatan May Day internasional.
"Sebetulnya kita selain May Day kita juga hari libur hari buruh, ini juga keluarga masih buruh juga lah, kita sekalian mengajak keluarga juga biar seru," tutur Budi.
Belum lagi, menurut Budi, pada peringatan hari buruh sedunia ini juga terasa spesial dengan kehadiran Presiden Prabowo Subianto membuatnya menaruh banyak harapan pada pemerintahan saat ini.
Kepada Prabowo, dia berharap agar berkenan mencabut Undang-Undang Omnibus Law yang selama ini dianggapnya membuat sengsara buruh.
"Ini momen yang paling tepat juga mengharapkan dengan kepemimpinan baru Presiden Prabowo, kira berharap untuk kesejahteraan buruh itu di maksimalkan artinya ditingkatkan," tegas Budi.
"Kan selama ini mungkin kita kurang maksimal, tujuan kita supaya dicabut masalah UU Omnibus Law yang secara kurang bagus kurang buruh," Budi menambahkan.