Densus 88 Ungkap Ada Anak di Jateng dan Kalbar Ingin Serang Sekolah Pakai Senjata Api
Dalam tayangan video yang dirilis Polri, seorang anak di Jepara terlihat memperagakan penggunaan senjata api di sekolah sebelum melakukan tindakan.
Densus 88 Antiteror Polri telah mengungkap fenomena ekstrimisme yang mengancam dunia pendidikan. Di Jepara, Jawa Tengah, serta di Singkawang, Kalimantan Barat, terdapat dua anak yang berencana melakukan serangan terhadap sekolah menggunakan senjata api dan bahan peledak. Salah satu anak yang berusia 14 tahun di Jepara terlibat dalam komunitas true crime yang mengusung paham ekstremis dan ideologi kekerasan.
"Ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jawa Tengah," ungkap Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana, dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Dalam konferensi pers tersebut, Mayndra menunjukkan video yang memperlihatkan anak tersebut melakukan simulasi penggunaan senjata api di lingkungan sekolah.
"Yang bersangkutan ingin menjadi trigger atau menjadi pelopor dari kekerasan yang dilakukan atas nama TCC (true crime community)," jelasnya. Meskipun telah dilakukan intervensi oleh Densus 88 dan kementerian/lembaga terkait, anak tersebut tetap menunjukkan keinginan untuk melakukan tindakan kekerasan.
Mayndra juga mengungkapkan bahwa anak ini pernah membawa pisau ke sekolah dan memiliki koneksi internasional dengan REDA, pendiri kelompok Berber Nationalist Third-positionist Group (BNTG) di Prancis.
Berbasis Daring
"Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Berber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis," tambahnya.
Selain di Jepara, Densus 88 juga melakukan intervensi terhadap anak-anak lain yang tergabung dalam komunitas true crime, termasuk seorang anak berusia 11 tahun di Singkawang, Kalimantan Barat.
"Cepat terdeteksi, kemudian dicegah," kata Mayndra. Anak tersebut diketahui merencanakan penyerangan di sekolah dengan menggunakan bahan peledak, senjata tajam, dan senjata api. Ia juga mengaku telah menyiapkan pisau di dalam tas sekolahnya, namun aksinya terhenti setelah ketahuan oleh gurunya.
Diduga, motivasi di balik tindakan kekerasan anak tersebut adalah karena dijauhi oleh teman-temannya serta keinginan untuk membalas dendam.